Eposdigi.com – Vonis untuk Sambo,cs sudah diketuk oleh Hakim Pengadilan Negri Jakarta Selatan. Yang paling terakhir kemarin (15-Februari 2023) adalah vonis terhadap Eliezer dengan hukuman pidana penjara satu tahun enam bulan.
Kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J memang menyita perhatian semua kalangan hingga muncul kelompok dukungan terhadap para terdakwa. Para intelektual hukum juga seakan terpecah dengan cara pandang dan keilmuan masing-masing.
Termasuk ketika vonis hukuman mati bagi pak Sambo, suara mengatasnamakan HAM untuk pak Sambo bermunculan bahkan sebuah lembaga gereja yang ikut menyuarakan HAM dengan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci menolak hukuman mati pak Sambo.
Di tengah hiruk pikuk dukungan itu kita sepertinya melupakan sosok korban Brigadir J yang telah kehilangan nyawa dan kehidupan. Namun adakah suara meneriakan HAM untuk Joshua?
Apakah lembaga gereja tersebut juga pernah meneriakan suara HAM untuk Brigadir J dan keluarga terutama kedua orang tua Brigadir J yang hingga hari ini masih mengalirkan air mata kesedihan dan duka?
Baca Juga:
Kita semua, termasuk saya pribadi tidak menyetujui hukuman mati. Namun saya juga tidak setuju kalau suara mengatasnamakan HAM itu disuarakan setelah vonis hakim dan seakan menutup mata terhadap kematian Brigadir J serta duka mendalam kedua orang tua, keluarga dan tunangan dari Brigadir J.
Saya juga tidak menyetujui tindakan menembak yan dilakukan oleh Bharada E, apapun alasannya. Namun kalau kita berbicara tentang HAM maka kita juga perlu melihat dan mempertimbangkan keberanian Bharada E untuk mengambil jalan sendiri, jalan terjal dalam sebuah kejujuran mengungkap fakat kejadian yang sebenarnya.
Bagi saya pribadi keberanian dan kejujuran seorang Bharada E adalah bagian dari suara memperjuangkan HAM bagi seorang Brigadir J agar kematiannya menjadi jelas dan terbuka.
Dan ketika Bharda E mendapatkan simpati dan dukungan dari berbagai kalangan yang kemudian oleh sebagian menunduh dan menghakimi bahwa keputusan hakim menjatuhkan vonis ringan bagi Bharada E adalah karena tekanan massa-itu adalah memperjuangkan HAM bagi seorang Joshua yang kematiannya hampir saja dibungkus dalam skenario kebohongan yang pada gilirannya bisa hilang tanpa jejak.
Sebagaimana dukungan bagi pak Sambo mengatasnamakan HAM maka dukungan pada Eliezer karena keberanian dan kejujurannya adalah juga dalam kerangka mengatasnamakan HAM Brigadir J yang awal kematiannya dibungkus dalam sebuah skenario kebohongan.
Saya terharu saat membaca ungkapan hati Putri pak Sambo ketika ayahnya divonis dengan hukuman mati.
Baca Juga:
Sampai saya mengatakan dalam hati pribadi saya; “jika saja pak Sambo dan Ibu Putri mendengarkan nasehat bijak dari pak Kamarudin Simanjutak yang adalah pengacara keluarga korban Joshua yaitu mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada kedua orang tua Birgadir J tentu vonisnya akan beda.
Kalau pada hari-hari ini setelah vonis hakim untuk pak Sambo, cs diputus terdengar suara-suara yang mengatasnamakan HAM termasuk sebuah lembaga gereja tersebut, pertanyaan yang muncul adalah apakah kelompok-kelompok dan lembaga gereja tersebut sebelumnya juga atasnama HAM mengusahakan sebuah jalan rekonsiliasi antara para terdakwa dengan keluarga Brigadir J sebagaimana yang dilakukan oleh pak Kamarudin Simanjutak?
Kalau mengatasnamakan HAM untuk pak Sambo namun kemudian menjadi diam dan bahkan tidak pernah mendengungkan suara HAM untuk Joshua maka itu adalah sebuah ketimpangan HAM.
Suara HAM mendapatkan maknanya ketika korban dalam hal ini Brigadir J juga mendapatkan perhatian utama dan menjadi fokus dalam memperjuangkan HAM sehingga suara HAM yang sama juga untuk para terdakwa mendapatkan makna keadilan dan kebenaran yang seimbang.
Baca Juga:
Dalami Kasus Penembakan Warga, KOMNAS HAM KalBar Kunjungi TKP
Kalau memang mengatasnamakan HAM untuk pak Sambo, mengapa tidak sejak semula sebelum vonis dijatuhkan tidak menjadi sahabat pengadilan untuk pak Sambo seperti yang dilakukan oleh beberapa kelompok dan alianasi serta akademisi untuk Bharada E?
Saya justru menjadi sedih dengan pak Sambo yang dibiarkan berjalan sendiri selama persidangan namun ketika vonis dijatuhkan sebagian muncul sebagai pahlawan mengatasnamakan HAM untuk pak Sambo.
Jika memang menyuarakan HAM, mengapa lembaga gereja tersebut sejak kematian Brigadir J tidak menjadi instrumen perdamaian dan rekonsiliasi bagi keluarga pak Sambo dalam hal ini anak-anak pak Sambo dengan keluarga Brigadir J?
Kalau lembaga gereja tersebut menyadari, sejatinya pak Sambo, Brigadir J, Eliezer adalah jemaat mereka.
Maka kalau lembaga gereja tersebut menyadari tugasnya sebagai pembawa perdamaian dan rekonsiliasi bisa menjadi mediator perdamaian yang mempertemukan anak-anak pak Sambo, keluarga Bharada E dan Brigadir J duduk dalam satu meja perdamaian untuk saling memaafkan dan mengampuni tanpa mengabaikan proses hukum yang sedang berlangsung. Itu baru namanya memperjuangkan HAM.
Kalau menyuarakan HAM namun tetap membiarkan luka, duka bahkan “kebencian” antara keluarga Brigadir J dengan keluarga pak Sambo dalam hal ini anak-anak mereka yang masa depannya kedepan tidak bisa kita prediksi, maka suara HAM bersuara sumbang karena tetap membiarkan “kebencian” itu tumbuh subur.
Baca Juga:
Maka bagi saya yang paling penting dilakukan adalah bagaimana lembaga gereja tersebut menjadi instrumen rekonsiliasi bagi anak-anak pak Sambo, keluarga Bharada E dan keluarga Brigadir J.
Saya mengundang para sahabat ataupun pendukung Bharada E untuk menjadi Sahabat bagi Brigadir J juga bagi anak-anak pak Sambo. Anak-anak pak Sambo juga secara tidak langsung menjadi “korban” dari peristiwa ini.
Maka mari kita bergandengan tangan menjadi instrumen perdamaian untuk keluarga Brigadi J dengan keluarga Bharada E dan anak-anak pak Sambo.
Mari kita berikan dukungan moral bagi keluarga Brigadir J namun juga kepada anak-anak pak Sambo.
Kalau kita menghargai kejujuran dan keberanian Bharada E, maka hargailah dan berilah dukungan yang sama besarnya kepada keluarga Brigadir J, berdiri bersama Brigadir J dan tunjukan bahwa kita adalah pejuang keadilan dan HAM sejati dengan memberikan dukungan kepada anak-anak pak Sambo.
Manila: 16-Februari, 2023
Leave a Reply