Memberi Label Perawan Pada Perempuan

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Baik wanita maupun pria , tidak perlu malu untuk mempelajari tentang alat kelamin sendiri. Terutama tentang wanita yang sering dihantui dengan perasaan dibully, hanya karena status keperawanannya.

Padahal itu hanya selaput tipis yang ada di vagina wanita, namun kadang akhirnya menjadi momok bagi wanita-wanita.

Ada yang hanya karena alasan cinta, dan takut putus dengan pasangannya sehingga dengan gampang memberikan keperawanannya, padahal kunci untuk tetap menetap pada suatu hubungan bukan terletak pada hubungan sex semacam itu.

Baca Juga:

Perawan Itu Penting Nggak Sih?

 Jika terjadi demikian maka angka pernikahan usia dini semakin meningkat, kemungkinan untuk bunuh diri, dan putus sekolah, padahal ada yang belum tentu benar-benar siap untuk menerima akibat dari perbuatannya itu.

Masalah keperawanan akhirnya menjadi bahan omongan orang-orang, keperawanan akhirnya menjadi tolak ukur masa depan dan kesuksesan seseorang,  yang dengan tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain, langsung menghina,

“Makanya jadi perempuan jangan lembek, masa baru pacaran kok sudah mau serahkan keperawanannya, dasar perempuan kotor, perempuan jorok, makanya pacaran itu jaga diri”, dan berbagai macam label-label lainnya.

Oke, mungkin di sisi lain semua itu berlawanan dengan norma, agama, serta adat istiadat yang ada pada masyarakat, sehingga beberapa diantaranya menjadi tabu.

Baca Juga:

Mengapa Korban Kekerasan Seksual (lebih) Memilih Bungkam?

Cowok-cowok bisa dengan bangga berkata,  “Eh,,,dia sudah saya perawanin loh, dan sekarang dia sudah tidak perawan lagi, hebat kan saya”,

Terus kalau wanita-wanita sudah tidak perawan lagi seperti di tempelkan stiker besar di dahinya : “Saya sudah tidak Perawan Lagi, Saya Bukan Wanita baik-baik, Silahkan Hina Saya, Silahkan Bully Saya.”

Laki-laki selalu ingin mencari perempuan yang masih perawan, sedangkan mereka tidak pernah menyadari bahwa merekalah yang membuat keperawanan seorang perempuan musnah, dan dengan gampang berkata;

Baca juga:

Melihat Celana Umpan dan Rambut Rebonding dari Kacamata Toxic Femininity

“Saya kan cuman iseng-iseng minta, dianya saja yang bodoh, mau ngasih keperawanannya buat saya,” hingga akhirnya rumor-rumor menyebar dan menjadi bahan olokan bagi para pria.

Lalu mengapa dunia tidak mempertanyakan keperjakaan pria, mengapa wanita tidak bisa berkata, “Eh, dia sudah saya perjakain, dan sekarang dia sudah tidak perjaka lagi.”

Masala keperawanan semacam ini membuat beberapa orang selalu menyangkutkannya dengan masa depan dan kesuksesan seorang perempuan, tapi coba berpikir, terlepas dari masalah keperawanan, ketika seorang perempuan tidak perawan lagi, toh dia tetap menjadi manusia yang punya hak untuk hidup.

Ikuti Penulis melalui akun Facebook Pena Saint Joana / Foto ilustrasi dari indozone.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of