Eposdigi.com – Hingga kini, banyak pengelola sekolah dalam promosi sekolah mengklaim sekolah mereka menerapkan pendekatan holistik dalam pengembangan sekolah. Namun ketika klaim tersebut dibongkar satu persatu, nampak bahwa klaim seperti itu ternyata tidak selalu didukung oleh fakta.
Setidaknya untuk mengupayakan pendekatan holistik, ada dua aspek pengembangan penting pada peserta didik yang harus menjadi perhatian pengelola sekolah secara seimbang. Ada aspek pengembangan jasmani dan ada aspek pengembangan rohani pada peserta didik.
Untuk pengembangan rohani, aspek mental melalui proses akademis pada semua mata pelajaran. Ada proses penguasaan pengetahuan, dengan semua ranahnya, mulai dari mengingat sampai kreativitas atau daya cipta sebagai ranah yang paling mengembangkan peserta didik, dengan penggunaan jam pelajaran yang berlimpah ruah.
Sedangkan pengembangan jasmani peserta didik tidak mendapat jumlah jam pelajaran dengan seimbang. Lihat saja, pelajaran olah raga dan sedikit pelajaran seni mendapat jumlah jam dalam seminggu yang sangat terbatas. Dua mata pelajaran ini hanya boleh menggunakan dua jam pelajaran dalam seminggu untuk pengembangan jasmani.
Baca Juga:
Lihat saja, pelajaran olah raga, hanya boleh menggunakan dua jam pelajaran untuk pengembangan fisik peserta didik. Itupun lebih bersifat akademis, atau lebih berkaitan dengan penguasaan pengetahuan. Masih sangat kurang latihan ke arah olah jasmani yang harusnya sangat diperlukan oleh tubuh.
Pelajaran olahraga yang menggunakan hanya dua jam pelajaran dalam seminggu tersebut, dan yang lebih bersifat akademis tersebut, sangat tidak berhasil mendorong peserta didik untuk menumbuhkan kesadaran tentang betapa pentingnya olah jasmani, olahraga, karena berdampak pada bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.
Oleh karena itu, pelajaran olahraga yang diikuti selama bertahun-tahun sejak Sekolah Dasar (SD), hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), kurang lebih 12 tahun, tidak berhasil menanamkan kesadaran bagi peserta didik bahwa rutin melakukan latihan fisik mandiri sangat diperlukan untuk kesehatan fisik dan mental.
Ini bukan hanya menandakan kegagalan menerapkan pendidikan holistik bagi sekolah-sekolah yang mempromosikan pendidikan holistik, melainkan merupakan salah satu bukti kegagalan pendidikan secara keseluruhan.
Baca Juga :
Mengapa olahraga sangat penting?
Salah satu tujuan dari pendidikan holistik adalah agar peserta didik pada akhirnya dapat mengalami hidup sehat dan seimbang sebagai pribadi. Ini tidak terlepas dari gaya hidup sehat yang terdiri dari makan makanan sehat, olahraga rutin, dan istirahat yang cukup.
Di sini olahraga rutin dapat menjadi simpul penting dari pola makan sehat dan istirahat yang cukup, karena pada saat olahraga, otak memproduksi neurotransmitter seperti serotonin yang berperan mengatur suasana hati, siklus tidur, nafsu makan, dan proses pencernaan lambung.
Pada saat olahraga, otak juga memproduksi neurotransmitter lain yakni dopamin yang berperan dalam mekanisme motivasi, mekanisme penghargaan, mekanisme kontrol gerak tubuh, dan daya ingat. Selain dopamin pada saat olahraga otak juga memproduksi neurotransmitter lain yakni glutamat.
Glutamat adalah neurotransmitter eksitatorik utama di otak yang berperan dalam proses belajar dan pembentukan memori manusia. Selain Glutamat, pada saat olahraga otak juga memproduksi neurotransmitter lain yakni GABA. GABA membantu mengurangi aktivitas neuron yang berlebihan dan menekan sistem syaraf.
Baca Juga:
Proses ini tidak hanya terjadi selama kita berolahraga, tetapi juga beberapa saat setelah kita berolahraga. Selain itu, pada saat olahraga, tingkat adrenalin meningkat sehingga jantung berdetak lebih cepat. Kapiler di otot terbuka lebih lebar dan sehingga meningkatkan aliran darah di jantung bahkan hingga 20 kali lipat.
