Memberdayakan desa-desa penyangga wisata Taman Nasional Kelimutu

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Pariwisata harus mampu memberi kontribusi langsung pada kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi pariwisata tersebut. Pengembangan pariwisata di suatu daerah sedapat mungkin melibatkan masyarakat. Bukan sebagai objek, tetapi masyarakat harus diberdayakan sebagai subjek yang membangun pariwisata di daerahnya.

Menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan, termasuk pembangunan di bidang pariwisata, ini berarti menjadikan masyarakat sebagai bagian dari segala kegiatan ekonomi produktif dari kegiatan pariwisata. Jangan sampai pelaku ekonomi dari segala kegiatan pariwisata di daerah mereka hanya dikuasai dan dinikmati oleh segelintir investor. Para pemilik modal yang berasal dari luar.

Dalam konteks pariwisata di  Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sedang bergeliat, pelibatan masyarakat secara langsung harus menjadi prioritas kebijakan pemerintah. Pengembangan objek-objek pariwisata, dan segala kegiatan ekonomi produktif yang menyertainya harus melibatkan masyarakat setempat. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Ende, tempat objek pariwisata Danau Kelimutu berada.

Danau Kelimutu yang berada di Taman Nasional Kelimutu tepatnya merupakan kawah dari Gunung Kelimutu. Danau kawah yang berada diketinggian 1.639 mdpl ini begitu terkenal karena tiga buah warna yang dimilikinya. Uniknya lagi ketiga kawah berwarna ini sering berubah warnanya.

Kelimutu yang berasal dari dua suku kata keli dan mutu berarti gunung mendidih dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat sacral. Masing-masing kawah dipercaya merupakan tempat kediaman arwah. “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” danau kawah berwarna Biru adalah tempat arwah orang-orang yang meninggal di usia muda. “Tiwu Ata Polo” kawah berwarna Merah adalah kediaman arwah tukang teluh, mereka yang kerap melakukan perbuatan jahat. Dan danau berwarna Putih, “Tiwu Ata Mbupu” adalah kediaman bagi arwah para leluhur yang meninggal dalam usia tua.

Kearifan local masyarakat disekitar Danau Kelimutu adalah bagian dari cara masyarakat menjaga kelestarian Taman Nasional Kelimutu. Setiap ritual yang dilakukan masyarakat adat di sana benar ditujukan untuk menjaga harmoni antara manusia dengan arwah para leluhur untuk menjaga dan merawat alam.

Dengan demikian melibatkan masyarakat adat di sekitar Danau Kelimutu bukan hanya soal kesejahteraan masyarakat tapi juga adalah bagian dari merawat dan melestarikan TN Kelimutu. Merawat kearifan local setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende Hiparkus Hepi mengatakan pemerintah daerah setempat terus memperkuat pemberdayaan desa-desa sebagai wisata penyangga  kawasan wisata Taman Nasional (TN) Kelimutu yang berbentang luas 5.356,50 ha itu.

“Desa-desa sekitar Taman Nasional Kelimutu jadi fokus pemberdayaan kami dengan memberikan pelatihan managemen pariwisata sesuai karakteristik wilayah di sana,” katanya seperti dilansir Antara, Kamis (3/10/2019).

Ia menyebutkan sejumlah desa di sekitar kawasan TN Kelimutu yang menjadi fokus pemberdayaan itu di antaranya Moni, Koanara, Waturaka, Pemo, Wologai.

Pada desa-desa ini, lanjutnya, dibentuk kelompok sadar wisata dan mereka mendapat edukasi untuk membangun peluang usaha pariwisata, salah satunya berupa penginapan (home stay) yang layak.

“Ada home stay yang dibangun dengan dana desa dan juga secara pribadi, sementara itu kami fasilitasi memberikan pengarahan mengenai seperti apa standar kelayakannya,” katanya.

Dia mengatakan, pemerintah daerah telah membangun fasilitas penginapan di Desa Koanara sebagai contoh yang sekarang sudah mulai diikuti masyarakat dari desa-desa di sekitarnya.

Hiparkus mengatakan, sebagian besar masyarakat di sekitar kawasan TN Kelimutu memiliki mata pencaharian utama di sektor pertanian. Sehingga tepat jika, lanjutnya,  warga yang kemudian mengembangkan pariwisata berbasiskan pertanian atau agrowisata.

Dia menambahkan, pemberdayaan masyarakat di sekitar TN Kelimutu sangat penting dilakukan agar masyarakat bisa mendapatkan manfaat secara ekonomi dari keberdaan destinasi wisata di sini.

“Selama ini masyarakat sekitar merasa belum mendapat nilai tambah dari keberadaan TN Kelimutu, namun sekarang berbeda, banyak wisatawan yang menginap di penginapan mereka bahkan dalam jangka waktu yang lama,” katanya.

Bentuk pemberdayaan masyarakat seperti ini sangat tepat. Kegiatan pariwisata di TN Kelimutu harus memberi kontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Hal ini layak dicontoh kawasan pariwisata di tempat lain di NTT juga di Indonesia. (Foto:katalog wisata.com).

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Juga : Memberdayakan desa-desa penyangga wisata Taman Nasional Kelimutu   […]

trackback

[…] Memberdayakan desa-desa penyangga wisata Taman Nasional Kelimutu […]