Menuju Adonara Baru (Bagian kedua)

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Antara Idea Vater dan Konsep Idea Plato

Eposdigi.com – Saya bertanya pada diri saya sendiri setalah percakapan Panjang dengan teman.  Lantas mengapa masih saja terjadi pembunuhan?  Mengapa masih ada perang tanding? Bagi orang Adonara ada dua motif utama sampai terjadinya pembunuhan atau perang tanding.

Kedua motif itu adalah Wanita dan Tanah. Saya telah melihat konsekwensi sebuah perang tanding. Mereka membakar tempat musuhnya secara brutal.  Mereka  merusak dan mengusir penghuni kampung. Banyak sekali korban jiwa berjatuhan.

Hal ini terus terjadi hanya karena masalah tanah dan wanita Adonara. Fenomena ini kemudian menggiring  opini publik bahwa tulisan Vatter masih sangat relevan. Tentu saja saya sebagai ATA DIKEN ADONARA merasa gelisah. Saya harus berani mengatakan tidak.  Bahwa sekiranya  ATA DIKEN ADONARA  tidak seburuk gambaran  Vatter.

Perang tanding dan korban nyawa tentu saja masih ada. Bahkan  mereka lebih massif dan mengerikan. Tetapi setidaknya saya perlu menelaah pemikiran  Vatter. Dan saya harus menunjukan dunia luar bahwa di tanah kami masih ada cinta dan  damai.

Memang di satu sisi pemahaman  Vater perlu dimaklumi. Ia berlaku  sangat subyektif dan intuitif. Apalagi pada saat itu, Vatter berhadapan dengan kehidupan yang masih sangat tradisionil. Vatter menghadirkan dirinya sebagai orang Eropa. Ia pasti menempatkan konsep logis and rasional ketika berhadapan dengan orang lokal. Tentu hal itu tidak akan pernah berjalan seiring.

Ernest  bahkan mengatakan secara frontal. Baginya pola hidup dan kharakter orang Adonara yang unik pada saat itu tidak dapat diterima secara logika di kalangan orang Eropa. Adalah hal lumrah Karena memang Vatter adalah orang Eropa. Ia  lahir di Eropa. Ia dibesarkan di Eropa. Ia  studi di eropa dengan prilaku dan pola pikir seperti orang Eropa.

Baca Juga: Perang Historis Adonara : Future without War, but Warriorship

Kalau dia mau mengerti orang Adoanara seharusnya dia tinggal bersama mereka. Dia harus berani hidup dan berpikir seperti orang Adonara. Kita perlu ingat saat itu kita masih dijajah oleh bangsa Belanda, bangsanya Vatter sendiri.

Meskipun secara implisit tentu saja rasa diri sebagai ‘tuan’ pasti ada. Ia sudah pasti memainkan peranan penting di sana ketika berbicara sebagai TUAN.

Semua orang tahu bahwa  seorang hamba tidak akan pernah lebih tinggi dari tuannya. Seorang hamba akan selalu mengamini apa yang diinginkan oleh Tuannya. Itu berarti Vatter sedang tersandara  dalam kepentingan politik para penguasa yang adalah bangsa Belanda.

Tulisan Vatter jauh sebelum kita lahir.  Tapi  kita perlu mengendus   apa yang ada di benak Vatter saat itu.  Di era  itu sangatlah mungkin, pemikiran Vatter berkiblat pada konsep Plato filsuf Yunani kuno akan IDEA. Vater barangkali mengalami shock budaya. Hal itu terlihat seperti perkataan vatter di atas.

Bahwa yang diterima oleh Vatter haruslah logis dan rasional. Apalagi saat itu orang orang Eropa seperti Vatter  lebih cenderung condong pada filsafat  Plato akan IDEA, sebagai filosofi dan prinsip hidupnya.

