Eposdigi.com – Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program unggulan dan ambisius dari Kabinet Merah Putih, pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program ini mulai di-launching bulan Januari tahun 2024. Itu berarti, program ini sudah berjalan 1 tahun 8 bulan lebih. Per bulan Agustus, jumlah penerima manfaat sudah mencapai 8,2 juta orang.
Tujuan dari program ini adalah meningkatkan nutrisi anak-anak dan ibu hamil, mencegah stunting pada balita dan anak-anak, meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar anak sekolah, mengurangi beban ekonomi keluarga dan menggerakkan ekonomi lokal termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
Baca Juga:
Kini pemerintah mulai menyadari bahwa implementasi program ambisius MBG ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan pada awalnya. Masih ada banyak masalah yang melilit implementasi program ini, yang menyebabkan tujuan utama program ini menjadi sulit terwujud.
Di antaranya masalah keracunan massal akibat tidak higienis kualitas bahan baku, kualitas makanan yang tidak konsisten, perencanaan yang terburu-buru, masih minimnya dan belum jelasnya regulasi, ketidak jelasan tata kelola, pengawasan yang lemah di lapangan dan masalah transparansi anggaran di level Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Untuk mempermudah pencapaian tujuan MBG masalah-masalah ini harus diatasi oleh pemerintah. Dalam rangka upaya tersebut, tulisan ini mencoba menyajikan pengalaman China yang telah lebih dahulu melaksanakan program MBG sejak tahun 2011. Harapannya bisa menjadi referensi bagi para pelaku dalam implementasi program MBG di Indonesia.
Baca Juga:
Kepala BGN; Inilah Faktor Penyebab Siswa Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis
Tulisan pada bagian berikut mengacu pada tulisan Melisa Mailoa berjudul MBG Ala China, Bikin Anak Kenyang dan Bahagia dan beberapa sumber lain termasuk sumber primer, Xinhua dan China Daily.
Gambaran MBG ala China
Di China program MBG diluncurkan sejak November 2011 dengan nama Nutrition Improvement Program for Rural Compulsory Education Students (NIPRCES). Sasaran utamanya adalah anak TK, siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama (usia 4-15 tahun) di wilayah pedesaan.
Sejak program ini diluncurkan, setiap hari anak-anak desa menunggu hidangan dengan antusias yang bagi anak-anak desa adalah sebuah kemewahan yang sulit mereka bayangkan sebelumnya. Dalam implementasinya, program ini melibatkan kepala sekolah dan guru serta orang tua murid di masing-masing sekolah.
Baca Juga:
Pemerintah Amerika Serikat Larang Mahasiswa Asing Belajar di Harvard University?
Selain pencapaian tujuan yang didorong oleh pemerintah seperti perbaikan gizi anak-anak di desa-desa, keterlibatan Kepala Sekolah, Guru dan Orang Tua murid dalam pengelolaan program memungkinkan tujuan lain tercapai. Mereka ingin, anak-anak tidak hanya kenyang oleh makanan bergizi tetapi juga bahagia.
Hidangan yang mereka sajikan melalui program ini berupa sayuran yang disajikan bervariasi menurut musim berupa aneka sayuran hijau dan kol. Untuk karbohidrat dalam menu mingguan sekolah diarahkan menggunakan bahan makanan lokal seperti nasi, kentang manis, jagung, ubi.
Sedangkan lauk untuk memenuhi unsur protein hewani dianjurkan menyajikan daging ayam, bebek, telur ayam dan aneka protein nabati seperti tahu, kacang-kacangan. Pemerintah mewajibkan sekolah menerapkan standar nasional berupa 25 jenis makanan berbeda dalam seminggu.
Baca Juga:
Selain menyediakan makan siang, sekolah juga wajib menyediakan cemilan sore yang juga ditunggu-tunggu anak-anak setiap hari berupa ubi manis, kentang, jagung kukus atau panggang ditambah buah-buah segar.
