Banjir dan Kesesatan Berpikir

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Banjir yang terjadi di Jakarta dan juga beberapa kota lain di wilayah Jabodetabek seringkali dianggap sebagai peristiwa tahunan. Dalam sebuah siaran di stasiun TV, salah seorang warga mengaku tidak terkejut dan tidak panik ketika tempat tinggalnya dimasuki air.

“Saya dan keluarga biasa aja pak. Lagian sudah 20 tahun di sini dan selalu mengalami hal yang sama,” demikian kutipan singkat dari jawaban beliau menjawab pertanyaan dari reporter.

Tentu saja jawaban ini tidak untuk menggeneralisir semua perasaan yang dialami oleh warga yang terdampak banjir saat ini.

Sudah menjadi pengetahuan awam bahwa banjir adalah masalah sosial. Sebagai masalah sosial, maka persoalan banjir adalah persoalan bersama. Karena banjir adalah persoalan bersama, maka tanggung jawab dan upaya untuk mengatasinya pun harus dalam bingkai “kerja bersama”.

Baca Juga: Bersiaplah; Banjir akan Datang (lagi)!

Seringkali yang banyak terjadi selama ini adalah melihat masalah banjir sebagai bentuk kelalaian dan kegagalan dari pemerintah. Untuk konteks masalah banjir di Jakarta misalnya, banyak pengamat yang melihatnya sebagai kegagalan Anis dalam menata kota Jakarta.

Ini juga sebagai bentuk pengingkaran janjinya sendiri untuk menata dan menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas banjir. Lebih menyedihkan lagi ketika masalah banjir dijadikan sebagai komoditas politik untuk suatu kepentingan tertentu.

Tetapi sudahlah kita tak perlu berlangkah terlalu jauh. Intinya kita sepakati dulu bahwa saat ini Jakarta dan beberapa kota sekitarnya sedang dilanda banjir.

Memeriksa jawaban lengkap tentang penyebab terjadinya banjir, akan ditemukan beragam jawaban. Tetapi jawaban yang sudah menjadi konsumsi publik antara lain kurangnya daerah resapan air akibat dari pola pembangunan berbasis beton. Pembangunan selalu mengabaikan ruang bagi proses infiltrasi air. Penyebab lain adalah perilaku warga yang selalu mengabaikan aturan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Baca Juga: Ada Bahaya lebih Besar dari Banjir di Jakarta

Ini adalah konsekuensi logis dari kepadatan penduduk pada suatu kota. Mentalitas dan perilaku sulit untuk dikontrol dan diawasi secara ketat. Mengandalkan kesadaran diri adalah suatu keniscayaan terutama dalam konteks kehidupan sosial masyarakat di Jakarta.

Kesesatan Berpikir

Dalam sebuah dikusi di kelas sosiologi tentang masalah sosial, saya pernah mengangkat masalah banjir untuk dijadikan materi diskusi. Menarik ketika peserta diskusi memberikan pendapatnya mulai dari sikap pemerintah yang terkesan menanggapi masalah banjir sebagai suatu persoalan yang santai hingga pola atau cara berpikir yang sesat.

Saya sepakat, persoalan banjir yang sudah, sedang dan (mungkin) akan terus terjadi pada beberapa titik di Indonesia selalu berawal dari pola atau cara berpikir yang sesat. Atau dalam perkataan yang “lebih menyakitkan” mungkin dikarenakan oleh ketidakmampuan untuk berpikir.

Baca Juga: 5 Himbauan PLN yang Harus Diperhatikan Warga, Jika Rumahnya Dilanda Banjir

Kesesatan berpikir nampak dalam model pembangunan yang cenderung mengabaikan nilai-nilai lingkungan. Tak jarang yang dibayangkan dan dipikirkan oleh kebanyakan orang ketika membangun sesuatu adalah model tampak luar.

Konsep tentang yang indah dan megah itu selalu berafiliasi dengan gedung yang tinggi, beton berkualitas dan sebagainya.

Begitu juga dengan infrastruktur seperti jalan raya, yang “diagungkan” adalah ketebalan aspal dan lebar jalan. Pernah tidak orang memikirkan lebar dan kualitas selokan?

Kesesatan berpikir berikutnya adalah melihat banjir sebagai kado tahunan. Bahkan banjir dianggap sebagai sebuah habitus dalam sejarah kehidupan sosial warga Jakarta dan sekitarnya. Pola berpikirnya ya kalau nanti terjadi banjir, tinggal mengungsi saja. Apalagi ada petugas yang datang.

Sedangkan bagi anak-anak (bocah ingusan), melihat banjir sebagai “ruang permainan” yang baru. Banjir tak jarang dianggap sebagai kolam renang baru untuk menyalurkan bakat dan hobi berenangnya.

Baca Juga: Menanam Hujan, Menuai Air

Kita yang menyaksikannya tentu memberikan reaksi yang sedikit menjijikan. Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, penulis yakin pembaca sudah memahami apa maksudnya. Tetapi itulah realitas sosial masyarakat utamanya masyarakat di Jakarta pada saat terjadi banjir.

Rasa jijik, emosional bahkan keprihatinan kita seringkali sirna ketika bagi mereka yang terdampak justru melihatnya sebagai sebuah euforia di tengah kesusahan dan musibah kehidupan.

Kesesatan berpikir sebagaimana yang diuraikan di atas seharusnya diluruskan. Dalam situasi sulit seperti ini (baca: banjir) pilihan untuk saling membantu dan bersama-sama bekerja adalah sebuah keharusan.

Meski demikian tak jarang juga kita menemukan orang yang memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri beserta keluarga dan harta kekayaannya. Ini adalah fakta dan ril terjadi.

Tetapi yang ingin dtegaskan penulis adalah perubahan cara berpikir untuk senantiasa melihat banjir sebagai masalah sosial yang dampaknya mengancam keberlangsungan hidup banyak orang.

Saatnya untuk melakukan pembangunan dengan bersandarkan pada pemikiran yang cerdas dan tidak mengabaikan nilai kemanusiaan.

Lingkungan tempat tinggal, manusia dan segala keinginannya harus ditempatkan dalam satu kerangka berpikir yang tidak terpisahkan. Cara berpikir yang humanis dan mengutamakan nilai-nilai lingkungan hidup.

Penulis juga menulis Buku Dialektika Ruang Publik, Pertarungan Gagagsan / Foto: merdeka.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of