Pesan Aku

Opini
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com- Setiap hari kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai peristiwa. Kita pun mencoba untuk memberikan reaksi terhadap apa saja yang kita alami. Reaksi atas kejadian itu didorong dari berbagai macam perasaan. 

Kadang kita senang, akan tetapi bisa saja sebaliknya. Kita mengalami perasaan-perasaan negatif. Kita jenuh, bosan, marah, capek dan lain sebagainya.

Jika perasaan negatif ini tidak dikelola dengan baik (dibiarkan/didiamkan), maka akan tertimbun atau bertumpuk-tumpuk di alam bawah sadar kita. Ketika tumpukkan alam bawah sadar ini penuh, maka ia akan tumpah rua dalam bentuk tindakan yang kurang adaptif. 

Baca juga: Kehilangan Sebab

Misalnya orang yang selalu menyimpan perasaan marah. Ketika perasaan marah ini berulang kali di-repres atau didiamkan, maka suatu saat akan tumpah rua dalam bentuk tindakan membanting barang, berteriak yang keras karena telah mengalami kepenuhan.

Keadaan seringkali membuat kita tidak bisa mengungkapkan dengan baik perasaan negatif yang kita miliki. 

Kita marah, kecewa, dendam, bahkan benci sekalipun dengan lingkungan sekitar, namun karena lekat dengan status sebagai orang baik, terkadang kita memilih untuk tidak menunjukkan ataupun mengungkapkan rasa marah tersebut. 

Kita takut dijauhi ketika menunjukkan perilaku marah tersebut. 

Terkadang kita sedih ketika diperlakukan tidak adil oleh lingkungan, namun karena kita ingin terlihat kuat, akhirnya kita memilih untuk menyembunyikan kesedihan tersebut. Kita berusaha untuk baik-baik saja dan memaksa diri untuk tetap tegar.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya bahwa ketika perasaan negatif yang kita alami tidak dikelola dengan baik (disembunyikan), maka ia akan masuk ke dalam alam bawa sadar.

Baca juga: Pemerintah Desa Dan Penerimaan Palsu

Perasaan-perasaan negatif (marah, sedih, jengkel, iri, dendam, dll) akan mengalami ketertumpukkan di alam bawah sadar. 

Tumpukkan-tumpukkan perasaan itu kemudian akan menjadi sampah dan terakumulasi dalam bentuk energi yang sangat besar kekuatannya. Ketika sampah-sampah itu mengalami kepenuhan, maka energi-energi itu akan tumpah rua dalam bentuk perilaku yang maladaptif.

Perilaku maladaptif merupakan perilaku yang kurang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan (ada norma sosial yang dilanggar).

Perilaku tersebut di antaranya adalah dengan berteriak secara kencang, membanting barang, memukul dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perasaan negatif yang kita alami perlu dikelola dengan baik.

Beberapa orang memilih mengungkapkan perasaan yang dimiliki, akan tetapi respons mereka atas perasaan yang dialami terkadang cenderung tidak pas. Banyak yang cenderung menilai atau menghakimi dengan menggunakan pernyataan “you statement”. 

“Kamu itu orang yang tidak berguna, suka mengingkari janji dan  tidak pernah tepat waktu”. “Kamu itu bodoh sekali, tidak tau apapun”, Kamu itu terlalu polos dan tidak bisa menjaga rahasia”, Kamu itu so suci”, “Kamu itu terlalu naif”. 

Sering kita mendengar atau bahkan memberikan ungkapan kamu, kamu dan kamu. 

Baca juga: “Marin Oneket” Dalam Prespektif Psikologi Positif

Ungkapan-ungkapan you statement seolah menjadi salah satu respons yang paling tepat ketika mengalami perasaan negatif tertentu. Akan tetapi ketika dilihat, ungkapan ini nyatanya cenderung menilai atau menghakimi. 

Siapapun yang direspons dengan pernyataan “you statement, tentu akan mengalami penolakan atau merasa tidak terima dengan penilaian-penilaian yang ada.
Oleh karena itu, setiap orang perlu mengungkapkan perasaannya dengan tepat menggunakan “1 message” atau “pesan aku”, atau “I Statement.”

Kita perlu mengkomunikasikan perasaan yang kita miliki terhadap siapapun. Kita perlu menceritakan secara terbuka apa yang kita rasakan dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan negatif serta akibat yang mungkin saja terjadi. 

Sebagai contoh: “Saya merasa jengkel (saya dan nama perasaan) dengan teman saya karena ketika saya berbicara, teman saya ini selalu menyela (kejadian nyata), sehingga saya pun menjadi tidak bisa mengungkapkan secara detail apa yang menjadi pemikiran saya (akibat)”.

Baca juga: Keterjajahan Fisik Sudah Ada Sejak Dalam Pikiran Bahkan Lintas Generasi (Bagian Pertama)

Beberapa syarat yang perlu dipenuhi dalam pengungkapan perasaan ini adalah dengan menyebutkan “saya”, “nama perasaan”, “kejadian yang memunculkan perasaan”, serta “akibat apa yang ditimbulkan”. Contoh sebelumnya sudah memuat syarat-syarat tersebut.

Pesan aku cenderung tidak menilai dan tidak menghakimi karena yang dilibatkan adalah diri sendiri, bukan orang lain.

Penggunaan pesan aku memungkinkan ditumbuhinya kesadaran dalam diri orang lain,  yang mana setelah mendengar pernyataan pesan aku, orang akan menilai dirinya sendiri.

Sumber foto: detak-unsyiah.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of