Eposdigi.com – Awal yang baik. Sekitar jam 5:00 pagi saya bangun. Beranjang dari tempat tidur, dengan rasa ngantuk, lemas dan merasa bahwa nyawa belum terkumpul, tapi saya tetap memaksakan diri saya untuk bangaun. Rasa ngantuk berkurang banyak berkat segelas air putih,
Saya kemudian menyiapkan bekal, mulai sarapan dan bersiap-siap untuk ke kampus untuk mengikuti kegiatan PKKMB.
Kami pun berangkat ke kampus diantar oleh nenek. Dalam perjalanan, saya selalu memikirkan dan membayangkan bagaimana saya berinteraksi dengan orang baru, bertemu dengan kaka-kaka senior dan penasaran seperti apa sih pelaksanaan PKKMB itu.
Tidak hanya itu, banyak hal lagi yang saya pikirkan dan saya bayangkan. Setelah menempuh beberapa menit dalam perjalanan dengan motor akhirnya kami sampai di kampus Universitas Pamulang. Sesampainya kami di kampus. betapa terkejutnya saya melihat begitu banyak mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan PKKMB hari ini,
Baca Juga:
Untuk Tujuan Baik Sekalipun, Selalu “Ada Harga Yang Harus Dibayar”
Saking banyaknya, dan dari berbagai macam penampilan. Saya pun sampai kebingungan. Beberapa saat kemudian, saya pun tersadar karena panggilan nenek. Kami pun berhenti di depan lobi gedung A.
Setelah saya turun dari motor nenek saya berpesan bawah “ jangan malu untuk berkenalan dengan orang dan jangan malu untuk bertanya.”
Setelah pamit ke nenek, saya masuk kedalam gedung. Di sekitar area gedung saya menemukan ada orang, yang bisa saya identifikasi sebagai orang timur. Begitu juga dengan seorang yang berdiri tepat di samping saya. Saya pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan dia dan ternyata benar dia berasal dari Kupang, satu provinsi asal dengan saya.
Setelah beberapa menit saling menyapa dan bertukar satu dua kata, kami pun dipanggil oleh para senior untuk diarahkan masuk ke dalam gedung sesuai dengan warna pita yang dipakai. Saya harus berpisah dengan teman yang baru saja saya kenal karena beda jurusan,
Baca Juga:
Kunjungan Mahasiswa ke DPR RI dan Monumen Pancasila Sakti: Membangun Pemahaman Politik dan Hukum
Saat hendak masuk ke dalam gedung kami diberi instruksi lain; “bagi yang jurusan PGSD diharapkan ke lantai delapan dengan menaiki lift menuju lantai delapan.”
Ketika hendak masuk lift, seorang mahasiswa memanggil saya dan bertanya ‘’ kakak dari Flores Ya?’’ Saya pun menjawab ‘’ ia’’
Dia lalu kembali memastikan. Tanyanya; ‘’kakak dari Flores tapi bagian mana?”
“Dari ADONARA, ’’ jawab saya. Dia kemudian memperkenalkan nama dan asalnya,
‘’Perkenalkan kakak nama saya Maira, dari Flores juga kakak Dari Larantuka.’’
Saya pun terkejut dan langsung berfikir menyapanya menggunakan bahasa daerah kami namun niat saya tersebut saya urungkan, karena banyak orang di samping kami mengobrol menggunakan Bahasa Indonesia,
Di lantai delapan, sudah banyak orang. Salah seorang teman mahasiswa baru, kemudian mendekati kami dan mengulurkan tangan sambil bertanya; “ Dari Flores ya?” sembari mengaku bahwa ia dari Jawa, tanpa menunggu kami menjawab pertanyaannya. Sepertinya gambaran fisik kami tidak dapat berbohong.
Baca Juga:
Mahasiswa Rentan Terhadap Cemas dan Stres. Ini Tiga Cara Mengatasi Menurut Harvard
Ada kejadian lucu saat di lift. Ternyata untuk mengakses lift kami harus scan kartu mahasiswa. Informasi ini baru kami ketahui justru setelah kami keluar dari lift saat tiba di lantai delapan.
Menunggu acara dimulai, kami disuguhi berbagai penampilan dari para mahasiswa, senior kami, yang unjuk kebolehan dan bakat mereka.
Tidak lama berselang puncak PKKMB pun dimulai. Hadir ditengah kami. Dr.E Nurzaman AM.,M.M.,M.SI. sebagai rector. Lalu wakil rektor terdiri dari Dr. Ubaid Al Faruq, s.Pd. sebagai wakil rektor I, Dr. Subarto, M. Pd. sebagai wakil rektor II, Dr. M. Wildan, S.S., M.A. sebagai wakil rektor III, dan prof. Dr RR Dewi Anggraini, S.H., M.H sebagai wakil rektor IV,
Kesempatan ini juga dihadiri langsung oleh ketua Yayasan Sasmita Jaya yang menaungi Universitas Pamulang (UNPAM), Dr. Pranoto, S.E., M.M.
Kami kemudian dibekali dengan Visi dan Misi Universitas, sosialisasi tentang berbagai peraturan dan juga tentang keuangan selama masa kuliah. Rangkaian acara ini berlangsung kurang lebih selama delapan jam.
Sebagai penutup acara dihadirkan ke tengah kami seorang selebgram dan tiktokers bernama Alis untuk menghibur kami semua.
Baca Juga:
Kami pun beranjak keluar setelah seluruh rangkaian acara ditutup. Rencananya dari kampus kami akan menggunakan angkot. Namun setelah kurang lebih sejam menunggu, angkot tidak datang-datang
Kami kemudian memutuskan untuk menggunakan aplikasi untuk memesan mobil dengan tujuan Stasiun Rawa Buntu. Lalu Lintas yang sangat padat membuat kami harus sabar selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju stasiun.
Rupanya, kemacetan dan lamanya waktu tempuh membuat Inda teman serumah saya, mulai menunjukan gejala mabuk. Saya kemudian menghubungi kembali nenek, untuk menjemput kami, saya dan Inda.
Ternyata saya dan Inda menunggu di tempat yang salah. Kami menunggu terlalu jauh dari Stasiun Rawa Buntu. Akibatnya yang menjemput dan saya sendiri bingung memastikan tempat.
Baca Juga:
Alih-alih berjalan mendekat ke stasiun, saya malah berjalan menjauh dari stasiun. Inda akhirnya berangkat pulang duluan karena dia yang ‘temukan’ duluan.
Sementara saya masih harus pusing untuk memastikan titik jemputan saya. Hampir sejam lamanya mencari, akhirnya saya ketemu dengan nenek yang menjemput.
Alhasil, omelan beruntun seperti tembakkan senapan mesin berat harus saya terima. Konyolnya saya, seharusnya saya memberanikan diri untuk bertanya, di mana Halte Stasiun Rawa Buntu ke orang sekitar.
Baca Juga:
Jika saja saya berani bertanya, tentu saya tidak harus membuat nenek saya senewen karena saya tidak dapat memastikan titik jemput yang dapat dengan mudah ditemukan oleh nenek.
Padahal dari pagi, nenek sudah berpesan, jangan malu bertanya. Benar saja, malu bertanya, sesat di kampus, eh..salah.. stasiun.
Penulis adalah Mahasiswa Baru Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pamulang / Foto dari : asrinews.com
Leave a Reply