Mengapa Harus Sinovac?

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Rekor harian penambahan kasus positif Covid-19 terpecahkan lagi. Penambahan tertinggi sebelumnya tercatat sebanyak 8.369 kasus pada 3 Desember lalu kemudian menjadi 8.854 6 Januari 2021. Kasus positif tercatat hari ini sebesar 9.321 memecahkan rekor tertinggi itu.

Rekor ini bukan prestasi. Ini adalah gambaran bahwa sebagai bangsa kita gagal mengendalikan penyebaran Covid-19. Angka kematian hingga hari ini sejumlah 23.520 memberi gambaran bahwa corona sangat berbahaya.

Salah satu upaya yang saat ini sedang ditempuh pemerintah adalah vaksinasi untuk mencegah semakin menyebarnya Covid-19.

Jadwal pemberian vaksin corona telah dirilis pemerintah. Seperti dilansir cnbcindonesia.com (02/01/2021);  Periode 1 : – Januari hingga April 2021 dikhususkan bagi tenaga-tenaga kesehatan dan semua mereka yang bekerja pada fasilitas-fasilitas kesehatan. Merekalah garda terdepan dalam perang melawan Covid-19. Periode ini ditargetkan bagi 1,3 juta penerima.

Ayo Baca Juga: Siapa Yang Diprioritaskan Untuk Mendapat Vaksin Corona?

Masih pada bulan yang sama, periode 2 dikhususkan untuk semua petugas pelayanan publik. TNI/Polri, guru, petugas pelayanan publik di bandara, terminal, pelabuhan, stasiun.  Singkatnya semua petugas yang memberikan pelayanan public secara langsung kepada masyarakat. Jumlahnya 17,4 juta petugas.

Termasuk pada periode kedua ini adalah masyarakat umum dalam kelompok usia lebih dari 60 tahun. Tergetnya vaksin diberikan kepada 21,5 juta orang.

Periode 3, dijadwalkan pada April tahun ini hingga Maret tahun depan. Sasarannya adalah masyarakat yang rentan secara ekonomi dan social. Dengan kriteria tambahan mereka juga rentan terhadap penularan Covid-19. Jumlahnya sekitar 63,9 juta orang.

Dan Periode ke 4 juga selama April 2021 hingga Maret 2022, diberikan kepada 77,4 juta penduduk dengan pendekatan cluster sesuai ketersediaan vaksin.

Dari banyak vaksin yang tersedia saat ini,  Vaksin Sinovac buatan China menjadi yang paling banyak dipesan. Vaksin Sinovac diketahui memiliki kandungan sebagai berikut: Pertama; Virus yang sudah dimatikan. Vaksin Sinovak dikembangkan dengan metode inactivated. Metode ini  adalah cara paling umum dalam pembuatan vaksin.

Kedua; untuk meningkatkan kemampuan dan cara kerjanya, vaksin Sinovac ditambah aluminium hidroksida. Ketiga; Larutan Fosfat sebagai stabilisator vaksin dan terakhir Natrrium klorida. Zat ini berfungsi sebagai isotonis yang berfungsi memberi rasa nyaman pada saat penyuntikan.

Ayo Baca Juga: Beberapa Negara Dihantam Gelombang Kedua, Bagaimana dengan Corona di Indonesia?

Berbeda dengan vaksin lain seperti Pfizer/BioNTech dan Moderna yang telah melewati uji klinis di Amerika Serikat, sehingga telah diumumkan efektifitasnya, Vaksin Sinovac belum diumumkan efektifitasnya oleh pembuatnya.

Vaksin Pfizer/BioNTech efektifitasnya mencapai 95 % sedangkan Vaksin Moderna hingga 94 %. (cnbcindonesia.com). Kedua vaksin ini tidak mengandung virus yang telah dimatikan. Melainkan mengandung bahan genetik yang disebut messenger RNA atau mRNA.

Ketika disuntikan mRNA memberi tahu sel tubuh untuk membuat protein yang meniru protein virus. Protein virus ini dibaca seolah ada virus benaran, sehingga tubuh menciptakan antibodi untuk melawan virus yang asli.

Walaupun belum diumumkan oleh Sinovac Biotech Ltd, namun hasil uji klinis Vaksin Sinovac yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyimpulkan bahwa vaksin ini cukup aman.

Dari dua data yang diperoleh sejauh ini tidak ada efek samping serius yang dikeluhkan setelah uji klinis tahap III yang dilakukan BPOM. (pikiran-rakyat.com/05.01.2021). Uji klinis Vaksin Sinovac di Brasil menyimpulkan bahwa vaksin ini memiliki efektifitas lebih dari 50 %. Sementara uji tahap akhir di Turki diperoleh hasil  91.25 %. (Kontan.co.id/26.12.2020).

Dilansir oleh banyak media, alasan pemerintah memilih Vaksin Sinovac adalah Pertama; karena vaksin ini terjamin mutu dan kualitasnya serta aman dan mendapat rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (surya.co.id/10.12.2020).

Ayo Baca Juga: Corona dan Ujian bagi Pendidikan Kita

Kedua; metode pembuatan secara inactivated sudah dikuasai oleh Bio Farma, sehingga alih teknologi dan pembuatan vaksin bisa dilakukan di dalam negeri. Ada 15 juta bahan baku vaksin akan segera sampai di Indonesia dan siap diproduksi oleh Bio Farma (liputan6.com/05/01/2021).

Ketiga; ketersediaan vaksin dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan Indonesia dan dalam harga yang terjangkau. Seperti dilansir kompas.com (07/12/2020) harga vaksin sinovac adalah Rp200.000 per dosis, Moderna Rp526.000 perdosis dan Pfizer/BioNTech dijual sekitar Rp283.000 per dosis.

Keempat: dari hasil uji klinis tidak didapat efek samping serius. Kelima: Vaksin Sinovac memiliki dosis tunggal. Ini artinya tidak perlu dilakukan berkali-kali dalam periode waktu tertentu.

Keenam; infrastruktur distribusi vaksin di Indonesia. Vaksin Sinovac aman dalam penyimpanan antara 2 – 8 derajat celcius. Syarat ini lebih mudah dipenuhi oleh fasilitas-fasilitas kesehatan di Indonesia. Bandingkan dengan Vaksin Pfizer/BioNTech yang memerlukan penyimpanan bersuhu minus 70 derajat celcius dan hanya mampu bertahan dalam 5 hari.

Foto Ilustrasi dari jabarprov.go.id. 

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of