Menteri Bahlil: “Hati-hati, nilai nggak menjamin”

Opini
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Menteri Investasi dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa IPK yang tinggi semasa kuliah tidak serta merta menjamin kesuksesan seseorang di masa depan.

Hal ini disampaikannya ketika memotivasi mahasiswa di Institut Teknologi Sepuluh November  (ITS) Surabaya seperti dilansir detik.com, belum lama ini.

“Yang pintar-pintar boleh lah kalian pintar. Saya jujur IPK 2,7 tapi jadi Menteri juga. Hati-hati nilai nggak menjamin. Yang menjamin itu pergaulan, leadership,” kata Menteri Bahlil.

Apa yang disampaikan oleh Menteri Bahlil tentu tidak salah. Setidaknya pengalaman peribadinyalah yang menjadi bukti dari apa yang disampaikannya.

Namun menurut saya, apa yang disampaikan Menteri Bahlil belum tentu benar seratus persen.

Baca Juga:

Korelasi Indeks Prestasi dan Kesiapan Kerja

Pertama, Saat ini kita sedang berada pada era yang mengalami lonjakan perubahan yang sedemikian hebat. Tantangannya adalah cara kita berpikir melawan cara ‘robot’, cara system komputasi, cara artificial intelligence berpikir.

Era hari ini menuntut kita untuk memiliki keahlian spesifik yang terbaik. Yang terbaik itu berarti minimal dibuktikan dengan indeks prestasi (IP) baik smesteran maupun kumulatif (IPK).

Di pasar tenaga kerja saat ini, hanya mereka-mereka yang mendapat peringkat terbaik, dalam hal ini dibuktikan dengan IPK yang tinggi lah yang lebih berpeluang lebih besar diterima di dunia kerja.

Bukan hanya dunia kerja swasta. Pemerintahpun memberi kesempatan lebih banyak kepada para sarjana yang lulus dengan IPK tinggi. Ini adalah kenyataan yang harus kita maklumi dan kita terima.

Kedua, Apa yang disampaikan Menteri Investasi ini, menurut saya bukan untuk mempertentangkan antara para sarjana atau diploma yang lulus dengan IPK sempurna di satu sisi dengan para sarjana yang lulus dengan nilai biasa-biasa saja di sisi yang lain.

Baca Juga:

Mahasiswa, apa Prioritasmu?

Juga bukan untuk memperbandingkan para mahasiswa kutu buku dengan para aktivis kampus yang saban hari meninggalkan bangku kuliah demi menyempurnakan identitas ‘aktivis’ yang disematkan pada mereka.

Sebagai motivator, Menteri Bahlil berusaha mengangkat lagi semangat para mahasiswa biasa-biasa saja, yang IPK nya standar-standar saja, yang asal bisa lulus mata kuliah tertentu saja, agar tidak berkecil hati dan patah semangat.

Ketiga, Apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) soal “Yang menjamin itu pergaulan, leadership,” juga tidak 100 persen benar. Sebab hemat saya, sukses juga tidak hanya ditentukan oleh pergaulan dan/atau leadership.

Ada yang bilang “sukses itu buah dari perpaduan antara kesiapan dengan kesempatan. Saya mengatakan bahwa kesempatan bisa saja dimiliki oleh mereka yang pergaulannya luas dan memiliki kemampuan kepemimpinan yang memadai.

Baca Juga:

Delapan Kebiasaan Baik di Usia Muda Menjamin Masa Depan Gemilang

Namun mereka-mereka ini juga harus menyiapkan diri dengan baik’ menyelaraskan diri dengan berbagai perubahan dan perkembangan teknologi saat ini, yang menuntut orang menjadi yang terbaik.

Karena itu, mengusai keahlian spesifik yang dibuktikan dengan indeks prestasi terbaiklah yang menjadi jalan yang paling lega agar ketika kesempatan datang, para sarjana kita sudah siap menerapkan keahlian dan keterampilan spesifik yang mereka miliki.

Saya lebih sepakat bahwa pada saat ini, setiap mahasiswa harus menjadi mahasiswa terbaik dalam semua hal yang bisa diukur. Terbaik ketika diukur menggunakan IPK, tapi juga menjadi yang terbaik ketika disinggung soal kepemimpinan dan/atau pergaulannya yang luas.

Saya menerjemahkan apa yang disampaikan Menteri Bahlil soal “Hati-hati, nilai nggak menjamin,” sebagai “hati-hati, yang menjamin sukses hanyalah yang terbaik dalam poli intelligence.”

Baca Juga:

Lima Kesalahan yang Menyebabkan Sarjana Fresh Graduate Kehilangan Peluang Untuk Direkrut Bekerja di Perusahaan Impiannya

Bukan hanya soal seimbang antara Kecerdasan intelektual, IQ (Intelligence Quotient), dengan EQ – Kecerdasan Emosional – Sosial, SQ – Kecerdasan Spiritual, dan TQ  – Kecerdasan Transendental.

Melainkan menjadi yang terbaik dalam semua ukuran kecerdasan. Menjadi yang terbaik dari sisi IQ, EQ, SQ dan TQ sekaligus. Apakah sidelisme ini ini akan tercapai? Hanya ‘alasan’ yang menjadikannya “tidak”.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of