Frugal Living: Gaya Hidup Orang yang Bermoral Tinggi

Opini
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com- Frugal living adalah praktek hidup hemat karena didorong oleh keyakinan nilai tertentu. Karena keyakinan nilai tersebut, atau keinginan mewujudkan sesuatu yang bernilai, seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan uangnya, lantaran tindakan tersebut menghambatnya untuk mewujudkan nilai yang ia yakini.

Jika dicermati, pendorong gerakan frugal living dapat dikelompokkan dalam tiga orientasi. Kelompok pertama adalah mereka yang menjalankan praktek frugal living dikaiAtkan dengan upaya menghentikan atau mengurangi pencemaran lingkungan.

Kelompok kedua adalah kelompok yang menjalankan frugal living karena dengan gaya hidup ini, mereka dapat menggunakan dana yang mereka hemat untuk menyokong gerakan sosial tertentu, atau dapat melaksanakan tanggung jawab sosial terkait posisi mereka secara lebih baik.

Baca Juga: Meneropong Gaya Kepemimpinan Gubernur NTT

Sedangkan kelompok ketiga adalah kelompok yang menjalankan frugal living karena memiliki orientasi pada kedua-duanya. Mereka menggunakan uang mereka baik untuk mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus menyokong gerakan sosial tertentu.

Kelompok ketiga secara khusus tidak dibahas, karena pembahasan kedua kelompok sebelumnya memperjelas kategori ketiga dengan sendirinya. Ketiga kelompok ini adalah orang-orang yang secara ekonomis sangat mapan, dengan penghasilam milyaran.

Dengan uang yang mereka miliki, mereka dapat membeli apapun yang mereka kehendaki. Namun mereka memilih untuk berhemat karena dengan demikian mereka dapat mewujudkan nilai yang mereka yakini.

Frugal Living untuk Mencegah Pencemaran Lingkungan

Kelompok gerakan frugal living ini dikaitkan dengan pencemaran lingkungan. Kelompok ini memahami bahwa hampir semua aktivitas ekonomi memproduksi dan menghasilkan barang. Barang tersebut dikonsumsi manusia dan menjadi limbah, yang pada akhirnya mencemari dan merusak ekosistem.

Oleh karena itu, kelompok pendorong gerakan frugal living ini, meskipun memiliki kemampuan dan daya beli, namun menahan diri untuk membeli barang dan mengkonsumsi barang baru.

Mereka memilih menggunakan barang mereka lebih lama, atau memberi nilai tambah, atau mengkreasi barang yang seharusnya sudah menjadi sampah untuk dipakai kembali, sehingga mengurangi penambahan sampah, untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebuh parah.

Ratu Inggris, Elizabeth II melakukan hal ini. Pada setiap perayaan Natal, ia selalu sangat hati-hati dalam membuka kado Natal yang diterima istana. Ia tidak ingin merusak kertas kado tersebut untuk disimpan dan digunakan kembali. Majalah People menulis kebiasaan Ratu Elizabeth ini pada salah satu artikelnya.

Baca Juga: Damianus Lewar Koban : Seorang Penikmat Sejarah Lokal

“Setelah Natal, Elizabeth akan mengumpulkan dan merapikan kertas kado dan pita, dan menyimpannya untuk digunakan kembali. Ini untuk mengurangi sampah istana. Ini adalah kebiasaan yang terus ia pertahankan hingga kini”, tulis artikel tersebut.

Tokoh lain yang masuk kelompok pertama ini adalah aktor Leonardo DiCaprio. Artis Hollywood ini tidak tergiur untuk menghamburkan uang, dan menjalani hidup seperti orang biasa. Kekayaannya malah sering dialokasikan untuk kampanye penyelamatan lingkungan.

Ia mendirikan Leonardo DiCaprio foundation yang aktif melakukan kampanye dan gerakan penyelamatan lingkungan. Ia bahkan dikabarkan mendonasikan dananya sebesar US$ 30 juta atau setara Rp 420 milyar pada yayasan ini.

Frugal Living untuk Menyokong Gerakan Sosial Kemanusiaan

Tokoh yang mempraktikkan gaya hidup frugal living pada kategori kedua adalah Mark Zuckerberg. Milyarder dan CEO Facebook ini, dengan kekayaannya yang mencapai Rp 560 trilyun, mampu membeli 1 mobil Ferrarri setiap hari dalam sebulan, memilih tetap mengendarai mobil Volkswagen GTF seharga US$ 30.000.

Setiap hari, ia pun mengenakan baju kaus, celana jeans, dan sepatu kets, yang itu-itu saja. Ketika bepergian, ia sering terlihat bersama istri, makan di restoran Mc Donald.

Dengan gaya hidup sederhana ini, Mark dan istri gemar membagi-bagikan harta mereka untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Tak heran, pada tahun 2013, pasangan ini dinobatkan menjadi pasangan paling dermawan sedunia.

Baca Juga:4 Tindakan Yang Perlu Dihindari Agar Tidak Menyesal Di Hari Tua

Selain itu, Mark dan istri mendirikan yayasan nirlaba internet.org, agar akses internet dapat menjangkau masyarakat secara luas. Ia juga terkenal karena menggunakan uangnya untuk menggaji lebih tinggi karyawannya.

Di samping itu, Mark juga menyumbang Rp 350 milyar untuk mengatasi wabah ebola di Afrika, Rp 70 milyar untuk pendidikan anak pengungsi, dan masih banyak sumbangan lain yang bernilai fantastis.

Dari Indonesia, artis Cinta Laura ikut mempraktikkan frugal living kategori kedua. Pada saat artis lain menghabiskan uangnya untuk membeli barang bermerek, ia justru menghabiskan uangnya melalui Yayasan Soekarseno.

Baca Juga: Hebat; Anak Remaja Sudah Merokok

Melalui Yayasan ini, sejak tahun 2003, ia telah merenovasi dan membangun 10 gedung sekolah dasar yang kondisinya sangat parah dan membahayakan keselamatan murid yang belajar di dalamnya.

Yayasan ini juga mendirikan satu sekolah menengah pertama bernama SMP Pangerasan. Selain berupaya meningkatkan mutu pendidikannya, yayasan ini juga membangun gedung yang memadai dan menyediakan fasilitas untuk mendukung proses belajar mengajar sekolah ini.

Itulah tiga kelompok penganut gaya hidup frugal living. Gaya hidup yang mereka praktikkan menginspirasi dan menggugah banyak orang untuk terlibat dalam gerakan yang mereka sokong. Semoga Eduers terinspirasi untuk mengikuti gerakan  mereka.

Foto: ladyestory.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of