Eposdigi.com – Bullying di lembaga pendidikan Indonesia hingga hari ini belum mereda, bahkan semakin meluas dan parah. Semakin meluas karena bullying tidak hanya terjadi sekolah menengah pertama dan atas seperti pada tahun tahun 1990-2000-an. Lima tahun belakangan bullying dengan dampak yang serius terjadi juga di sekolah dasar dan perguruan tinggi.
Tahun 2023 misalnya, kami mencatat terjadi kasus bullying di SDN 236 Gresik. Korban dari kasus ini adalah seorang siswi SD kelas 2 sedangkan pelakunya adalah siswa kelas 4 dan 5 dari sekolah yang sama. Pelaku mem-bully dan menusuk mata korban dengan tusuk bakso hingga mata korban buta.
Belum reda pemberitaan kasus ini, muncul kasus bullying yang dialami oleh seorang anak SD kelas 1 di SDN di kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Siswa SD kelas 1 tersebut dipaksa minum air kencing oleh empat orang kakak kelasnya hingga korban mengalami trauma. Korban diancam dipukul jika menolak kemauan mereka.
Baca Juga:
Pada tahun 2023 Komisi Perlindungan Anak mencatat terjadi 1.478 kasus bullying di lembaga pendidikan dengan sebaran 30 persen terjadi di SD, 50 persen terjadi di SMP, 10 persen terjadi di SMA dan 10 persen lainnya terjadi di SMK. Jumlah ini mengalami peningkatan tajam dari tahun 2022 yang hanya 266 kasus.
Data tahun 2023 juga menunjukkan bahwa ternyata bullying tidak hanya terjadi di SD hingga SMA dan SMK melainkan juga terjadi di Perguruan Tinggi. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) misalnya melaporkan bahwa pada tahun 2023 terjadi kasus bullying sebanyak 520 kasus di perguruan tinggi.
Hingga tahun 2024 jumlah kasus bullying di Indonesia masih mengkhawatirkan. Meskipun menurun namun masih tinggi, yakni sebanyak 573 kasus. JPPI menyimpulkan bahwa dari hampir semua kasus kekerasan di lembaga pendidikan tinggi sepanjang tahun tersebut, pada awalnya berkaitan dengan kasus bullying, termasuk kasus kekerasan seksual.
Baca Juga:
Orang Tua Belajar Apa dari Kasus Perundungan Siswa SMAK Gloria 2 Surabaya?
Hingga tahun 2025 ini, kasus bullying di lembaga pendidikan masih merebak dan menjadi masalah serius. Menurut laporan KPAI, hingga bulan Oktober 2025, terjadi 620 kasus bullying di lembaga pendidikan. Maka dibandingkan tahun 2024 cenderung terjadi peningkatan kasus bullying di Indonesia.
Dari data yang kami himpun, selain meluas sebarannya, yang tadinya hanya terjadi di SMP dan SMA, kini meluas sampai ke SD dan ke Perguruan Tinggi, dampaknya juga semakin parah dan serius.
Dulu bullying hanya menyebabkan korbannya trauma dan terganggu secara psikis. Kini bullying bahkan berdampak sangat serius, mulai dari menyebabkan kecacatan secara fisik, hingga menyebabkan korban meninggal, bahkan lebih parah lagi, korban nekat bunuh diri. Data tahun 2023 dan 2024 tercatat masing-masing 2 orang korban bullying meninggal.
Baca Juga:
Sedangkan data korban bullying yang nekat bunuh diri ternyata cukup mencengangkan. Data KPAI tahun 2023 misalnya, jumlah korban bullying yang nekat bunuh diri ada 46 orang. Sedangkan pada tahun 2024 ada 43 korban yang nekat bunuh diri. Tahun ini hingga bulan Oktober, menurut data KPAI sudah ada 25 korban bullying yang nekat bunuh diri.
Data-data ini menunjukkan bahwa bullying tidak hanya semakin luas sebarannya, tetapi juga semakin mengkhawatirkan dampaknya. Bullying tidak hanya menyebabkan korbannya tewas, tetapi juga menyebabkan korbannya bunuh diri. Meskipun begitu, belum ada upaya yang mendasar dan serius dari pemerintah untuk mengatasi.
Oleh karena itu, melalui artikel ini saya mengajak pemerintah, pengelola sekolah, kepala sekolah, guru dan orang tua, untuk belajar dari negara di dunia yang tingkat bullying-nya sangat rendah. Ini bisa terjadi karena negara tersebut melakukan upaya yang mendasar, menyentuh akar masalah, dan serius untuk mencegah munculnya bullying di sekolah-sekolah mereka.
