Eposdigi.com – Kebutuhan akan beras di flores Timur masih menjadi persoalan yang serius. Persoalannya klasik. Tingkat produktivitas beras lokal, tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Flores Timur.
Flores Timur, membutuhkan 30.000-an ton beras pertahun. Sementara tingkat produksi beras lokal hanya berada pada kisaran 14.000 hingga 15.000 ton saja.
Artinya bahwa, produksi beras lokal Flores Timur hanya mampu membuat masyarakat kenyang selama setengah tahun saja. Enam bulan sisanya beras harus diimpor dari luar daerah.
Yunus Mukin, Analis Ketahan Pangan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur mengungkapkan kepada kompas.com bahwa tingkat produksi beras di Flores Timur dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya iklim dan topografi lahan.
Baca Juga:
Faktor-Faktor Berikut ini Yang Menjadi Penyebab Kelangkaan Bahan Pangan
“Flores Timur itu lebih banyak lahan kering. Sementara lahan basah hanya sekitar 500 hektar dan itu hanya di beberapa titik seperti Kecamatan Wulanggitang, Titehena, Tanjung Bunga, Adonara Barat, Adonara dan Adonara Timur,’ terang Yunus kepada kompas.com(06.07.2024).
Karenanya Flores Timur, selain mendapat beras bantuan dari pemerintah dlam bentuk raskin (beras miskin), setiap tahun masih harus mengimpor beras dari luar daerah terutama dari Makasar Sulawesi Selatan.
Pada tulisan kemarin, juga sudah kita singgung bahwa kelangkaan beras di seluruh Indonesia disebabkan oleh tiga faktor utama. Antara lain: karena cuaca ekstrim, juga karena tingkat produksi yang menurun dan pada saat yang sama petani juga mengalami kesulitan-kesulitan sehingga tingkat produktivitasnya menurun.
Di Flores Timur, rasanya kita harus mengakui secara jujur bahwa kita belum mampu men-swasembada- beras di Flores Timur. Simpulan ini tentu bukan merupakan tanda bahwa kita sedang atau harus mengibarkan bendera putih.
Baca Juga:
Tantangan produktivitas beras ini harus dicarikan jalan keluar terbaik. Terbaik untuk masyarakat, terbaik untuk para petani dan tentu saja pemerintah akan memperoleh banyak manfaat jika tercipta swasembada beras.
Pertama: Harus ada cara-cara baru yang inovatif untuk meningkatkan produktivitas lahan maupun produktivitas petani. Intensifikasi lahan yang sudah ada dengan melibatkan sebanyak mungkin masyarakat petani, sekaligus pendampingan agar tingkat produktivitas petani juga meningkat secara bersamaan.
Kendalanya adalah, topografi lahan kita yang kering. Bukan sawah. Karena itu ada dua pilihan. Bukan bermaksud untuk mendikte atau memaksakan solusi, namun karena pilihan kita sangat terbatas maka kita harus secara jujur dan melibatkan banyak pihak untuk mencari jalan keluar terbaik.
Kita bisa memilih intensifikasi lahan kering sekaligus pada saat yang sama mencoba untuk menambah lahan produksi baru untuk sawah basah. Namun sawah basah ini pun bukanlah sebuah persoalan mudah. Terutama ketersediaan air baku untuk mengairi sawah-sawah lewat pembangunan infrastruktur pertanian.
Baca Juga:
Jika air baku untuk lahan pertanian tidak masalah maka, masalah selanjutnya adalah saluran irigasi untuk mengairi sawah-sawah.
Jika memutuskan untuk menanam padi ladang, di lahan –lahan kering, maka kita semua pihak harus duduk dengan sangat-sangat serius untuk mencari jalan keluar terbaik.
Iklim yang masih belum bisa dikenali ciri-cirinya yang khas, selama itu pula kita belum bisa bergantung pada curah hujan untuk memastikan tingkat produktivitas di tingkat petani.
Persoalan lainnya adalah kita membutuhkan siapa saja yang paham secara sungguh-sungguh untuk mengatasi persoalan sawah tadah hujan ini melalui pendampingan yang intens.
Kita membutuhkan para pendamping yang memiliki pengetahuan yang spesifik mengenai hal ini. Sekaligus menjadi pendamping untuk mensupervisi setiap tahapan mulai dari pengolahan tanah hingga pasca panen. Formatnya adalah pendampingan.
Baca Juga:
Meningkatkan kapasitas atau ketersediaan air baku untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga bukan persoalan yang mudah. Pasalnya debit mata air kita belum memadai. Maka program-program konservasi mata air menjadi keharusan yang tidak boleh ditunda oleh siapapun dengan alasan apapun.
Berikutnya kedua ;adalah infrastruktur dan suprastruktur pertanian. Selain saluran irigasi, inovasi selanjutnya adalah inovasi bidang teknologi tepat guna bidang pertanian yang didukung dengan seperangkat suprastruktur bidang pertanian seperti regulasi untuk mendampingi para petani, pelatihan yang intens, akses terhadap modal, dan tentu saja kepastian akan pasar dari sisi bisnisnya.
Ketiga : Alternatif pangan lokal pengganti beras. Permintaan akan beras yang tinggi sementara ketersediaannya yang belum mencukupi, maka intervensi kebijakan apapun bentuknya seharusnya memuara pada mencari solusi atas dua hal tersebut. Permintaan yang tinggi sementara produktivitasnya terbatas.
Jawaban dari tingginya permintaan beras adalah dengan mencari sumber pangan alternatif lain. Sorgum misalnya. Selain karena nutrisi yang dikandung sorgum lebih besar, namun juga bahaw sorgum sangat tahan terhadap cuaca ekstrim. Satu lagi bahwa sorgum adalah komoditi lokal.
Baca Juga:
Untuk itu pemerintah sekali lagi harus serius mendampingi para petani sorgum, mulai dari urusan lahan hingga beras sorgum sampai ke piring makan setiap warga masyarakat Flores Timur.
Yang paling penting adalah apapun gagasan-gagasan yang hendak dipakai untuk merumuskan sebuah kebijakan, yang paling penting adalah tingkat partisipasi semua pihak, untuk memastikan bahwa para petani mendapatkan keuntungan secara langsung dari setiap program yang diluncurkan oleh pemerintah.
Dan rasa-rasanya keputusan mengenai sejauh mana petani dilibatkan dalam gagasan-gagasan pembangunan akal lebih yakin jika itu benar-benar melibatkan para konseptor handal bukan sekedar jago eksekusi di lapangan, apalagi mereka yang bermental proyek.
Foto dari photodemos.org
Leave a Reply