Sebagaimana intisasri dari paham Plato  tentang Idea ini selalu berkembang.  Ia selalu berawal dari Idea lalu dikembangkannya sebagai teori logika. Teori logika ini beranak pinak  menjadi falsafah  hidup, yang sampai pada saat ini telah menjadi dasar banyak Ilmu dan kehidupan manusia pada umumnya.

Baca Juga: Perang Historis Adonara : Kopong Medan dan Adonara yang Terus Berperang

Bagi Plato, Idea adalah bentuk yang abadi yang wujudnya adalah dalam alam lain. Idea kita tentang dunia ini hanya merupakan copy dari bermacam-macam derajat kebenaran dari Idea yang abadi.1] Hal ini terpapar pada suatu keyakinan akan adanya  eksi-stensi idea-idea. Menurut Plato dari seluruh Idea hanya ada satu sebagai yang  terbesar dan tertinggi.   ([1]T itus, Smith, N olan, ter. P e r s o a l a n – Persoalan Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang,1984), 80.

Ia menamakannya sebagai  kebaikan atau hal hal yang baik. Dengan demikian segala sesuatu yang berbenturan dengan kebaikan adalah sesuatu yang buruk.

Sampai pada tataran ini tulisan Vatter sepertinya membias ke dalam setali tiga uang. Pada satu sisi Vatter membenarkan konsep Plato.  Sesungguhnya pembunuhan adalah hal yang buruk.  Itu perlu ditolak dan kita semua pasti menerimanya.

Sementara pada sisi lain, Vatter melukai dan melakukan pembunuhan karakter. Ia secara bebas dan jelas mengatakan “Ata diken Adonara adalah kaum pembunuh, ini hal yang kita harus tolak. Di sini kita perlu belajar dari seorang Karl Poper. Ia berbicara tentang paradox kebebesan.

Filsuf  kelahiran Austria ini mengatakan bahwa yang disebut paradoks kebebasan adalah argumen tentang  kebebasan. Ia hadir dalam pemahaman  tentang tidak adanya kontrol yang membatasi, tetapi seyogyanya kebebasan itu sedang mengarah pada pengekangan yang sangat besar.

Karena hal itu membuat pelaku intimidasi bebas untuk memperbudak orang yang lemah lembut. Maka benarlah Vatter telah melupakan kelembutan, kesahajaan dan keramahtamahan Ata Diken Adonara yang unik ini.  Di sini Poper mengetuk hati “ATA DIKEN ADONARA”. Ia mengajak kita  untuk secara  tegas menolak  pandangan induktivis klasik tentang metode ilmiah yang mendukung pemalsuan empiris .

Bergerak ke Konsep dialektika Plato

Telah menjadi kenyataan bahwa tulisan vatter  melewati delapan dekade. Sampai pada saat ini  kegelisahan  memuncah. Ia terus menggelitik hatiku untuk tidak pernah membenarkan bahwa Adonara adalah Pulau Pembunuh. Karena kita “ATA DIKEN ADONARA” tidak dilahirkan untuk menjadi pembunuh dan dibunuh oleh siapaun juga. Kita selalu percaya bahwa kehidupan dan kematian selalu berada di tangan sang pemilik kehidupan.

Baca Juga: Perang Historis Adonara (Bagian Pertama): Vatter dan Bias Pendekatan

Dialah sang wujud tertinggi “Ama Rera Wulan Ina Tanah Ekan”. simbol yang membahasakan sang pemilik kehidupan. Ia yang maha besar jauh di sana, namun dirasakan pertolongan-Nya dalam kehidupan nyata. Orang Adonara melihat Matahari sebagai bapak, yang nun jauh di sana, tetapi sinar biasnya terasa begitu dekat di tubuh.

Demikianpun halnya tanah sebagai ibu yang melahirkan dan tempat kita berpijak. Karena itu kepada sang pemilik kehidupuan, ATA DIKEN ADONARA berserah diri. Maka itu berarti membunuh adalah haram hukumnya, karena ia akan berhadapan dengan sang pemilik kehidupan.