Baca Juga:
Berawal dari Tindakan Perundungan, Seorang Murid SMP di Finlandia, Menembak Tiga Temannya
Negara tersebut adalah negara Denmark di Eropa. Dari negara ini, saya berharap, kita semua dapat belajar dari kebijakan mereka, dari cara mereka menangani bullying, karena mereka sadar bahwa bullying adalah masalah serius jika terjadi di sekolah-sekolah mereka. Berikut uraiannya.
Aksi mencegah bullying di Denmark
Menurut sebuah survei internasional yang diselenggarakan oleh Health Behaviour in School-aged Children (HBSC) yang dilakukan terhadap 44 negara, Denmark merupakan negara dengan tingkat bullying yang paling rendah di Eropa. Ini adalah kondisi 7 tahun terakhir sejak pemerintah memperbaiki program anti-bullying di sekolah-sekolah.
Sebelumnya, sebuah survei tahun 1998 menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak usia sekolah mengalami bullying dari teman sebayanya. Bagi pemerintah, ini adalah masalah serius. Bagi mereka bullying itu masalah kesejahteraan psikis, baik bagi pelaku apalagi bagi korban. Padahal bagi pemerintah kesejahteraan psikis anak adalah kunci penting pembelajaran.
Baca Juga:
Perilaku Tawuran Sudah Merambah Sampai ke Siswa SD, Menunggu Tindakan Pencegahan dari Pemerintah
Oleh karena itu sejak tahun 1998, pemerintah serius mendorong implementasi program anti-bullying sejak dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Pada tahun 2018, pemerintah mengadakan survei susulan. Hasil survei tersebut menunjukkan terjadinya penurunan menjadi 1 dari 20 anak mengalami bullying.
Data ini menjadikan Denmark sebagai negara di Eropa dengan keberhasilan tertinggi dalam menghentikan bullying di lingkungan sekolah. Data ini mendorong pemerintah untuk memperbaiki implementasi program anti-bullying di sekolah-sekolah hingga survei yang dilakukan oleh HBSC dengan hasil yang lebih baik dari survei tahun 2018.
Berikut gambaran program anti-bullying yang menjadi kunci sukses mencegah bullying di sekolah-sekolah:
- Pembelajaran empati dan keterampilan sosial sejak dini
Denmark menerapkan pembelajaran empati sejak anak berusia 6 tahun hingga anak berusia 16 tahun, dengan durasi satu jam setiap minggu sebagai pelajaran khusus. Kelas empati diadakan dalam suasana santai dan nyaman, guru mengajak siswa diskusi tentang masalah yang dihadapi, baik masalah pribadi maupun terkait tugas sekolah.
Baca Juga:
Guru berperan sebagai pendengar aktif untuk menunjukkan pemahaman terhadap perasaan siswa ataupun menunjukkan empati terhadap suasana perasaan siswa. Dalam pembelajaran empati, guru mendorong diskusi dan 60 persen kegiatan dalam proses belajar empati dilakukan dalam kelompok, untuk meningkatkan komunikasi dan kerja sama antar siswa.
Pembelajaran empati tersebut berfokus pada pilar-pilar empati seperti mendengarkan aktif, melalui latihan berpasangan dan diskusi reflektif. Belajar mengambil perspektif lewat analisis karakter, bermain peran dan studi kasus. Juga belajar literasi emosi melalui pembuatan jurnal emosi, diskusi pemicu emosi dan pengenalan kosa kata perasaan.
Fokus pembelajaran empati yang lain adalah melatih siswa memahami isyarat nonverbal dengan mengamati bahasa tubuh dan konteks sosial. Tentu saja fokus pembelajaran pilar-pilar empati ini disesuaikan dengan tingkat kematangan dan learning readines siswa untuk mempelajarinya.
Selanjutnya pembelajaran empati juga menjadi sangat implementatif dan integratif dengan seluruh proses pengajaran di sekolah, di mana guru dan staf, menjadi teladan empati dalam interaksi sehari-hari di sekolah. Ini tidak hanya membantu pemahaman siswa tentang empati tetapi melatih keterampilan empati yang menjadi satu keterampilan sosial yang penting.