Pemerintah mewajibkan sekolah pelaksana program, memprioritaskan penggunaan bahan baku dari hasil pertanian lokal agar tersedia bahan baku yang segar, selain untuk mendukung dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Semua hidangan diawasi penggunaan bahan bakunya, porsinya diukur sesuai dengan kebutuhan anak-anak, rantai pasoknya dipantau untuk menjamin kesegarannya. Selain itu dihidangkan secara menarik untuk menarik minat anak-anak. Dalam rangka pengawasan nutrisi, sekolah wajib mengunggah bahan baku dan foto anak sedang makan di platform.
Baca Juga:
Pendidikan Holistik dan Pelajaran Olahraga dalam Kurikulum Indonesia dan China
Pengawasan Pemerintah China
Guna pengawasan implementasi program ini, pemerintah China mengeluarkan pedoman untuk sekolah penerima program. Pedoman tersebut mencakup pengelolaan keuangan, standar nutrisi, keamanan makanan dan kewajiban sekolah mendokumentasikan menu harian, dengan mengunggah foto hidangan agar bisa dipantau publik dan otoritas.
Sebagai hasil dari pengawasan implementasi program, pada tahun 2024 otoritas menangkap dan menghukum 1.200 orang pelaksana program yang terbukti menyelewengkan dana untuk program ini.
Meskipun sudah dipandu dengan pendoman implementasi, namun pada tahun 2025 terjadi juga kasus keracunan yang membuat 230 anak dilarikan ke rumah sakit . Diduga, anak-anak tersebut mengkonsumsi makanan yang tercemar timbal tinggi. Timbal adalah zat yang biasa digunakan dalam industri cat.
Baca Juga:
Pendidikan Holistik dan Pelajaran Olahraga dalam Kurikulum Indonesia dan China
Dari hasil penyelidikan kasus ini juga ditemukan bahwa petugas laboratorium dari rumah sakit setempat, memalsukan hasil tes darah untuk menutupi skandal tersebut. Dua temuan ini disebut sebagai insiden terburuk terkait keamanan pangan dan implementasi program ini di China.
Buntut dari insiden ini, aparat menangkap 6 orang staf sekolah yang diduga terlibat dan memeriksa 27 orang lainnya. Mereka yang diperiksa terdiri dari staf sekolah, tenaga medis, dan pejabat setempat. Oleh karena itu UNICEF mendesak China memperbaiki sistem keamanan pangan terkait program ini.
Sebagai upaya perbaikan program Makan bergizi, pada Juli 2025 yang lalu, pemerintah mengumumkan standar baru sebagai pedoman nasional untuk penyedia layanan makan sekolah, yang baru akan berlaku pada bulan Desember tahun 2025 ini.
Baca Juga:
Standar baru tersebut mewajibkan pengelola program makan bergizi menunjuk petugas keamanan penuh waktu yang bertugas melakukan inspeksi harian, dan membuat analisis resiko bulanan. Standar tersebut juga mengharuskan setiap menu yang akan disajikan disertai laporan uji laboratorium, yang wajib disimpan minimal 48 jam.
Selain itu, standar tersebut juga mewajibkan setiap dapur harus mengumumkan semua proses kunci dan berbasis internet, yang memungkinkan otoritas dan orang tua memantau proses penyediaan bahan baku, dan proses memasak lewat layar. Ketentuan lain dari standar tersebut adalah pengelola dapur wajib membeli bahan baku pada pemasok yang ditunjuk.
Pada standar baru tersebut juga Kementerian Pendidikan China menegaskan bahwa Kepala Sekolah memiliki tanggung jawab langsung. Ia diwajibkan melakukan pengawasan langsung anggaran belanjanya, menerima masukan dari orang tua setiap semester dan duduk makan bersama anak setiap hari.
Baca Juga:
Kini bagi China program makan siang bukan sekedar makan siang, namun telah menjadi jembatan bagi anak-anak pedesaan China menuju hari-hari sekolah yang lebih bersemangat, tubuh anak-anak yang lebih sehat dan harapan masa depan yang lebih baik. Ternyata perubahan bisa diupayakan melalui sepiring makan bergizi di meja sekolah.
Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan ke China juga mengunjungi sekolah di China untuk meninjau pelaksanaan program Makan Siang Gratis di sana. Mudah-mudahan implementasi program MBG di Indonesia segera diperbaiki sehingga menjadi investasi untuk mewujudkan generasi emas di 2045 yang akan datang.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto: en.people.cn
Leave a Reply