Eposdigi.com – “Di Pulau Adonara, kematian yang salah alamat bukan sekadar cerita tragis; namun realitas sosial yang sesekali muncul dalam berita tentang bentrokan antar kampung. Konflik semacam ini sering dipicu oleh sengketa tanah ulayat yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat adat Lamaholot” (Barnes, 1996).
Di pulau kecil di ujung timur Flores ini, tanah tidak sekedar dipahami sebagai ruang geografis, lahan usahatani yang dapat diukur melalui peta, lalu didokumentasikan sebagai sertifikat negara.
Tanah adalah nilai martabat yang tersimpan dalam memori kolektif, identitas suku, dan simbol kehormatan leluhur.
Baca Juga:
Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital
Dalam kosmologi masyarakat Lamaholot, relasi manusia dengan tanah bahkan berkaitan dengan keseimbangan kosmik antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi yang dikenal dengan konsep “Lera Wulan Tanah Ekan” (Arndt, 1951; Barnes, 1996).
Karena itu, ketika tanah dipersoalkan, yang dipertaruhkan bukan hanya lahan, tetapi juga martabat komunitas.
Konflik tanah dapat dengan cepat berubah menjadi konflik identitas kolektif karena tanah dianggap sebagai warisan leluhur yang tidak boleh dilepaskan begitu saja.
Dalam masyarakat dengan solidaritas komunal yang kuat, persoalan tanah sering kali menjadi simbol kehormatan kelompok (Peluso & Lund, 2011).
Tidak mengherankan jika dalam percakapan masyarakat lokal kadang muncul ungkapan pahit: Adonara sebagai “pulau pembunuh.”
Baca Juga:
Ungkapan ini bukan gambaran literal tentang karakter masyarakatnya, melainkan metafora sosial yang lahir dari sejarah konflik yang panjang di wilayah tersebut.
Jejak Sejarah Sebuah Label
Label “pulau pembunuh” pertama kali populer melalui catatan etnografis antropolog Jerman Ernst Vatter dalam bukunya “Ata Kiwan” yang terbit pada tahun 1932.
Berdasarkan pengamatannya di Kepulauan Solor dan Flores Timur pada akhir 1920-an, Vatter mencatat bahwa di wilayah Hindia Belanda bagian timur hampir tidak ada tempat lain dengan tingkat pembunuhan yang dilaporkan sebanyak di Adonara (Vatter, 1932).
Menurut Vatter, konflik balas dendam antar keluarga atau antar kampung pada masa itu merupakan bagian dari dinamika sosial masyarakat setempat.
Baca Juga:
Bahkan ia mencatat bahwa banyak kasus kekerasan yang dibawa ke pengadilan kolonial di Larantuka berasal dari wilayah Adonara (Vatter, 1932).
Namun penting dipahami bahwa deskripsi tersebut lahir dari perspektif kolonial. Banyak kajian antropologi modern menunjukkan bahwa masyarakat Lamaholot memiliki sistem nilai yang kompleks yang justru menekankan keseimbangan kosmos dan harmoni sosial melalui adat dan ritual (Arndt, 1951).
Dengan kata lain, label “pulau pembunuh” lebih merupakan refleksi sejarah konflik tertentu daripada karakter budaya masyarakat Adonara secara keseluruhan.
Sejarah Konflik Kampung di Flores Timur
Sejarah konflik antar kampung di Flores Timur dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-19. Pada masa itu wilayah Kepulauan Solor–Adonara terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki hubungan politik dan perdagangan yang kompleks dengan Portugis dan Belanda (Barnes, 1996; Hägerdal, 2019).
Struktur politik lokal yang relatif otonom membuat konflik antar komunitas sering terjadi, terutama terkait perebutan wilayah ladang, sumber daya alam, atau sengketa genealogis antar suku.
Konflik semacam ini sering melibatkan solidaritas kolektif komunitas karena masyarakat pedesaan di wilayah ini memiliki ikatan kekerabatan yang sangat kuat (Erb & Widyawati, 2017).
Dalam beberapa kasus, konflik antar kampung bahkan dilakukan melalui mekanisme yang dikenal sebagai perang tanding, yakni pertempuran terbuka antara dua kelompok yang bersengketa.
Baca Juga:
Ibu dan Tanah: Hermeneutika Fenomenologi Atas Makna Konflik Dalam Budaya Adonara
Kedua pihak biasanya menentukan waktu dan tempat pertarungan serta menggunakan senjata tradisional seperti parang, tombak, dan panah (Molan, 2012).
Perang tanding tidak selalu dimaksudkan sebagai perang pemusnahan. Dalam logika sosial tradisional, praktik ini sering dipandang sebagai cara untuk menentukan kebenaran klaim atas tanah atau kehormatan komunitas.