Baca Juga:
- Belajar hidup berdampingan dan melakukan beberapa strategi praktis
Dalam rangka belajar hidup berdampingan, para siswa didorong bekerja sama dalam kelompok, lintas gender. Tidak hanya bergabung dengan sahabat mereka saja dan melakukan kegiatan interaktif. Di sini mereka dilatih untuk belajar berbagai keterampilan sosial, termasuk cara berkompromi dalam berbagi ide dan belajar menghindari bullying.
Namun belajar menghindari bullying sudah diajarkan sejak dini sejak akhir Taman Kanak-Kanak (TKK) hingga Sekolah Dasar (SD). Siswa dilatih untuk saling membantu ketika mengalami tindakan bullying, misalnya dengan memanggil guru. Untuk belajar menghindari bullying, para siswa juga didorong untuk saling menghormati.
Selain itu, untuk menghindari bullying sejak dari SD siswa juga dilatih bermeditasi dan dibiasakan untuk berpelukan. Mengapa? Karena meditasi menguatkan kontrol diri dan ketenangan siswa, sedangkan berpelukan memperkuat rasa aman dan hubungan sosial yang aman. Keduanya diyakini berkontribusi mencegah bullying.
Baca Juga:
Korea Selatan Melarang Murid SMP dan SMA Menggunakan Ponsel di Sekolah
- Keterlibatan aktif siswa dan orang tua
Keterlibatan siswa dan orang tua dalam mencegah bullying di Denmark sangat penting, dan dilakukan secara aktif dan terstruktur dalam kepemimpinan sekolah. Para siswa dilibatkan secara langsung dalam dewan sekolah. Para siswa memiliki suara dalam pengambilan keputusan terkait masalah sekolah, termasuk bullying.
Jika ada siswa mengalami masalah, teman-teman mereka dapat melapor ke dewan sekolah, yang kemudian menindak lanjuti laporan tersebut. Sedangkan orang tua juga terlibat aktif di dewan sekolah, dan intensif berkomunikasi dengan pimpinan sekolah. Jika ada siswa merasa tidak nyaman atau menjadi korban bullying, orang tua proaktif melaporkan
Selain itu di Denmark, orang tua juga diharapkan membantu sekolah mengembangkan kemampuan siswa untuk menghadapi bullying. Orang tua dan pimpinan sekolah terlibat dalam mengambil berbagai keputusan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif, termasuk untuk mencegah bullying.
Baca Juga:
Orang Denmark Paling Bahagia Di Dunia karena Belajar Empati di Sekolah?
- Cara Denmark melatih guru menangani bullying
Sejak dari pendidikan pra jabatan, para calon guru sudah dibekali teori dan pengetahuan tentang bullying, pelaku bullying, korban bullying, dampaknya bagi korban, dan bagaimana guru menangani bullying dengan pendekatan yang komprehensif.
Ketika mereka lulus, sebelum terjun mengajar, mereka mengikuti prajabatan lanjutan. Disini mereka juga diberi orientasi tentang bullying dan penanganannya. Proses ini membekali para guru sehingga mereka siap secara teori dan praktik menghadapi bullying.
Selain itu pelatihan guru berkelanjutan secara periodik juga dilakukan setelah mereka benar-benar terjun menjadi guru. Guru terus dilatih mengelola kelasnya agar menjadi kelas yang inklusif, dengan mengintegrasikan aspek sosial dan akademis, untuk menciptakan suasana belajar yang harmonis.
Selain itu, guru juga terus didorong untuk terus belajar dan dilatih secara teknis untuk menguasai metodologi pengajaran terbaru, terutama metodologi pengajaran yang meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar.
Pelatihan-pelatihan tersebut diharapkan membentuk paradigma berpikir guru yang lebih berorientasi pada tumbuh kembang siswa sebagai kelompok, guru lebih siap menerima dan mengelola perilaku siswa, di mana kesalahan dalam proses belajar dilihat sebagai hal yang wajar, bukan hal yang memalukan. Karena bullying sering muncul dari situasi ini.
Baca Juga:
Proses belajar terus menerus ini membuat guru menjadi lebih kompeten, lebih dipercaya, otoritas mereka lebih diakui, lebih dipatuhi, lebih berwibawa dan dihormati. Maka ketika siswa bermasalah, mereka selalu punya guru yang dapat mereka hubungi untuk mendapatkan bantuan. Ini berdampak langsung pada menurunnya kasus bullying di sekolah.
Itulah hal-hal yang secara mendasar dilakukan oleh Denmark, yang menyentuh akar masalah dari bullying sehingga dapat secara drastis menurunkan angka kasus bullying di sekolah-sekolah mereka. Mari kita belajar dari mereka.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis
Leave a Reply