Eposdigi.com – Saya agak kesulitan membayangkan Lamaholot tanpa kapas. Kapek. Bukan hanya soal fungsinya sebagai bahan baku pembuat benang, yang kemudian menjadi tenun ikat. Kapek (dalam bahasa Lamaholot) atau kapas – sejauh yang saya ketahui – rasanya sangat sulit dipisahkan dari banyak ritual adat di Lamaholot.
Apalagi ketika Kapek sudah menjadi Lelu. Kapek itu seluruh bagian tumbuhan kapas. Bisa untuk batang, daun atau terutama buahnya. Buah yang masih ada bijinya juga disebut kapas. Saya sebenarnya ingin mengantar kita semua untuk melihat Kapek dan Lelu yang berbeda secara makna.
Kapek itu mewakili buah kapas yang masih ada biji – berwarna hitam. Ketika biji ini dipisahkan dalam sebuah proses untuk menjadi benang – bahan baku untuk menenun- penyebutannya kemudian berubah.
Baca Juga:
Kapek menjadi Lelu. Apalagi jika sebutan Lelu mendapat tambahan kata ‘Buran’ dibelakangnya. Lelu Buran (kapas – berwarna – putih) tidak lagi bermakna harfiah. Lelu Buran tentu saja sudah bermakna simbolis dalam ritual adat.
Kapas tentu saja sudah berwarna putih, kita semua tahu itu. Karena itu Lelu Buran jells memiliki makna lebih mendalam. Lelu Buran yang sering digunakan dalam berbagai ritual adat boleh saya katakana sebagai simbol bagi sesuatu yang bersih, putih.
Lelu Buran juga bisa kita maknai sebagai sesuatu yang telah dihilangkan bagian hitamnya, sehingga bisa menjadi media untuk membersihkan yang kotor.
Baca Juga:
Menggagas Sumpah Adat Saat Pelantikan Pejabat Publik di Lamaholot
Jika kita sedikit memperhatikan secara detail, biasanya para pemimpin ritual yang di tangannya memegang Kapek – buah kapas yang masih ada bijinya -, biasanya hanya mengambil serat kapas yang berwarna putih untuk digunakan dalam ritual.
Lelu Buran juga adalah bahan utama untuk membuat tenun ikat. Kain. Pakayan. Karena itu Lelu Buran juga mengandung makna lain yaitu pelindung. Tentu pakaian yang terbuat dari Lelu yang diolah menjadi benang dan diproses tenun menjadi kain, tidak hanya melindungi tubuh manusia dari dingin.
Kewatek atau Nowin – hasil tenun yang terbuat dari benang jelas memiliki makna yang lebih mendalam dari sekedar pelidung tubuh, ragami semata.
Kewatek dan Nowin tidak hanya pakaian. Kewatek dan Nowin juga memiliki makna spiritual. Kewatek dan Nowin selain yang digunakan sebagai penutup tubuh agar tidak telanjang juga merupakan pelindung harkat dan martabat manusia seutuhnya, tidak hanya raganya saja.
Baca Juga:
Mahar Gading Gajah lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot?
Karena itu Kewatek dan Nowin kerap kita gunakan sebagai pemberian untuk menyambut tamu. Kewatek dan atau Nowin yang kita berikan adalah simbol bahwa kita menghormati tamu yang berkunjung.
Orang Lamaholot tentu juga menyadari bahwa “loge-boren” tidak hanya kata yang berarti “memakaikan” pakaian kepada seseorang. Loge-boren adalah ungkapan yang menegaskan sebuah proses untuk menjaga harkat dan martabat orang yang dipakaikan Nowin dan atau Kewatek.
Inilah nilai adiluhung tentang menghormati martabat manusia yang disimbolkan oleh Kapek baik dalam bentuk Lelu Buran yang dipakai dalam ritual-ritual adat maupun sudah dalam bentuk pakaian yang dipakai dalam penyambutan tamu, bahkan yang dipakai dalam keseharian. Bersambung….
Foto dari kompas.com
Leave a Reply