Eposdigi.com – Pemerintah, melalui Kementerian Sosial (Kemensos RI) akan segera meluncurkan Sekolah Rakyat. Sekolah ini rencananya akan menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin, terutama keluarga miskin ekstrim.
Presiden Prabowo Subianto meminta agar sekolah rakyat ini didirikan mulai dari tingkat SD, SMP, kemudian SMA. Untuk tahap pertama sekarang ini Kemensos sedang mempersiapkan pendirian 200 sekolah rakyat di tingkat SMA, 53 lokasi sudah siap.
Kemensos mentargetkan tiap jenjang di setiap lokasi menyediakan fasilitas pendidikan untuk menampung 300-500 peserta didik. Sehingga satu sekolah rakyat di satu lokasi dengan tiga jenjang pendidikan, akan menampung kegiatan untuk 1.000 peserta didik.
Saat ini Kemensos sudah menyiapkan 41 sentra dan balai milik Kemensos dan beberapa lokasi lain sehingga 53 lokasi sudah siap. Di antaranya di Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Kalimantan, dan Papua.
Baca Juga :
Menyambut Kehadiran SMA Unggulan Garuda dengan Beberapa Catatan
Sekolah ini menyasar kelompok desil 1 dan desil 2 yang merupakan masyarakat dengan kondisi ekonomi paling rentan. Presiden meminta agar Kemensos dan seluruh jaringannya, melakukan konsolidasi semaksimal mungkin untuk menjangkau kelompok ini.
Tentang kurikulumnya, belum lama ini, dalam sebuah kesempatan, Saifullah Yusuf Menteri Sosial mengatakan, kurikulumnya akan menggunakan kurikulum sekolah unggulan yang hingga saat ini masih terus digodok, dibandingkan dan dimodifikasi oleh pemerintah.
Ini adalah langkah pemerintah untuk hadir dalam kehidupan masyarakat miskin, untuk mendorong kebangkitan kelompok ini menuju Indonesia emas tahun 2045. Kita bersyukur karena langkah ini akhirnya diambil oleh pemerintah setelah alpa, selama 70 tahun.
Tulisan ini sebagai upaya ikut sumbang saran untuk perumusan kurikulum Sekolah Rakyat, hal yang sangat mendasar dan inti dari sebuah sekolah yang hingga saat ini masih dalam proses perumusan oleh pemerintah.
Baca Juga :
Deep Learning: Tren Pendidikan yang Menghidupkan Esensi Kurikulum Merdeka
Kurikulum Sekolah Rakyat
Anak dari keluarga miskin ekstrim di Indonesia membutuhkan kurikulum yang memberdayakan yang membuat mereka dapat beradaptasi pada perubahan, dapat bersaing sehingga dapat melakukan mobilitas sosial ke kelas masyarakat yang lebih baik dari kelas sebelumnya.
Oleh karena itu, tugas Sekolah Rakyat menghantar dan menolong peserta didiknya pertama-tama untuk mengenali potensi dan mengembangkan potensi tersebut untuk menjadi manusia yang dewasa, utuh dan mandiri.
Menurut Romo Mangunwijaya, ini adalah gambaran manusia merdeka, yang peduli dan solider pada sesama manusia lain dalam upaya meraih kemanusiaan yang semakin sejati dengan citra diri yang semakin utuh, harmonis dan integral. Ini hanya bisa terwujud melalui upaya belajar sepanjang hayat.
Oleh karena itu, Sekolah Rakyat harus mampu mendampingi dan membekali peserta didik agar secara perorangan menjadi pribadi yang cerdas, jujur, berkarakter, terampil, takwa dan utuh. Secara sosial menjadi manusia yang memiliki empati, solider, mau terlibat dan bertanggung jawab.
Baca Juga :
Maka ada tiga tujuan kurikulum yang mengarah ke proses emansipasi peserta didik guna mewujudkan tiga tujuan emansipatorik yaitu membentuk peserta didik menjadi manusia eksplorator, manusia kreatif dan manusia integral.
Manusia eksplorator adalah manusia yang memiliki rasa ingin tahu; suka mencari, bertanya, berpetualang. Mereka percaya bahwa manusia yang bertanya jauh lebih tinggi tingkatnya daripada yang pintar menjawab pertanyaan.
Manusia kreatif adalah manusia yang kritis, berjiwa terbuka, pembaharu, merdeka, kaya imajinasi dan fantasi. Mereka adalah manusia yang tidak gampang menyerah pada nasib, karena imajinasi dan fantasi menuntun mereka ke kemungkinan dan alternatif baru yang lebih baik.
