Eposdigi.com – Untuk menjadi negara maju dan menjadi salah satu pemain kunci dalam revolusi teknologi global, Indonesia harus membangun sumberdaya manusianya yang kompeten dan terus mendorong inovasi di sektor Artificial Intelligence (AI) dan semikonduktor.
Hal tersebut disampaikan oleh Kuwat Triyana dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dalam Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) di Sasana Budaya Ganesha Bandung. Ia menekankan pentingnya fokus pada dua area krusial tersebut.
“Indonesia harus terus mendorong inovasi di sektor AI dan semikonduktor terutama pada areal krusial seperti desain sirkuit terpadu (IC design) dan assembly, testing and packing (ATP) semikonduktor,” kata Kuwat Triyana, guru besar Fisika UGM ini.
Baca Juga :
“Sebagai bangsa kita tidak bisa semata-mata menjadi hilir secara menyeluruh untuk semikonduktor, melainkan perlu fokus pada pengembangan chip semiconductor sensor,” lanjut Kuwat yang menjadi keynote speaker pada sesi tersebut.
Menurut penemu GeNose C19 ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan chip semiconductor sensor. Untuk mendukung program ini, kata Kuwat, akan ada program pengiriman mahasiswa Indonesia ke Tiongkok untuk belajar semikonduktor dan AI.
Pada akhir pemaparannya Kuwat menegaskan bahwa investasi pada manusia dan inovasi adalah kunci bagi Indonesia untuk melakukan lompatan dalam penguasaan teknologi. Oleh karena itu, Indonesia perlu strategi yang tepat dan langkah yang berani untuk mengejar ketertinggalannya.
Baca Juga :
Antisipasi Ancaman Digital, Kemenko Polkam Dorong Peningkatan Kapasitas SDM Keamanan Siber
Menanggapi hal tersebut, Abdillah Azis dari PT Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) menegaskan bahwa bukan hanya pengembangan riset AI dan semikonduktor saja, melainkan mendorong dan membangkitkan ekosistem Inovasi.
“Kami mengharapkan komitmen membangun ekosistem yang kuat. Oleh karena itu yang sangat penting adalah dukungan yang berkelanjutan dari berbagai pihak,” harap Azis.
Sedangkan Teuku Muhammad Rofi dari Universitas Pertamina menyampaikan catatannya bahwa walaupun Indonesia belum memiliki program studi semikonduktor yang masif di berbagai Perguruan Tinggi, bukan berarti Indonesia tidak siap mengembangkan SDM di bidang IT dan semikonduktor.
Baca Juga :
SDM dan Menyemai Asa Sinergi BUMDes dengan Koperasi Merah Putih
Ini adalah salah satu sesi dari rangkaian sesi KSTI 2025 selama 3 hari dari tanggal 7-9 Agustus 2025 yang mengusung tema: “Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi melalui penguasaan Sains dan Teknologi”.
Secara keseluruhan KSTI 2025 adalah forum strategis sebagai upaya untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional, berbasis sains dan teknologi. Acara ini mempertemukan lebih dari 3.000 peserta mulai dari ilmuwan terkemuka, teknokrat, Ceo BUMN, pelaku Industri strategis nasional, pengambil kebijakan tingkat tinggi, hingga diaspora Indonesia.
Konvensi ini menitik beratkan pada integrasi riset, pendidikan tinggi, industri sektor prioritas, serta material dan manufaktur maju. Ini adalah kebutuhan strategis indonesia, untuk mengupayakan kemandirian teknologi dan peningkatan daya saing global.
Baca Juga :
Koperasi Merah Putih, Tukang Bangunan dan Mitigasi Bencana di Flores Timur
Kegiatan KSTI 2025 meliputi sesi diskusi panel, executive sesion, bersama jajaran kementerian dan lembaga strategis, sharing session dari para peraih nobel dan akademisi dunia, pameran hasil riset dan inovasi industri, hingga penghargaan BRIN Award, untuk institusi riset dan karya ilmiah terbaik.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kemali dengan izin dari penulis / Foto ilustrasi dari ilmumanajemensdm.com
Leave a Reply