Enam Filosofi Keseimbangan Hidup Ala Jepang

Internasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Ibarat bersepeda, butuh keseimbangan untuk terus bergerak maju. Keseimbangan saat bersepeda biasanya terjaga saat kita tetap mengayuh. Keseimbangan dan usaha untuk terus bergerak maju ibarat sebuah koin.

Begitu juga dengan hidup. Dalam usaha untuk tetap bergerak maju dan bertumbuh kita membutuhkan keseimbangan hidup. Ketika kita dapat memberi porsi yang sama pada berbagai aspek kehidupan yang memungkinkan kita untuk terus tumbuh berkembang menjadi semakin manusiawi.

Seperti usaha untuk terus mengayuh maju sepeda, kita pun membutuhkan energi, sekaligus kemampuan untuk mendistribusikan energi secara merata di antara fisik, mental dan emosional.

Karena itu, energi harus terus terisi agar gerak pertumbuhan menjadi tidak terhambat. Kita bisa belajar dari orang-orang Jepang untuk menjaga energi kita. Filosofi Jepang berikut ini bisa kita contohi untuk menjaga keseimbangan hidup sekaligus memastikan energi terus ada untuk membantu kita terus tumbuh.

Baca Juga:

Ukeireru: Filosofi Jepang Untuk Berdamai dengan Perubahan

Pertama: Ikigai. Hasrat untuk terus bergerak maju, ketika kita sudah menemukan atau mendefinisikan makna atau tujuan kehidupan. Passion atau apa yang menjadi tujuan sekaligus alasan ia hidup menjadi pemicu semangat agar seorang terus bergerak maju.

Ikigai tidak hanya soal tujuan seseorang melakukan sesuatu untuk tujuan jangka pendek. Ikigai adalah kepenuhan hidup. Nilai kehidupan yang mendorong seseorang untuk terus bergerak maju apapun rintangan dan tantangan yang menghalangi jalannya.

Tidak hanya itu, Ikigai juga merupakan filosofi keseimbangan hidup. Ketika kewajiban, kesenangan hidup sekaligus tanggung jawab sosial diletakan dalam porsi yang seimbang demi keharmonisan hidup.

Kedua: Ketika Ikigai sudah terdefinisikan, tidak bisa kita pungkiri jika dalam perjalanan kita menemukan hambatan-hambatan yang mengakibatkan kita harus sedemikian cepat untuk menyesuaikan gerak tantangan tersebut.

Baca Juga:

Temuan Peneliti Jepang : Metode Tercepat Menenangkan Bayi yang Menangis

Filosofi kedua yang bisa kita tiru dari orang-orang Jepang adalah Kaizen. Kaizen adalah perubahan terus menerus dan pertumbuhan berkelanjutan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan yang dihadapi.

Bahwa apapun tantangan yang merintangi jalan, kita membutuhkan keluwesan dan respon yang paling cepat dan tepat untuk menyesuaikan diri melalui pembelajaran tanpa henti. Inti dari Kaizen adalah perubahan terus menerus, melalui hal-hal kecil, terukur namun tetap dilakukan secara konsisten sepanjang hayat.

Tiga: Teknik Pomodoro. Kita bukan robot. Tubuh juga butuh istirahat yang cukup untuk memastikan energi kita terisi kembali. Pomodoro oleh banyak sumber dikatakan berasal dari Jepang. Sumber lainnya mengatakan bahwa pomodoro adalah bahasa Italia.

Kita kesampingkan akar katanya. Pomodoro merupakan cara memberi jedah pada rutinitas kita, dengan cara menyediakan waktu istirahat sebentar untuk terus menjaga energi kita agar terus ada dan tidak kehabisan daya.

Baca Juga:

Belajar Mitigasi Bencana Alam dari Jepang

Banyak sumber menyebutkan 25 menit fokus bekerja dan jeda 5 menit berikutnya untuk beristirahat sambil mengisi kembali energi. Namun pada akhirnya setiap kita pasti akan menemukan interval waktu yang paling cocok untuk setiap pribadi masing-masing. Mana interval yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.

Empat : Hara Hachi Bu. Orang Jepang tidak makan sampai kenyang 100 %. Mereka menyisihkan 20 % ruang di dalam perut. Ini adalah filosofi untuk mendengarkan tubuh sendiri. Sekaligus mengajarkan kepada kita soal pengendalian diri.

Hara Hachi Bu bukan hanya sekedar soal kenyang perut. Hara Hachi Bu juga merupakan kepekaan untuk mawas diri. Memberi porsi yang paling pas terhadap kesenangan ragawi. Menekan sifat hedonis sekaligus kepekaan untuk memikirkan dan peduli pada kebutuhan orang lain.

Lima: Shoshin. Keingintahuan dan niat untuk belajar untuk menguasai sesuatu biasanya muncul dari orang-orang baru yang diberi tanggung jawab untuk itu. Shoshin mengajarkan kita untuk memiliki hasrat untuk belajar seperti para pemula.

Baca Juga:

Ini Lima Kebiasaan Positif yang Menjadikan Jepang Bisa Maju

Menempatkan diri sebagai seorang pemula membuat kita tergerak untuk terus belajar dan sekaligus menjadi lebih rendah hati terhadap hal-hal baru. Shoshin menuntun kita untuk semangat belajar hingga menjadi benar-benar mahir.

Dan yang ke enam: Wabi-Sabi. Tidak ada yang sempurna. Kita Pun demikian. Wabi-Sabi adalah tuntunan agar kita dapat menemukan kesempurnaan pada segala situasi. Wabi-Sabi memberi penekanan pada kesederhanaan, ketidaksempurnaan, ketenangan alami dalam kehidupan.

Wabi-Sabi menuntun kita untuk menemukan dan merenungkan keindahan dalam setiap ketidaksempurnaan. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak tunduk pada keinginan akan kesempurnaan materialism.

Baca Juga:

Di Jepang, Usia Harapan Hidup yang teramat Panjang, Bisa Jadi Masalah Serius

Wabi-Sabi juga menuntun kita untuk rendah hati dan menerima diri apa adanya, melihat semua ketidaksempurnaan dalam diri kita sendiri dan orang lain sebagai sebuah keindahan yang paripurna.

Keenam filosofi yang ditawarkan oleh orang-orang Jepang ini bisa menjadi tuntunan dalam hidup kita untuk terus tumbuh semakin manusiawi hari demi hari.

Foto Ilustrasi dari wqa-apac.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of