Tiga Faktor Pembeda Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia dan Brunei

Internasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Di tengah meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di berbagai negara, Brunei Darussalam justru tengah merayakan lebih dari 14 bulan sejak terakhir kali ditemui kasus penularan lokal di wilayahnya.

Terakhir dicatat 6 Mei tahun lalu, Brunei kini memegang rekor sebagai negara tanpa kasus lokal untuk periode waktu terpanjang di dunia. Adapun Brunei mencatat dua kasus positif dalam sepekan terakhir, namun keduanya ditemukan pada sepasang WNI yang tiba 27 Juni lalu.

Dari 282 kasus Covid-19 yang tercatat sejauh ini, 256 pasien di Brunei sudah dinyatakan sembuh sedangkan tiga lainnya meninggal dunia.

Meski letaknya berdekatan, Indonesia tengah menghadapi situasi yang bertolak belakang terkait penanganan pandemi Covid-19. Setelah menembus 50.000 kasus harian dan mencatat rekor kematian harian, Indonesia tampak belum kunjung pulih dari lonjakan kasus pasca lebaran.

Baca Juga: Berhasil mengatasi Corona, Inovasi apa yang dilakukan kota di Italia ini?

Dua minggu pemberlakuan PPKM Darurat pun terbukti belum mampu mengurangi penularan secara signifikan.

Bila ditinjau kembali, kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kedua negara terkait penanganan pandemi covid-19 sejatinya tidak jauh berbeda.

Mulai dari mengikuti pedoman WHO, menyaring kedatangan dari luar negeri, membatasi mobilitas masyarakat, merumuskan protokol kesehatan, mencanangkan program pemulihan ekonomi, hingga memberlakukan sanksi bagi para pelanggar telah sama-sama diberlakukan di kedua negara.

Lantas, apa yang membuat penanganan Covid-19 di Brunei lebih efektif? Berikut tiga faktor yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut.

Pertama; Kondisi Demografi

Secara demografis, kedua negara memiliki profil yang sangat berbeda. Dari segi kepadatan penduduk misalnya, Brunei jauh lebih rendah dengan 76 orang/km2 sedangkan Indonesia berada pada 142 orang/km2.

Baca Juga: Corona di Tanah Air Bisa Bertahan Hingga Tahun Depan

Angka ini tentu meningkat di daerah-daerah padat penduduk seperti pulau Jawa, dimana sebagian besar lonjakan kasus berlokasi.

Hal ini menjelaskan tingginya tingkat penularan di Indonesia mengingat kontak di tengah-tengah masyarakat akan jauh lebih sulit dicegah.

Luas wilayah Indonesia yang mencapai 1.904.569 km2 pun menimbulkan kesulitan dalam mengatasi persebaran kasus, menjangkau daerah-daerah yang memerlukan tindakan dan melakukan monitoring kebijakan ketimbang Brunei yang hanya memiliki wilayah seluas 5.765 km2.

Kedua; Ketahanan Ekonomi

Mengingat banyaknya kebijakan penanggulangan covid-19 yang bersifat kontraproduktif terhadap aktivitas bisnis dan mata pencaharian masyarakat, ekonomi pun menjadi salah satu sektor yang harus dikorbankan.

Baca Juga: Ada Varian  Corona yang Lebih Berbahaya, “Covidiot” Namanya

Di negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia, hal ini berdampak besar bahkan sangat memberatkan bagi sebagian masyarakat.

Akibatnya, banyak orang menggunakan alasan-alasan ekonomi untuk tidak mengindahkan protokol kesehatan dan tetap beraktivitas seperti biasa.

Di sisi lain, Brunei dikenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia berkat kepemilikan atas sumber daya minyak dan gas yang besar.

Jika pendapatan perkapita Indonesia berkisar di angka US$ 4.500, pendapatan perkapita Brunei bisa menembus angka US$ 32.000.

Baca Juga: Ingat, Vaksin Tak Cukup Mencegah Corona

Walaupun memiliki biaya hidup yang juga lebih tinggi, pemerintah Brunei memungut pajak dengan tarif yang lebih rendah serta memberikan subsidi pendidikan dan kesehatan untuk warganya.

Hal ini membuat dampak ekonomi yang dirasakan warga Brunei tidak sebesar di Indonesia dan memungkinkan mereka untuk mendukung program-program pemerintah tanpa terlalu khawatir akan kesejahteraan sendiri.

Ketiga; Sentralitas Sultan

Sebagai negara Islam yang menganut sistem pemerintahan monarki absolut, kepemimpinan Sultan Hassanal Bolkiah menjadi pusat dari semua aspek dalam kehidupan rakyat Brunei.

Negara demokratis seperti Indonesia di sisi lain, tidak memiliki sentralitas komando yang sama sehingga tidak jarang masyarakat mengacu pada pemerintah untuk masalah politik dan ekonomi namun tetap merujuk pada pihak-pihak lain untuk urusan agama, misalnya.

Perbedaan ini terlihat jelas pada dua kali bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang jatuh di masa pandemi sejauh ini.

Baca Juga: Hati-Hati, Varian Delta Menular Bahkan Tanpa Kontak Fisik

Jika di Indonesia selalu terjadi lonjakan kasus, himbauan Sultan Bolkiah kepada masyarakat untuk beribadah di rumah dan tetap mengindahkan protokol kesehatan terbukti efektif mengendalikan jumlah kasus Covid-19 di Brunei pada kedua momen tersebut.

Hal ini dijelaskan oleh peneliti William Case dan Nadia Azierah Hamdan dari Universitas Nottingham Malaysia melalui artikel Behind Brunei’s Covid-19 Success Story.

Selain berkat sistem yang meniadakan hambatan birokratis dalam pengambilan kebijakan, Sultan Bolkiah juga dianggap mampu menunjukan kepemimpinan moral kepada rakyatnya.

Budaya kepatuhan dan kesetiaan terhadap sultan inilah yang dinilai krusial dalam menjaga disiplin masyarakat sehingga memungkinkan penanganan pandemi Covid-19 yang efektif di Brunei.

Foto : Reuters

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of