Eposdigi.com – Bertahun-tahun lalu, salah satu iklan air minum dalam kemasan, dengan latar salah satu daerah di Timur Indonesia. Sebagai iklan komersial, mungkin merek air minum dalam kemasan itu ingin mengajak banyak orang untuk memakai atau mengkonsumsi produk mereka.
Narasi “mata air su dekat,” dalam iklan tersebut jelas menggambarkan bahwa kita tidak memiliki banyak sumber air. Pesan iklan tersebut jelas, bahwa butuh usaha yang besar untuk membawa air minum mendekat.
Jika hari ini kita masih kesulitan air minum, maka itu tentu salah kita. Pemerintah dan masyarakat lokal. Bukan salah perusahaan air minum dalam kemasan yang membuat iklan tersebut.
Baca Juga:
Di daerah kering, dengan jumlah mata air terbatas, ditambah curah hujan yang sedikit, sumber air jelas merupakan masalah besar. Iklan ‘mata air su dekat’ yang sudah bertahun-tahun lalu tayang ini, rupanya hanya bahasa komersial. Nyatanya sumber air kita masih jauh.
Ini juga merupakan pesan yang jelas bahwa, kita tidak cukup tanggap untuk mencari jalan keluar atas masalah ini. Apakah karena kita tidak cukup memiliki pengetahuan untuk mencari solusi atas persoalan air minum? Bukankah air minum adalah kebutuhan pokok?
Pertanyaan reflektif kemudian adalah, apakah kita sudah menempuh jalan benar untuk keluar dari masalah kelangkaan bahkan kekurangan baku air bersih kita?
Apakah kita cukup konsisten menjaga hutan demi melestarikan sumber-sumber mata air kita? Jika sumber mata air kita cukup kapasitasnya, apakah kita benar-benar bisa mengakses saluran distribusinya.
Baca Juga:
Dalam bahasa yang sederhana, apakah kita cukup terampil memasang pipa agar mata air kita memiliki cukup tekanan untuk mengalir sampai jauh sampai ke ujung kran di masing-masing rumah warga?
Banyak yang kemudian memilih alternatif paling pragmatis. Mengambil air bawah tanah melalui sumur-sumur bor. Padahal kita tahu bahwa risiko ekologis begitu besar menghantui dibalik sumur-sumur bor tersebut.
Selama tidak ada alternatif pengganti yang lebih efektif sekaligus aman dari sisi lingkungan dan keberlangsungan maka sumur bor masih menjadi pilihan paling mungkin, dengan segala resiko ekologisnya.
Karena itu tanggung jawab kita semua adalah, membuat mata air dekat hingga ke dapur-dapur rumah kita dengan memenuhi semua syarat-syarat ekologis: ramah lingkungan sekaligus memastikan bahwa generasi-generasi yang akan datang masih memiliki kesempatan sama baiknya untuk mendapatkan baku air untuk kebutuhan keseharian mereka.
Baca Juga:
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menangkap air dari udara. Di Chili bagian utara di dekat Gurun Atacama yang kekurangan air, para peneliti berhasil memanen air dari kabut. Dengan ‘alat’ seluas satu meter persegi mereka bisa memanen 5 liter air bersih setiap hari.
Para peneliti menggantung jarring berukuran 1 meter persegi menghadap ke arah angin yang membawa kabut. Air kabut kemudian terjaring kemudian dialirkan ke tempat penampungan.
Penelitian yang dilaporkan oleh jurnal Frontiers in Environmental Science pada 20 Februari seperti dikutip cnnindonesia.com (03.03.2025) dari Science News ini mengungkapkan bahwa jaring per meter persegi tersebut menghasilkan 0.2 hingga 5 liter air.
Baca Juga:
Para peneliti yang tergabung dalam penelitian ini optimis bahwa mengumpulkan air dengan jaring uni adalah cara sederhana dan dapat dilakukan dalam skala-skala kecil.
Saya membayangkan bahwa kebutuhan listrik rumah tangga dapat disuplai dari panel-panel surya independen yang secara mandiri dapat mensuplai kebutuhan listrik rumah tangga, maka dalam skala yang sama kecilnya, barangkali bisa dilakukan untuk mencukupi kebutuhan akan air baku untuk berbagai keperluan hidup dari jarring-jaring penangkap kabut ini.
Namun ini tentu tidak mudah, bila diaplikasikan pada daerah-daerah kering karena curah hujan minim seperti banyak di NTT. Maka pertanyaan kemudian adalah apakah kita siap untuk mendorong diri kita keluar dari belenggu kekurangan air?
Baca Juga:
Jalawab dari kesiapan tersebut adalah seberapa besar upaya kita untuk mengkaji secara mendalam alternatif-alternatif mana saja yang paling memenuhi syarat keberlanjutan dan aman bagi lingkungan hidup.
Misalnya, jika mau mencoba alternatif jaring penangkap air dari kabut, maka variabel yang haru bisa diperhitungkan adalah daerah mana yang paling berkabut? Ketinggian berapa? Kapan waktu kabut maksimal?
Berapa luas jaring yang kita butuhkan untuk membangun kemandirian atas kebutuhan akan baku air? Bagaimana distribusinya dari jaring penangkap air ke rumah tanga – rumah tangga?
Baca Juga:
Bagaimana sisi pembiayaan? Apakah warga sendiri secara mandiri mendatangkan dan memasang jaring penangkap kabut ini? Ataukah negara akan memberi subsidi? Jika ia disubsidi, apakah kriteria penerima manfaat disampaikan secara transparan dan dapat diakses oleh semua orang?
Apapun tawaran alternatifnya, kita tentu berharap bahwa alternatif-alternatif ini bisa mengatasi kelangkaan sumber dan baku air bersih kita. Agar supaya sumber air kita semakin dekat.
Foto dari kompas,com
Leave a Reply