Manusia integral adalah manusia yang sadar akan kompleksitas kehidupan, paham akan adanya kemungkinan lain dan jalan alternatif, pandai membuat pilihan atas dasar pertimbangan yang benar, yakin pada kebhinekaan dan mampu mengintegrasikannya dalam kerangka yang sederhana.
Baca Juga :
Menag Siapkan ‘Kurikulum Cinta’ Melalui Pelajaran Agama di Sekolah
Menurut Romo Mangunwijaya, itulah inti dari tujuan pendidikan bagi masyarakat miskin yang menjadi tujuan kurikulum sekolah bagi masyarakat miskin. Jika dapat diwujudkan melalui implementasi praksis pendidikan Sekolah Rakyat, inilah yang diyakini akan memutus mata rantai kemiskinan dalam masyarakat kita.
Tujuan kurikulum tersebut akan menjadi landasan untuk merumuskan kebutuhan dan profil guru yang dibutuhkan dalam implementasi kurikulum tersebut. Selain kebutuhan guru, subyek kurikulum atau bidang studi yang menjadi sarana untuk mewujudkan real kurikulum juga dirumuskan dari tujuan kurikulum tersebut.
Selain itu tujuan kurikulum juga menjadi patokan utama dalam melakukan evaluasi kurikulum untuk menilai pencapaian real kurikulum dalam implementasi kurikulum tersebut termasuk dalam jangka panjang, menilai kiprah lulusan Sekolah Rakyat dalam masyarakat.
Selanjutnya akan dibicarakan beberapa detail kurikulum Sekolah Rakyat yang merupakan penjabaran tujuan kurikulum dalam rangka mewujudkan real kurikulum seperti profil gurunya, iklim sekolahnya, termasuk subjek kurikulumnya secara garis besar.
Baca Juga :
Kurikulum Merdeka Akan Diganti Dengan Kurikulum Baru? Ini Kata Kemendibud
Untuk kondisi keragaman potensi wilayah Indonesia sebaiknya gambaran real kurikulum dirumuskan oleh tim kurikulum masing-masing sekolah berdasarkan rumusan tujuan kurikulum diatas agar real kurikulum menjadi kurikulum yang lebih operasional. Berikut gagasan besarnya.
Kebutuhan dan profil guru Sekolah Rakyat
Ketika memutuskan untuk menjadi guru, semua guru pasti pasti menyiapkan diri melalui pendidikan pra jabatan tertentu sehingga mereka memiliki bekal yang mereka perlukan untuk terlibat dalam pengembangan real kurikulum di Sekolah Rakyat.
Oleh karena itu penguasaan hal-hal seperti filosofi pendidikan, pemahaman tentang manusia terutama peserta didik, penguasaan psikologi pendidikan dan mengajar termasuk manajemen pengelolaan kelas, tidak perlu dibahas lebih detail.
Yang perlu ditegaskan adalah bahwa guru yang dibutuhkan adalah guru yang meyakini bahwa tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak adalah unik dan memiliki naluri alamiah untuk bertumbuh. Maka kata Romo Mangunwijaya setiap guru harus menjadi Ibu, Bapak, kakak yang menyayangi peserta didik.
Baca Juga :
Sekolah Rakyat tidak membutuhkan guru tipe instruktur, indoktrinator, penatar, birokrat, komandan bahkan pawang. Semua guru Sekolah Rakyat harus bekerja dengan prinsip ajrih-asih dalam atmosfer sekolah yang penuh dengan kekeluargaan, kesetiakawanan, saling menolong untuk maju bersama.
Iklim yang dikembangkan guru di Sekolah Rakyat adalah iklim kerja sama, bukan iklim persaingan, tanpa mematikan usaha peserta didik untuk meraih yang terbaik yang dimungkinkan oleh potensi masing-masing peserta didik.
Iklim pendidikan ini hanya dapat diciptakan jika semua guru dalam pimpinan kepala sekolah bekerja sebagai satu tim, yang saling menghargai kelebihan dan saling mengisi sisi lemah masing-masing dalam kerjasama yang saling menumbuhkan sebagai pribadi dalam satu tim. Guru-guru harus paham tujuan kurikulum Sekolah Rakyat dengan baik.
Baca Juga :
Selain itu, guru-guru Sekolah Rakyat adalah pribadi-pribadi pembelajar sepanjang hayat yang terus membaca dan memiliki semangat belajar untuk memberi yang terbaik dan inspiratif bagi peserta didik. Selain itu guru Sekolah Rakyat adalah pendengar aktif, bagi peserta didik.
Selanjutnya masih ada uraian tentang usulan subjek kurikulum Sekolah Rakyat dan bagaimana subjek kurikulum tersebut diimplementasikan agar dapat menjadi sarana bertumbuh bagi semua peserta didik.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis/ Foto ilustrasi wikimedia.org
Leave a Reply