Dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa: Menatap Ulang Arah Fiskal Indonesia

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Di balik pintu Istana Negara, Senin 8 September 2025 menjadi saksi sebuah babak baru: Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati.

Bagi sebagian orang, ini lebih dari sekadar reshuffle. Ini adalah perubahan wajah kebijakan fiskal Indonesia—dari sosok yang selama dua dekade terakhir dianggap simbol stabilitas, ke figur baru yang datang dengan harapan percepatan pertumbuhan.

Sri Mulyani: Warisan Stabilitas dan Reformasi

Nama Sri Mulyani begitu melekat pada perjalanan ekonomi Indonesia. Dari reformasi perpajakan, penegakan disiplin fiskal, hingga menjaga defisit agar tetap terkendali, ia dianggap sebagai penopang kredibilitas Indonesia di mata dunia. 

Baca Juga:

Untuk Menjadi Negara Maju, Indonesia Harus Serius Kembangkan Sumber Daya Manusia dan Inovasi di Bidang Ini

Bahkan, semasa pandemi COVID-19, strategi fiskalnya dipuji mampu menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Data terbaru membuktikan warisan itu. Pada kuartal II 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% (yoy), lebih tinggi dari ekspektasi banyak pihak.

Pendorong utama pertumbuhan antara lain: Investasi (PMTB) tumbuh 6,99%, tertinggi sejak 2021. Belanja modal pemerintah melesat 30,37%, terutama untuk peralatan dan mesin. Sektor mesin bahkan mencatat lonjakan luar biasa sebesar 25,3%.

Defisit fiskal juga terkendali di level 2,29% PDB (2024), memberi ruang bagi APBN 2025 untuk lebih ekspansif tanpa kehilangan disiplin.

Baca Juga:

Zona Ekonomi Khusus Negeri Jiran ini Buka Peluang 5.000-an Proyek

Sri Mulyani dianggap selalu teguh menjaga integritas data. Saat angka pertumbuhan diragukan, ia membela kredibilitas BPS: “Saya percaya data ini valid, metodologinya kuat, dan bisa dipertanggungjawabkan.” Sebuah pernyataan yang mencerminkan keyakinan pada transparansi fiskal.

Purbaya Yudhi Sadewa: Harapan dan Tantangan Baru

Kini, tongkat estafet berpindah ke tangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia bukan wajah asing di dunia ekonomi—pernah menjadi Deputi di Kementerian Koordinator Perekonomian dan terakhir menjabat sebagai Ketua LPS.

Namun, sebagai Menkeu, Purbaya menghadapi panggung yang jauh lebih besar dan sorotan yang jauh lebih tajam.

Baca Juga:

Mencari Alternatif Solusi Untuk Lima Persoalan Berbangsa dan Bernegara

Presiden Prabowo menitip pesan jelas: percepat pertumbuhan ekonomi. Target ambisius 8% dalam lima tahun bukan sekadar angka, melainkan janji politik yang harus diwujudkan.

Purbaya merespon dengan penuh percaya diri: “Saya cukup tahu, saya amat tahu, dan jangan khawatir.” Pernyataan ini seakan menegaskan bahwa meski namanya belum seikonik Sri Mulyani, ia punya pengalaman 25 tahun di balik layar pemerintahan.

Perbandingan Singkat antara SM dan PYS

Aspek | Era Sri Mulyani | Era Purbaya (Harapan) Pertumbuhan Ekonomi | 5–5,1% (stabil, di atas ekspektasi) | Didorong menuju 6–8% (lebih agresif).

Defisit Fiskal | 2,29% PDB (2024) | Dipertahankan rendah, tapi lebih ekspansif

Fokus Kebijakan | Stabilitas, reformasi pajak, transparansi data | Pertumbuhan, akselerasi investasi, belanja produktif

Tantangan Utama |Skeptisisme publik, tekanan eksternal | Membangun kredibilitas pasar, menjaga kepercayaan investor

Baca Juga:

Hal Apakah Yang membuat Indonesia disebut Negara Gagal?

Reaksi Pasar sebagai Ujian

Pasar keuangan langsung merespons. IHSG melemah sekitar 1,3% sesaat setelah pengumuman reshuffle. Rupiah sempat menguat, tapi akhirnya stabil.

Bagi investor, perginya Sri Mulyani yang dianggap “wajah kredibilitas fiskal” tentu menimbulkan tanda tanya. Namun, Purbaya menyebut dirinya “market person”—pesan yang dimaksudkan untuk menenangkan gejolak pasar.

Menatap ke Depan: Stabilitas vs Akselerasi

Pergantian ini bisa dibaca sebagai simbol: Indonesia keluar dari era stabilitas yang konservatif ke arah era akselerasi yang lebih berani.

Baca Juga:

Meneropong Kesejahteraan DPR versus Honor Guru

Sri Mulyani adalah wajah disiplin fiskal. Purbaya ingin menjadi wajah pertumbuhan. Pertanyaan kuncinya: bisakah pertumbuhan 8% tercapai tanpa mengorbankan disiplin anggaran?

Jika berhasil, Indonesia akan memasuki fase ekonomi baru yang lebih dinamis. Jika tidak, risiko inflasi, defisit melebar, hingga turunnya kepercayaan investor bisa menjadi konsekuensi.

Kepergian Sri Mulyani menandai berakhirnya satu babak panjang dalam sejarah ekonomi Indonesia. Kedatangan Purbaya membuka bab baru yang penuh harapan, sekaligus tantangan.

Baca Juga:

Mendorong Perubahan di Masyarakat Melalui Pendidikan Tinggi

Masyarakat kini menunggu: apakah wajah baru kebijakan fiskal ini mampu menjaga fondasi yang telah dibangun, sambil menyalakan mesin pertumbuhan lebih kencang?

Sejarah akan mencatat, tapi saat ini satu hal jelas—Indonesia sedang berupaya keras menuju stabilitas menyambut bonus demografi 2045.

Foto dari medcom.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of