Namun di balik logika sosial tersebut, selalu ada konsekuensi tragis, dimana nyawa manusia menjadi taruhan untuk membuktikan siapa yang benar.
Tanah dalam Perspektif Konflik Agraria
Jika dilihat dari perspektif ilmu sosial kontemporer, konflik tanah di Adonara tidak dapat dipahami hanya sebagai sengketa lokal.
Dalam kajian critical agrarian studies, konflik tanah sering muncul karena perebutan legitimasi atas ruang hidup dan kontrol terhadap sumber daya agraria (Peluso & Lund, 2011).
Baca Juga:
Nancy Peluso dan Christian Lund menjelaskan bahwa konflik agraria biasanya melibatkan pertarungan antara berbagai sistem legitimasi, yakni hukum negara, hukum adat, dan kekuatan sosial komunitas lokal.
Di banyak masyarakat adat, hak atas tanah didasarkan pada memori genealogis dan sejarah leluhur. Sebaliknya, dalam sistem negara modern, legitimasi tanah biasanya ditentukan oleh dokumen formal seperti sertifikat.
Ketika dua sistem legitimasi ini bertemu tanpa mekanisme mediasi yang kuat, konflik mudah sekali muncul.
Kajian konflik agraria juga menunjukkan bahwa kekerasan sering terjadi ketika sengketa tanah telah berubah menjadi konflik identitas kolektif.
Baca Juga:
Mencegah Konflik Antar Warga di Adonara Sebelum Terjadi (Lagi)
Ketika tanah menjadi simbol kehormatan komunitas, konflik tanah dapat memicu mobilisasi solidaritas kampung (Edelman & Borras, 2016).
Fenomena ini terlihat jelas dalam banyak konflik antar kampung di Adonara.
Solidaritas Kampung dan Ledakan Kekerasan
Ketika konflik tanah terjadi, yang bergerak bukan hanya individu yang bersengketa, tetapi seluruh kampung.
Solidaritas komunal yang sebenarnya merupakan kekuatan sosial masyarakat pedesaan sering berubah menjadi energi konflik. Individu yang tidak mengetahui akar sengketa pun dapat ikut terlibat karena merasa memiliki kewajiban moral untuk membela kampungnya.
Dalam dinamika seperti ini, konflik kecil dapat berkembang menjadi kekerasan kolektif.
Baca Juga:
Bentrokan yang dikenal sebagai perang tanding sering lahir dari dinamika tersebut dan dalam beberapa kasus modern masih terjadi, bahkan menimbulkan korban jiwa dalam konflik tanah antar warga (Medan, 2005; Molan, 2012).
Kematian yang Salah Alamathttps://www.eposdigi.com/2020/06/05/kearifan-lokal/perang-tanding-kriminalitas-dan-perdamaian-di-adonara/
Tragedi terbesar dari konflik seperti ini adalah kenyataan bahwa korban sering kali bukan sekutu para pihak atau yang memulai sengketa.
Seorang pemuda bisa kehilangan nyawa hanya karena ia berdiri di barisan kampungnya.
Seorang petani bisa terluka hanya karena kebetulan berada di lokasi konflik.
Kematian menjadi salah alamat oleh karena nyawa melayang bukan karena kesalahan pribadi, tetapi karena seseorang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Dalam perspektif konflik agraria, tragedi seperti ini menunjukkan kegagalan sistem sosial dalam mengelola sengketa tanah secara adil dan damai (Peluso & Lund, 2011).
Baca Juga:
Perang Historis Adonara : Kopong Medan dan Adonara yang Terus Berperang
Tanah yang Mengingatkan Kita
Sejarah tentang Adonara sebagai “pulau pembunuh” seharusnya tidak dibaca sebagai stigma terhadap masyarakatnya.
Sebaliknya, ia adalah peringatan sejarah bahwa konflik yang tidak diselesaikan dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Tanah yang diwariskan leluhur seharusnya menjadi sumber kehidupan.
Namun ketika tanah berubah menjadi kebenaran yang absolut, ia juga dapat menjadi sumber kematian.
Barangkali di sinilah paradoks terbesar itu berada, bahwa manusia bertarung demi mempertahankan tanah leluhur, tetapi justru kehilangan sesuatu yang paling berharga adalah kehidupan manusia itu sendiri.
Jika tanah adalah ibu yang melahirkan kehidupan, maka setiap darah yang tertumpah di atasnya sesungguhnya adalah luka bagi tanah itu sendiri.
Baca Juga:
Perang Historis Adonara : Future without War, but Warriorship
Dan mungkin, masa depan Adonara tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat dalam perang tanding, tetapi oleh siapa yang paling berani menghentikan lingkaran sejarah kekerasan itu.
Leave a Reply