Mempertahankan Nilai-Nilai Kearifan Lokal

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com-  Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keberagaman suku, ras, bahasa, budaya, agama dan kepercayaan. Nilai-nilai luhur budaya bangsa yang dapat kita lihat dalam berbagai pranata adat istiadat, menjadi tiang yang kokoh yang menopang sendi-sendi kehidupan dalam diri setiap warga dan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia hingga saat ini masih lekat memegang teguh adat istiadat dan berbagai nilai kearifan lokal yang menjadi pedoman berprilaku sekaligus cara hidup masyarakat.

Menguji Agama Koda Dengan Alienasi Feuerbach

Tidak hanya keragaman budaya, Indonesia juga terkenal akan keindahan alamnya. Hal ini bisa kita ketahui dari banyaknya destinasi wisata alam, yang tersebar di hampir setiap pelosok negeri ini.

Bentang zamrud khatulistiwa dari Sabang sampai Marauke dengan berbagai macam karakteristik pulau-pulaunya menjadikan keragaman panorama alam itu sekaligus memiliki kekhasan masing-masing.

Oleh karena keberagaman, baik panorama alam dan budaya itu, membuat bangsa Indonesia menawarkan banyak atraksi wisata berupa seni, budaya, warisan sejarah, tradisi, kekayaan alam, serta hiburan kepada para wisatawan mancanegara maupaun domestik.

Hal ini mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian Bangsa Indonesia sekaligus juga dapat menjadi duta yang memperkenalkan bangsa Indonesia kepada dunia luar.

Baca juga: Menjadi Manusia Beragama Dan Manusia Berbudaya (Ber-Adat) Adonara

Akan tetapi ada dampak negatif dari pariwisata yang ditawarkan oleh Bangsa Indonesia. Ketika kebudayaann Indonesia seakan hanya menjadi objek dari pariwisata.

Hal ini bisa memicu kurangnya empati dari wisatawan sehingga dapat mengakibatkan mereka kehilangan sikap menghargai maupun menghormati kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Kita bisa amati hal ini dari banyaknya kasus pelanggaran terhadap warisan kearifan lokal dan adat budaya lokal yang sering dijumpai di tempat wisata. Seperti misalnya pemanjatan stupa Candi Borobudur yang dilakukan oleh wisatawan domestik.

Seharusnya sebagai warga Bangsa Indonesia wisatawan lebih menyadari bahwa Candi Borobudur bukan hanya sekadar sebuah objek wisata, melainkan juga adalah tempat ibadah umat Buddha dan juga dikenal sebagai tempat bersejarah yang tentu saja memiliki nilai budaya yang patut dan harus dihormati.

Pariwisata Mekko Masih Harus Berbenah

Tidak hanya wisatawan domestik, tindakan pelanggaran ini juga terkadang dilakukan oleh wisatawan mancanegara yang seakan menertawakan kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat yang kita junjung tinggi.

Mereka seakan-akan menganggap budaya dan tradisi yang begitu sangat kita hormati hanyalah lelucon belaka, hanyalah sebuah kegiatan gila yang dilebih-lebihkan oleh masyarakatnya.

Hal inilah yang kerap kali menjadi titik awal adanya tindakan pelanggaran yang terjadi di tempat-tempat wisata. Pada dasarnya semua atraksi wisata baik, seni, budaya, wisata sejarah, tradisi dan kekayaan alam yang ditawarkan oleh pariwisata Indonesia adalah bagian dari cara melestarikan kebudayaan dan adat istiadat yang adiluhung yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia sebagai sesuatu yang patut dijunjung tinggi.

Oleh karena itu, setiap insan pariwisata Indonesia diharapkan mampu untuk mendorong  alternatif lain pola pemasaran pariwisata Indonesia yang mampu menjaga berbagai pranata kerarifan lokal.

Baca juga: Totem Dan Tabbo Dalam Konteks Adonara

Hal ini juga merupakan cara untuk menangkal berbagai penyelewengan terhadap kebudayaan Indonesia yang bersifat adiluhung.

Menjual pariwisata Indonesia tidak boleh hanya menjadi batu loncatan dan hanya dimanfaatkan sebagai objek komersial demi mendapat sejumlah keuangan.

Jika kita salah mengambil langkah maka wisatawan bisa saja tidak lagi menghargai dan menghormati kebudayaan bangsa Indonesia.

Jika wisatawan kehilangan empati dan rasa hormat terhadap berbagai bentuk kearifan lokal dengan begitu banyak pernak-perniknya maka hal ini bisa memicu anggapan bahwa berbagai atraksi dan ritual dari kearifan lokal kita hanyalah sebuah atraksi main-main saja tanpa nilai adiluhung yang menyertai berbagai atraksi dan ritual itu.

Oleh karena itu setiap insan pariwisata Indonesia baik pengundang dan/atau penyelenggara, harus menyadari bahwa mereka sebagai pelaku atau pemilik kebudayaan Indonesia, sehingga mereka mampu menjadi duta untuk menjelaskan dan menerangngkan dengan benar mengenai berbagai kearifan lokal kepada para wisatawan.

Belajar Senyum Untuk Pariwisata Flores Timur

Tujuannya agar pengetahuan wisatawan terhadap berbagai macam kearifan lokal kita  meningkat sehingga dapat merubah pola pikir dan  perilaku para wisatawan, baik lokal maupun luar negeri untuk lebih menghargai dan menghormati kebudayaan bangsa Indonesia.

Harapannya pariwisata di Indonesia dapat semakin berkembang tanpa harus kehilangan nilai-nilai budaya warisan turun temurun para leluhur kita.

Sumber foto: kumparan.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of