Hal yang sama juga terjadi di paru-paru. Pada saat olahraga, otot tulang rusuk membantu diafragma menarik oksigen hingga 15 kali lebih banyak dibandingkan pada saat tidak berolahraga. Pernafasan pada saat olahraga menjadi lebih cepat tetapi juga lebih dalam selama olahraga.
Proses yang terjadi di otak, yang kita bicarakan sebelumnya, dapat terjadi karena aliran darah yang mendistribusikan nutrisi dan oksigen ke otak. Orang yang rutin berolahraga, aliran darah yang mendistribusikan nutrisi dan oksigen akan lebih lancar daripada orang yang tidak rutin berolahraga.
Oleh karena itu, pendidikan holistik harusnya memberi porsi yang seimbang bagi pelajaran olah raga. Di Indonesia pendidikan olahraga masih sangat akademis karena meskipun peserta didik belajar selama 12 tahun tetapi, kesadaran bahwa salah satu cara mengupayakan hidup sehat adalah melalui olahraga rutin, belum terbentuk.
Baca Juga:
Konten Anomali Media Sosial dan Dampaknya bagi Pertumbuhan Anak dan Remaja Kita
Pelajaran Olahraga di China
Kementerian Pendidikan China sejak tahun 2007 merilis program yang mereka sebut Sunshine Physical Education. Ini adalah bagian dari upaya mengusahakan pendekatan pendidikan yang lebih holistik yang menggabungkan pengembangan kebugaran jasmani dan pengembangan kemampuan akademis.
Selain itu juga karena kegiatan fisik di luar ruangan dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental peserta didik. Oleh karena itu dalam program ini, setiap peserta didik di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah diwajibkan melakukan latihan fisik selama 1 jam setiap hari di sekolah.
Lebih dari itu, kehadiran program ini dalam kurikulum China juga untuk mengatasi dampak buruk gaya hidup modern yang dinilai menyebabkan 15 persen anak dan remaja umur 10-12 tahun mengalami obesitas dan 58 persen mengalami rabun jauh. Bahkan jumlah kasus rabun jauh di level SMA dan mahasiswa lebih dari 76 persen.
Oleh karena itu program ini selain sebagai upaya pembentukan gaya hidup sehat tetapi juga secara praktis diandalkan oleh pemerintah China untuk mengatasi masalah obesitas dan masalah rabun jauh tersebut. Program kemudian tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah tetapi juga orang tua, karena latihan fisik tambahan juga diperlukan di luar sekolah.
Baca Juga:
Masih Tentang Bagaimana Membentuk Rasa Percaya Diri Pada Anak
Bahkan belakangan pelajaran olahraga yang lebih intensif juga dikaitkan dengan pertahanan negara. Sebuah badan yang dekat dengan Kementerian China mengusulkan agar anak laki-laki perlu digembleng dengan latihan fisik yang lebih intensif akibat sehari-hari anak laki-laki didik oleh sebagian besar guru perempuan.
Selain itu, juga sebagai akibat dari kebijakan, “satu anak” dari pemerintah dalam beberapa dekade, orang tua di China cenderung sangat memanjakan anak laki-lakinya. Oleh karena itu banyak anak laki-laki menjadi terlalu halus, pemalu bahkan feminin.
Seorang pengguna media sosial Weibo seperti dilansir VOA, yang setuju pada gagasan Pemerintah mengintensifkan latihan fisik setiap hari mengatakan, “Sulit membayangkan anak-laki-laki yang feminin seperti itu dapat mempertahankan negara mereka ketika ada invasi dari luar.”
Untuk melaksanakan program ini, secara nasional China ternyata mengalami kekurangan guru olahraga sebanyak 120. 000. Oleh karena itu, China kemudian merekrut mantan atlet untuk menjadi guru olahraga untuk mengisi kekosongan tersebut. Di China guru olah raga adalah profesi yang sama penting dengan guru bidang studi lainnya.
Baca Juga:
Negara-negara ini Membatasi Penggunaan Ponsel Pintar di Sekolah. Indonesia Bagaimana?
Itulah gambaran tentang pentingnya pelajaran olahraga dalam kerangka gagasan pendidikan holistik yang di Indonesia baru dipromosikan oleh para pengelola sekolah. Sedangkan di China, pendidikan holistik sungguh diusahakan di antaranya dengan menempatkan pelajaran olahraga pada tempat yang seharusnya.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari redaksi / Foto: chinadaily.com.cn
Leave a Reply