PTM 100% Di tengah Lonjakan Positive Rate, Pertimbangannya Bagaimana?

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com- Beberapa bulan lalu, tepatnya di bulan September-Oktober 2021, dilansir dari detikhealth.com yang terbit pada 25 September 2021 dengan Judul “Epidemiolog Prediksi Lonjakan Kasus COVID-19 Terjadi pada Maret 2022”. 

Disampaikan bahwa risiko adanya lonjakan kasus bisa saja terjadi, dikarenakan belajar pada lonjakan kasus sebelumnya, di mana lonjakan tersebut terjadi pasca libur panjang lebaran. Selain itu, epidemiolog dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, Indonesia juga akan menghadapi hari libur Natal dan Tahun Baru. 

Baca juga: Ternyata Kita Virusnya

Hal ini tentu berpotensi membuat mobilitas masyarakat kian tinggi dan ancaman gelombang ketiga COVID-19 juga semakin besar. “Prediksi Desember-Januari itu kemungkinan puncak ketiganya,” katanya. Tri menyebut meski capaian vaksinasi sudah 50%, lonjakan kasus masih bisa tetap terjadi jika mobilitas masyarakat tidak dibatasi di periode libur tersebut. 

Tri memprediksi lonjakan kasus diperkirakan akan terjadi selambatnya pada Maret 2022. Terkait hal ini, Tri juga mengingatkan terjadinya puncak kasus juga dapat disebabkan oleh penerapan 3T (Testing, Tracing, Treatment) yang lemah. 

“Jadi ya memang bakal mengalami puncak lagi, kalau 3T lemah,” ujarnya. Sebetulnya, apa yang betul-betul dikhawatirkan, dan apa yang ditakutkan para epidemiolog benar-benar terjadi. Pasca melewati pekan libur, di tengah Desember hingga awal Januari, kasus covid pun mulai naik

Baca juga: Learning Online Dari Perspektif Siswa

Awal Januari mulai mengalami kenaikan. Kenaikan ini pun semakin menjadi-jadi pada 3 Januari 2022. Semua sekolah di Provinsi DKI Jakarta membuka PTM 100%. Tentu kebijakan Pemprov ini mengacu pada SKB 4 Menteri.  

Ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan, mulai dari KPAI, IDAI yang berpendapat terlalu tergesa-gesa, dan ada juga beberapa pihak yang menilai bahwa pemerintah tidak melakukan penghitungan secara matang akan potensi semua berkumpul di sekolah. 

Puncaknya pada minggu ketiga bulan Januari, beberapa sekolah ditutup di DKI Jakarta, dikarenakan ada siswa dan guru yang terkonfirmasi positif covid. Mulailah sesuai dengan prediksi yang dikatakan oleh epidemiolog, kasus covid pun menunjukkan kenaikan positif rate yang signifikan. 

Dimulai pada 10 Januari 2022, di mana ada 454 kasus baru, dan mulai menyentuh angka “seribuan” pada tanggal 15 Januari, di mana total ada 1.054 kasus baru covid-19, dan update terakhir pada 24 Januari mencapai 2.927. 

Baca juga: Pembukaan Kegiatan Compassion Health 2021 SMP Kanisius Jakarta

Ketakutan peserta didik sebetulnya bukan kepada ketidaksukaan akan PTM, melainkan bahwa ada dampak serius dari PTM ini sendiri. Di mana langkah “catur” ini dinilai sebagai sebuah ancaman. Walaupun pemprov menegaskan agar anak-anak tetap dapat bersosialisasi, justru inilah yang menjadi salah satu sebab ketika semua anak berkumpul, dan masuk sekolah, yang menimbulkan cluster terbaru.

Aktivitas ini bisa saja menjadi penanda akan adanya distributor virus yang dibawa dari rumah ke sekolah. Mengingat gejala dari omicron ini yang ringan, banyak orang kemudian menganggapnya tidak serius, sehingga mereka tetap masuk sekolah. 

Harapannya adalah pemerintah dalam hal ini dapat segera memberlakukan Kebijakan PPKM Level 3, karena update pada 27 Januari 2022, pertambahan kasus sudah mencapai 8.077 kasus baru. Oleh karena itu, PPKM Level 3 ini diharapkan dapat menekan langsung angka Covid-19, dan menghindari cluster sekolah. 

Penulis adalah siswa SMP Kanisius Jakarta Pusat kelas 8/sumber foto: idxchannel.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of