Ternyata Pewarisan Nilai juga Dilakukan Lewat Cara Ini

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sejauh ini kita mengenal dan mengetahui bahwa pewarisan Nilai, dalam konteks Ata Diken Lamaholot adalah melalui budaya tutur. Nilai-nilai budaya kita diturunkan melalui cerita dari orang tua kepada anak-anaknya, dan seterusnya, generasi demi generasi.

Nilai walaupun bersifat abstrak dan tidak temukenali oleh alat indra, namun para  ahli mendefinisikan nilai  sebagai pemaknaan atas suatu tindakan, cara untuk memeriksa apakah sesuatu mengandung kebenaran, mengandung estetika (keindahan) dan/atau sesuatu bersifat religius.

Nilai dapat dialami ketika ia menggambarkan sesuatu yang berguna untuk menjadikan seseorang semakin manusiawi, mempresentasikan apa yang diinginkan, apa yang berharga.

Baca juga: 

Posyandu Lansia, Budaya Tutur dan Pewarisan Nilai

Karena itu, nilai selalu mempengaruhi dan menjadi dasar atau landasan perilaku seseorang, entah sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat dimana sebuah nilai berada.

Secara sosial, nilai dianggap sebagai tuntunan, yang menunjukan jalan sehingga menjadi pola perilaku manusia di dalam masyarakat.

Karena nilai dianggap sebagai sesuatu yang baik dan benar, maka dari nilai pulalah kita dapat membedakan antara yang baik dari yang buruk, yang benar dari yang salah, yang adab dari yang biadab, yang pantas dari yang tidak pantas.

Karena itu, nilai menjadi identitas yang khas dari sebuah komunitas masyarakat dimana sistem nilai itu diterapkan.

Nilai sebagai pola perilaku berarti nilai telah menjadi landasan berperilaku dari masing-masing individu di dalam masyarakat yang dilakukan berulang-ulang kali sehingga menciptakan sebuah pola perilaku yang khas, yang ditemu kenali oleh masyarakat yang memiliki sistem nilai yang berbeda dari mereka.

Baca juga:

Kuat Kemuha Koda: Totalitas Hingga Tuntas

Koentjaraningrat memasukan sistem nilai kedalam wujud kebudayaan pada sisi paling dalam bersama dengan, sistem ide atau gagasan dan norma-norma sosial, yang mempengaruhi pola perilaku dan kompleksitas aktivitas manusia, serta kebiasaan yang menjadi pola tindakan, sebagai wujud kebudayaan yang kedua.

Sementara wujud kebudayaan yang ketiga, yang berada di kulit paling luar sebagai hasil karya berwujud benda-benda, materi yang diciptakan manusia dari pola perilaku dan aktivitas manusia.

Sebagai sebuah pola perilaku, nila selalu bersifat tetap, sementara ekspresi nilai dalam kata lain, tindakan dan aktivitas manusia yang kompleks kadang menyesuaikan diri dengan nilai-nilai budaya baru sehingga melahirkan cara bertindak baru.

Pertanyaannya adalah, apakah pewarisan nilai, terutama oleh Masyarakat Lamaholot, hanya melalui tutur turun temurun?

Penganut sistem nilai dalam budaya Jawa mengidentifikasi seseorang berdasarkan Bibit, Bebet dan Bobot. Seseorang ditemu kenali berdasarkan darimana ia berasal, garis keturunannya.

Tidak disangkal bahwa perilaku yang berpola, atau yang dilakukan secara berulang-ulang menjadi kebiasaan. Biasaan ini kemudian masuk ke alam bawah sadar kemudian menjadi insting.

Endapan insting yang berada pada alam bawah sadar manusia juga mempengaruhi ekspresi gen. dengan demikian tidak hanya melalui penuturan turun temurun, nilai diwariskan juga turun temurun melalui genetika Ata Diken Lamaholot.

Baca juga:

Totem dan Tabbo dalam Konteks Adonara

Studi Perilaku Genetika yang dipelopori oleh ilmuwan asal Inggris, Francis Galton sedikit banyak melahirkan penelitian-penelitian lanjutan mengenai pewarisan perilaku berdasarkan faktor genetika. 

Penelitian-penelitian ini membuktikan bahwa bukan hanya bentuk fisik, namun sifat dan karakter seseorang juga diwariskan melalui genetika gari orang tuanya.

Pewarisan nilai secara genetik inilah yang membuat Ata Diken Lamaholot masih bisa mempertahankan nilai-nilai warisan leluhur walaupun digempur oleh budaya budaya lain yang merasuk dalam relung-relung kehidupan masyarakat Lamaholot.

Karenanya tantangan kedepan dari kita semua Ata Diken Lamaholot adalah menjaga perilaku agar tetap seturut nilai-nilai luhur. 

Sebab tanpa kita sadari pola perilaku kita yang turun ke alam bawah sadar menjadi insting, akan mempengaruhi ekspresi gen, yang ada gilirannya akan diwariskan kepada setiap generasi kita selanjutnya lewat faktor genetik yang kita turunkan.

Foto: Sultansinindonesiablog

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of