Gaya Gubernur NTT Memimpin dan Tantangan Kepemimpinan era Industri 4.0

Sospol
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Setidaknya, sudah dua kali Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat memberi hukuman fisik kepada aparatur Negara dan perbankan di NTT. Ia menyuruh ASN  Setda NTT dan pejabat Bank NTT lompat jingkrak. Hukuman tak lazim yang dilakukan di depan public ini kemudian viral.

Publik dan netizen NTT terpecah dalam menanggapi gaya orang nomor satu di NTT itu dalam menegakkan disiplin. Richard Lamanepa, lurah di salah satu kabupaten di Pulau Flores – NTT,  berpendapat bahwa para bawahan harus menyesuaikan diri dengan gaya tersebut.

Tanggapan berbeda datang dari akademisi Universitas Nusa Cendana Kupang. Adalah Dr Johanes Tuba Helan berpendapat bahwa apa yang dilakukan gubernur NTT tersebut mencederai etika birokrasi.

“Jauh lebih etis kalau gubernur memanggil mereka yang bersalah kemudian memberi sanksi di tempat tertutup dan dengan tegas mengingatkan agar jangan mengulangi kesalahan lagi”, tulis media ini (16/01/2020).

Baca Juga: Meneropong Gaya Kepemimpinan Gubernur NTT

Dalam mempengaruhi perilaku bawahannya, seorang pemimpin menggunakan berbagai kombinasi dari filosofi, latar belakang pendidikan, sifat serta sikap yang dimilikinya, untuk mencapai apa yang ia kehendaki.

Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan, mempengaruhi, mengendalikan dan mendorong orang lain yang ia pimpin untuk mencapai tujuan kepemimpinannya. Entah itu tujuan organisasi atau tujuan pribadi.

Apakah model atau gaya kepemimpinan gubernur NTT sesuai dengan konteks kepemimpinan saat sekarang ? Apa saja tantangan kepemimpinan pada era revolusi industri 4.0 hari ini?

Pertama, Pemimpin memiliki visi yang kuat.

Industri 4.0 ditandai dengan turbulensi perubahan yang cepat, tidak terduga, mencakup banyak dimensi dan pengaruh perubahan itu tidak dapat diprediksi dengan pasti. Visi ibarat jangkar yang memastikan organisasi tidak terombang ambing ganasnya gelombang perubahan.

Salah satu syarat visi yang kuat adalah harus melampaui tujuan organisasi maupun tujuan pribadi. Pemimpin era industri 4.0 tidak hanya memikirkan organisasinya kedalam, ia keluar dan mengarahkan organisasi yang dipimpinnya untuk membentuk tatanan kehidupan yang lebih baik. Ia membuat dunia yang lebih bersahabat bagi yang lemah dan terpinggirkan.

Baca Juga: VUCA vs VUCA; di tengah tingginya gelombang dan derasnya arus perubahan

Pemimpin era industri 4.0 harus memiliki visi yang melampaui visi rata-rata pemimpin biasa. Dan ia tahu pasti bagaimana mengerahkan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai visi tersebut.

Kedua; Siap mengambil resiko.

Gelombang perubahan yang tidak mudah diprediksi dalam revolusi industri 4.0 mengharuskan seorang pemimpin cepat tanggap terhadap perubahan itu. Memprioritaskan tujuan dan kadang mengabaikan prosedur pengambilan keputusan dalam situasi yang penting dan mendesak.

Pemimpin mengevaluasi dan mengontrol team, menerima, bahkan mendorong dan memotivasi team untuk memberi masukan dan feedbek agar dapat membuat keputusa yang cepat dan tepat.

Namun segala resiko dalam jenjang pengambilan keputusan yang dibuat, ada di tangannya. Ia tidak melempar tanggung jawab kepada orang lain.

Ketiga; Mampu membentuk team kerja yang efektif.

Pemimpin hari ini harus mampun membangun loyalitas team. Loyalitas yang bukan hanya mengikat pada orang, melainkan pada tujuan organisasi yang lebih besar. Oleh karena itu seorang pemimpin harus bisa mengidentifikasi bakat, minat, kompetensi anggota teamnya.

Pemimpin memberi kesempatan kepada semua orang sesuai bakat dan kompetensi yang mereka miliki. Penghargaan dan hukuman berbasiskan kinerja dan taat asas meritokrasi. Ia menjadi mitra sejajar bagi semua orang. Memiliki kemampuan untuk merangkul perbedaan.

Era industri 4.0 memang ditandai dengan robotisasi dan internet of things, namun team kerja manusia tetap menjadi titik pusat system organisasi.  Maka hubungan yang dibangun di antara team adalah hubungan yang  saling memanusiakan satu sama lain.

Garis komando dan hirarkis organisasi menjadi bias bergesar pada pada kolaborasi dan saling sinergi secara proaktif antar anggota team.  Ia menciptakan pemimpin berikutnya.

Baca Juga: Membaca “ Turis Miskin Dilarang ke NTT”

Resikonya pemimpin era industri 4.0, mungkin tidak disukai oleh semua orang. Terutama mereka yang mengharapkan prioritas tanpa kinerja. Pemimpin era industri 4.0 harus mampu menghilangkan politik identitas, dendam politik  dan politik balas jasa.

Keempat: Memiliki flesibilitas adaptasi terhadap perubahan.

Pemimpin era revolusi industri 4.0 memiliki jangkar visi dan tujuan organisasi yang kuat namun sangat fleksibel dalam cara pencapaiannya. Arah perubahan yang cepat dan tidak mudah diprediksi mengharuskan pemimpin era ini bertindak demikian.

Pemimpin harus bisa membangun kolaborasi lintas sektroral. Ia membawa teamnya keluar untuk bekerjasama sinergis  dengan semua orang. Ia hadir bagi semua jenjang, mendengar dan melihat serta turut ambil bagian dalam garis depan pencapaian organisasi. Ia bukan tipe jendral di balik meja.

Apappun pilihan gaya kepemimpinan, semua berharap bahwa Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan jajaran pemerintahannya mampu mengeluarkan provinsi Nusa Tenggara Timur dari stigma miskin dan tertinggal. (Foto: netralnews.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of