Dampak Buruk Media Sosial Bagi Pertumbuhan Remaja

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Media sosial, sejak dari awal, didesain untuk orang dewasa. Oleh karena itu, isi media sosial memang untuk memenuhi kebutuhan dan konsumsi orang dewasa pula. Itulah yang membuat setiap platform membatasi usia penggunaannya untuk mencegah remaja menggunakan media sosial.

Namun dalam kenyataan, banyak remaja memanipulasi umurnya untuk bisa membuat dan memiliki akun media sosial. Oleh karena itu, remaja terpaksa terpapar konten yang seharusnya belum perlu mereka konsumsi, mulai dari pornografi hingga informasi lain untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa.

Namun pada praktiknya, bukan hanya karena konten, tetapi cara kerja media sosial pun membawa banyak dampak buruk bagi remaja. Misalnya notifikasi setiap kali ada pesan baru masuk atau media sosial yang sangat responsif dan  terbuka untuk diakses selama 24 jam. Selain dampak baik, ini membawa dampak buruk bagi banyak remaja. 

Baca Juga :

Ini Langkah Tanggung Pemerintah Indonesia dalam Mencegah Dampak Buruk Media Sosial

Artikel ini bermaksud membahas dampak buruk tersebut dan mengajak orang tua dan guru bersinergi untuk membantu remaja mengatasi dampak buruk tersebut dan mengambil manfaat dari dampak positif yang dibawa oleh media sosial. Berikut uraiannya. 

Dampak buruk media sosial

Dampak buruk media sosial dapat dikelompokkan dalam dampak psikologis, dampak sosial, dampak fisik, dan dampak secara akademis dalam tumbuh kembang remaja.

Dampak Psikologis

Para ahli mencatat dampak buruk media sosial secara psikologi berupa gangguan kecemasan dan depresi: Media sosial dapat memicu perasaan cemas dan depresi pada remaja, terutama jika mereka merasa tidak cukup baik atau tidak populer dibandingkan dengan orang lain di media sosial.

Baca Juga :

Tayangan Kekerasan dan Etika Bermedia Sosial

Karena konten media sosial yang diakses remaja, para remaja membuat perbandingan sosial konten lain yang diakses.  Ini menyebabkan media sosial dapat memicu perbandingan sosial yang tidak sehat, membuat remaja merasa tidak puas dengan diri sendiri dan hidup mereka.

Ini bertentangan dengan kenyataan bahwa pada dasarnya setiap remaja adalah unik dan tidak ada duanya. Ini membawa dampak psikologis yang buruk bagi pertumbuhan remaja secara keseluruhan.

Dampak Sosial

Selain dampak psikologis, media sosial juga berdampak secara sosial bagi pertumbuhan remaja yang pada akhirnya berdampak secara psikologis pula. Dampak tersebut adalah remaja mengalami isolasi sosial. 

Baca Juga :

Media Sosial, Masyarakat Jaringan dan Kita

Media sosial dapat membuat remaja menjadi lebih terisolasi dan kurang berinteraksi dengan orang lain secara langsung karena keasyikan dengan media sosialnya. Ini membuat remaja jarang berinteraksi dengan orang lain, padahal interaksi tersebut adalah kebutuhan pertumbuhan remaja. 

Selain remaja terisolasi secara sosial, melalui media sosial banyak remaja juga mengalami cyberbullying. Melalui media sosial remaja juga tidak hanya dapat menjadi sarana untuk melakukan bullying dan intimidasi terhadap remaja tetapi menjadi korban cyberbullying.

Dampak Fisik

Karena keasyikan bermedia sosial, banyak remaja kurang aktivitas fisik. Hal ini membuat remaja menjadi lebih sedentary dan kurang melakukan aktivitas fisik. Padahal pada masa remaja, terjadi perkembangan fisik yang jika tidak dibentuk melalui aktivitas fisik, tubuh menjadi cenderung tidak sehat. 

Selain kurang aktivitas fisik, banyak remaja juga mengalami gangguan tidur.  Media sosial dapat mengganggu pola tidur banyak remaja, terutama jika mereka menggunakan media sosial sebelum tidur. Gangguan tidur menyebabkan banyak remaja menjadi tidak bugar secara fisik. 

Baca Juga :

Media Sosial Bukan Untuk Anak, Orang Tua Perlu Tahu Dampaknya

Dampak Akademik

Selain dampak yang telah disebutkan, dampak lainnya adalah banyak remaja mengalami dampak secara akademik yakni gangguan konsentrasi. Karena setiap pesan masuk selalu diikuti dengan notifikasi sehingga media sosial dapat mengganggu konsentrasi remaja dalam belajar dan mengerjakan tugas sekolah.

