Ada Peran Perempuan Dibalik Gagalnya Galian Tambang

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

“Suara perempuan merupakan suatu lokus yang selama ini banyak dihilangkan dalam penyakit akut amnesia sosial. Mengapa? Karena perempuan sulit menarasikan pengalamannya dalam narasi politik dan narasi formal.” ~Dewi Candraningrum.

Eposdigi.com – Kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan saya menuju Tunua. Salah satu desa yang terletak di Kecamatan Molo Utara, tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan,  Nusa Tenggara Timur.

Desa Tunua yang dulunya terkenal sebagai lokasi bekas tambang batu Naitapan, Sekarang merupakan salah satu desa bekas galian tambang oleh PT. Sumber Alam Marmer. Beroperasi sejak tahun 2003 hingga akhirnya berhenti di tahun 2008.

Tambang batu itu ternyata mengisahkan sejuta perlawanan. Perlawanan terhadap perusahaan tambang yang berhasil ini, membuat Desa Tunua berubah wajahnya menjadi desa yang berkembang dengan sangat pesat di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Yang menarik dari kisa perlawanan ini adalah campur tangan perempuan didalamnya. Perempuan dan alam adalah satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Daniel Susilo dan Abdul Kodir dalam “Politik Tubuh Perempuan: Bumi, Kuasa dan Perlawanan” menulis bahwa perempuan selalu diasosiasikan dengan alam. Maka secara konseptual, simbolik dan linguistik ada keterkaitan antara isu feminisme dan ekologi.

Dalam banyak tradisi, masyarakat Indonesia penyebutan Tanah Air (Bumi) sering didekatkan dengan Ibu Pertiwi (sifat feminitas). Hal itu tidak mengherankan, menurut Karen J. Waren (Dalam Arivia, 2006, 381), mengingat masyarakat Indonesia dibentuk oleh sesuatu sistem nilai, kepercayaan, pendidikan, tingkah laku, yang berangkat dari suatu kerangka kerja patriarki, yang melakukan justifikasi terhadap hubungan dominasi dan subordinasi, penindasan perempuan oleh laki-laki.

Weren juga menjelaskan bahwa berpikir hierarkis, dualistik (biner) dan menindas adalah pola pikir maskulin yang telah mengancam keselamatan perempuan dan alam. Faktanya, perempuan memang selalu di- “alamkan”, atau di-“feminimkan”. Misalnya, tanah yang digarap, bumi yang dikuasai, dan hutan yang diperkosa. Kesimpulannya bahwa tidak mengada-ada bila perempuan dan alam mempunyai makna secara simbolik karena sama-sama ditindas oleh mereka (other) yang berkuasa dengan atribut maskulin.

Dalam kisah perjuangan melawan tambang di Desa Tunua ini, tak lepas dari dukungan dan campur tangan peran perempuan. Yang merasa bahwa mereka sedang diperdaya oleh para investor tambang yang hendak menguasai batu dan tanah di kampung mereka. Galian tambang yang gagal adalah suara perempuan dari Desa Tunua.

Sebut saja, Mama Yandri Tanu Djo (43) dalam sebuah kesempatan berbagi cerita,   mengisahkan dukanya kehidupan saat perusahan tambang PT. Sumber Alam Marmer masih beroperasi di Tunua. Saat ditemui, Mama Yandri bercerita bahwa sebelum beroperasi, perusahaan ini memberikan janji-janji manis tentang kesejahteraan masyarakat Desa Tunua. Janji akan membuat jalan raya dan membangun gedung kebaktian. Namun selama beroperasi perjanjian yang dibuat bersama masyarakat ini tidak berjalan dengan baik. “Kami masyarakat merasa terganggu. Kami kecewa sekali karena perjanjian itu tidak dipenuhi. Kami rasa ditipu.” Demikian ungkapnya.

Menurut keterangan Mama Yandri, saat perusahaan itu beroperasi juga memberi dampak buruk terhadap hasil pertanian mereka. Produksi sayur-sayuran yang makin berkurang jumlahnya. “Kalau bagi saya sendiri terganggu sekali karena di situ saya punya lokasi bertani di dekat marmer. Sehingga saat terjadi longsor, akibat getaran yang dihasilkan oleh galian tambang di lokasi marmer yang menggunakan alat berat.

“Hasil akhinya sayur-sayur saya di kebun tidak bisa  digunakan lagi”, Ungkap mama Yandri. Hasil pertanian berupa kacang merah, ubi jalar, bawang merah, dan bawang putih digunakan untuk kebutuhan biaya sekolah anak-anak dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Sebab pekerjaan mereka adalah sebagai petani kebun.

Dampak kerugian besar yang dialami oleh Mama Yandri dan masyarakat Desa Tunua membuat masyarakat Desa Tunua tidak tinggal diam. Mereka memblokir jalan sehingga akses keluar masuk alat berat ke lokasi tambang terganggu. Mereka juga menolak konsensus dengan pemerintah setempat. Semua aksi ini dilakukan oleh seluruh masyarakat desa dan dipimpin oleh kepala Desa Tunua sendiri, Bapak Maher Tanu.

Upaya yang dilakukan bertahun-tahun itu pun membuahkan hasil.

“Sekarang kami sudah bisa siram tanaman dengan baik. Dulu waktu PT masih melakukan pekerjaan itu, air yang dari PT itu kami tidak pakai karena keruh. Dan juga mengandung oli dan ada juga bensin yang tercampur di air itu sehingga kami tidak bisa pakai untuk siram tanaman. Begitu pula ternak kami tidak bisa minum. Bahkan ada tanaman umur panjang seperi jeruk yang juga mati semua. Tapi setelah penolakan tambang, semua itu sudah tidak ada. Kehidupan kami jauh lebih baik.” Ungkapnya dengan raut bahagia.

“Meski sudah melakukan penolakan dan PT itu sudah berhenti, saat ini yang kami harapkan adalah ijin tambang itu harus dicabut. Karena jangan sampai kedepan tambang itu bisa kembali datang untuk bekerja lagi. Karena ijinnya masih berlaku.”, demikian asa Mama Yandri pada kesempatan memberikan kesaksian mewakili kaum perempuan yang ada di desa Tunua. Dalam aksi penolakan itu, mereka mendukung penuh berhentinya oprasional galian tambang oleh PT. Sumber Alam Marmer.

Mama Yandri dan kisah penolakan tambang dari Desa Tunua, semoga menginspirasi para perempuan dan masyarakat NTT pada umumnya. Jangan sampai investasi itu merusak lingkungan dan mengambil alih tanah ulayat rakyat. Editor: senuken. Foto penulis bersama Mama Yandri.

Sebarkan Artikel Ini:

3
Leave a Reply

avatar
3 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
FBT Lamanepa Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
FBT Lamanepa
Guest
FBT Lamanepa

Mama yandri dan masyarakat desa Tunua adalah simbol perlawanan perempuan atas ketidakadilan rezim patriarki yg telah berlangsung berabad_abad lamanya.

trackback

[…] Ada Peran Perempuan Dibalik Gagalnya Galian Tambang […]

trackback

[…] Baca Juga: Ada Peran Perempuan Dibalik Gagalnya Galian Tambang […]