Vatter secara implisit menggring opini publik dengan diksi yang berkonotasi negative.  Bagaimanapun juga Vater telah melukai  hati kita semua. Ini telah melahirkan pengalaman traumatis yang secara terpaksa kita mewarisinya secara communal. Hal ini secara khusus  ketika kita berhadapan dengan fenomena perang tanding  yang belum juga berkesudahan. Untuk itu sebagai garda terdepan kita perlu berbuat sesuatu.

Saatnya kita berusaha untuk menyembukan luka bathin ini.  Tentu ini pekerjaan rumah yang teramat sangat berat. Lantas kapan di mana dan siapa yang diandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah ini? Ya sekarang  karena hari besok masih  memiliki kesusahanya sendiri.

Dan Siapa lagi kalau bukan “ATA DIKEN ADONARA” ? Karena memahami Ata Diken Adonara berarti harus memahami kompleksitasnya  secara  sosial, spiritual, budaya dan Adat istiadatnya. Dan memang hanya kita orang Adonara saja  yang bisa mengerti seperti orang Adonara, berjiwa Adonara dan menyelesaikannya secara ATA DIKEN Adonara. Hari Ini kita telah bergerak bersama dengan leher tegak atas nama “ATA DIKEN ADONARA”.

Kita harus merasa bangga denga putra putri Adonara yang berkualitas. Kita mempunya pemikir, penulis, akademisi dan politisi berskala Nasional maupun Internasional. Di sini di ruang diskusi EPU ORING ADONARA’  pai Puin Ta’an Uin To’u, Gahan Ta’an Kahan Ehan, Pai Ta’an tou” atau “Marilah kita bersatu padu. Secara sukarela kita sudah dan sedang merasa terpanggil untuk menggedor tulisan Vatter.

Baca Juga: Menuju Adonara Baru (Bagian Pertama)

Bahwa ia ternyata masih lupa  teori Dialektikanya Plato. Vatter lupa bahwa  ATA DIKEN ADONARA pada waktu itu telah mengenal dan mempraktekan konsep dialektikanya Plato. Kalau di Adonara bagian Ile Boleng konsep dialektika Plato dikenal dengan nama “KEPULANG”.

Di mana masyarakat duduk bermusyawah Bersama. Dalam kebersamaan itu mereka memutuskan dan menghasilkan kesepakatan secara bersama-sama demi kepentingan komunitas.

Maka di EPU ORING ADONARA ini kita sedang menyuarakan salah satu kearifan lokal kita “Kepulang” dalam diskusi yang selaras  dengan konsep dialektika Plato yang keren ini. Bagi Plato  untuk menuju pada suatu tujuan yang paling puncak, Plato mengajukan metode dialog.

Baginya, dialog ialah metode filosofis paling utama dan merupakan seni manusiawi paling tinggi. Maka ia mempertahankan dialektika sebagai keahlian mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban. (Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat 34)

Di ruang diskusi EPU ORING ADONARA ini, kita bersama mencoba mendaki menapaki puncak seni manusia yang paling tinggi ala Plato. Di sini kita duduk bercerita, berdialog, berdiskusi  bertanya dan menjawab,  menggali kearifan local kita yang semakin tertindas dibawa kemajuan modern dan tekhnologi.

Mari kita  bersama mencoba untuk mencari yang hampir saja  hilang itu.  Sembari kita berusaha untuk mencintainya kembali.

Kita mencintainya  seperti perasaan seseorang yang sedang kehilangan kekasih hatinya.   Tentu dengan  sejuta harapan bahwa ketika menemukannya,  kita tidak akan pernah mau kehilangan yang kedua kalinya.  “We love her until we almost lost her but now we found her and we never ever let her go again. Bersambung…

(Tulisan ini sebelumnya tayang di tokanilejadi.blogspot.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of