Ini pada akhirnya menyebabkan penurunan prestasi akademik banyak remaja.  Banyak penelitian menyimpulkan bahwa semakin banyak waktu dihabiskan dengan media sosial,  semakin dapat mempengaruhi prestasi akademik remaja. 

Peran Orang Tua dan Guru

Seperti diuraikan di atas, ada banyak dampak buruk media sosial. Namun sebagai produk peradaban, media sosial juga berdampak baik. Oleh karena itu, jika tidak dapat dicegah paling tidak orang tua dan guru perlu mendampingi remaja.

Baca Juga :

Media Sosial Menjadi Salah Satu Penyebab Depresi Pada Anak dan Remaja Kita. Apa yang Harus Kita Lakukan?

Pendampingan tersebut diperlukan agar remaja bijak dan seimbang menggunakan media sosial, sekaligus dapat mencegah dampak buruk serta maksimal memperoleh manfaat dari media sosial. 

Peran Orang Tua

Untuk membantu remaja memperoleh manfaat dari media sosial, orang tua perlu mengupayakan komunikasi yang terbuka dengan remaja tentang bagaimana menggunakan media sosial dan dampaknya pada pertumbuhan mereka. 

Selain komunikasi terbuka, orang tua juga diharapkan berperan dalam pembatasan penggunaan media sosial, termasuk pembatasan waktu akses media sosial. Ini termasuk akun mana yang boleh diakses, akun mana yang tidak boleh diakses.  

Baca Juga : 

Hal-hal Ini Harus Dilakukan Orang Tua Agar Anak Tidak Kecanduan Gadget

Kapan boleh menggunakan media sosial dan kapan tidak boleh. Ini dikaitkan dengan status remaja sebagai pelajar. Atau kapan bermedia sosial dan kapan waktunya belajar, di mana porsi waktunya lebih besar untuk belajar. 

Peran lain yang sangat diharapkan dari orang tua adalah pemantauannya, untuk memastikan remaja konsisten dengan arahan orang tua. Orang tua perlu memantau aktivitas remaja bermedia sosial tanpa melanggar privasi mereka. 

Peran lain yang juga diharapkan dari orang tua adalah memberikan pendidikan tentang keselamatan online dan bagaimana menghindari bahaya media sosial. Ini perlu karena  media sosial sekarang telah menjadi pasar untuk semua produk peradaban, baik yang paling baik, maupun yang paling buruk. 

Peran Guru

Selain orang tua, guru juga sangat diharapkan perannya dalam membantu remaja mengambil manfaat dari media sosial untuk pertumbuhannya. Salah satunya adalah mengintegrasikan media sosial dalam proses belajar mengajar, bahkan dengan kurikulum sekolah.

Baca Juga :

Data Penelitian Terbaru, Orang Indonesia Semakin Parah Kecanduan pada Gadget

Selain itu guru juga diharapkan mendiskusikan tentang media sosial dan dampaknya dalam kelas. Ini diharapkan membuat anak membuat anak melihat benang merah perhatian antara orang tua dan guru. Bahwa guru dan orang tua memiliki kemauan yang sama dalam pertumbuhan remaja terkait dampak media sosial.  

Selain itu, guru juga diharapkan berperan dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis, terkait penggunaan media sosial. Dengan kemampuan berpikir kritis diharapkan remaja lebih banyak memperoleh manfaat positif dari media sosial.

Peran lainnya adalah, guru diharapkan membantu orang dalam mengawasi dan memantau penggunaan media sosial remaja, tentu saja dengan tetap menghormati privasi remaja selama mereka berada di lingkungan sekolah.

Itulah dampak buruk media sosial dan upaya pendampingan yang melibatkan peran orang tua dan guru. Peran tersebut akan menjadi sangat efektif jika orang tua tidak hanya mengajarkan dan mendampingi remaja dalam bermedia sosial, melainkan menjadi contoh yang baik dalam bermedia sosial. 

Baca Juga :

Di Usia Berapa Seorang Anak Boleh Diberi Gadget oleh Orang Tua?

Remaja akan lebih banyak belajar dari contoh orang tua daripada ribuan kata kata pendampingan orang tua dan guru. Maka selain mengajari remaja bermedia sosial, orang tua harus terlebih dahulu menjadi contoh dalam mengambil manfaat positif dari media sosial. 

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto ilustrasi dari  fisip.umsu.ac.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of