Eposdigi.com – Bagaimana suasana Pekan Suci di Larantuka lebih dari 150 tahun yang lalu? Jawabannya tersimpan dalam catatan Pater F. C. Heynen, imam Jesuit Belanda yang mengunjungi misi Hindia Belanda di Larantoeka pada 1874–1875.
Apa yang ia tuliskan bukan sekadar cerita dari kejauhan. Ia melihat dan mengalami sendiri suasana Larantoeka. Heynen mencatat kenangan perjalanannya tahun 1874,
“Den 28 Februari ten 4 ure na den middag stapte ik te Larantoeka aan wal, alwaar ik ter landingsplaats, een vrij ver in zee uitstekend bruggenhoofd…”
“Pada tanggal 28 Februari, pukul 4 sore, saya turun ke darat di Larantoeka, di mana di tempat pendaratan terdapat sebuah jembatan/dermaga yang cukup jauh menjorok ke laut…”
Dan salah satu hal paling menarik dari catatannya adalah bahwa pada masa itu, Gereja San Domingo disebut sebagai gereja utama Larantoeka. Heynen menulis: “de hoofdkerk van Larantoeka” “gereja utama Larantoeka.”
Di sanalah rangkaian besar Pekan Suci berpusat. Sementara itu, gereja Posto digunakan untuk ibadat pagi karena di sanalah Sakramen Mahakudus dapat disimpan dengan layak.
Baca Juga:
Kamis Putih
Persiapan telah dimulai jauh sebelum Pekan Suci. Heynen mengenang, “Kaarsen in menigte worden daarvan gemaakt” “Lilin dibuat dalam jumlah yang sangat banyak.”
Lilin-lilin itu digunakan untuk menghias gereja, kapela, jalan yang akan dilewati prosesi, bahkan tempat-tempat persinggahan. Di sepanjang jalan berdiri perhentian-perhentian kecil yang disebut “ermida”.
Heynen mencatat dalam urutan: Panté-besar – Ammoe – Aikoli – Radja – Panti kebi – Belilla/Belela – Lohayon – Pohon-sirih.
Heynen menulis: “Zij zijn acht in getal en volgen in deze orde op elkander.” “Jumlahnya ada delapan dan tersusun dalam urutan seperti ini.”
Dari gereja utama San Domingo, prosesi terlebih dahulu menuju ermida Misericordia di Panté-besar, kemudian bergerak melalui ermida-ermida berikutnya hingga Pohon-sirih, lalu kembali ke Gereja San Domingo.
Pada Kamis Putih, pusat penghormatan adalah salib.
Heynen menulis: “op Witten Donderdag het kruis” “pada Kamis Putih, pusatnya adalah salib.” Karena itu prosesi ini disebut: “procissão quinta-feira” “prosesi Kamis.”
Prosesi dilakukan pada malam hari dan, bila cuaca memungkinkan, berlangsung cukup lama.
Baca Juga:
Wailolon – Leloba : Dari Kampung Yang Ditakuti Hingga painati Okka (Bagian ke Tiga)
Jumat Agung
Namun suasana Jumat Agung jauh lebih menggetarkan.Pater Heynen datang ke Gereja San Domingo, yang ia sebut sebagai gereja utama Larantoeka. Gereja itu telah dihiasi kain, panji-panji, bendera dan cahaya lilin.
Heynen menulis: “Talrijke lichten waren ontstoken” “Banyak sekali lampu telah dinyalakan.”
Di dekat altar tersedia tiga kursi. Satu untuk Raja, dua lainnya untuk pastor tuan rumah dan dirinya sendiri.
Heynen mencatat dengan sangat jelas: “De eene aan de evangelie-zijde was bestemd voor den radja” “Yang satu di sisi Injil diperuntukkan bagi Raja.”
Para penyanyi kemudian berkumpul mengelilingi mestre, pemimpin nyanyian. Banyak yang mengenakan jubah putih Confraria.
Heynen menulis: “Velen hunner waren in de witte opa der Confraria” “Banyak di antara mereka mengenakan opa putih Confraria.”
Kemudian terdengarlah Donkere Metten atau doa/nyanyian malam dalam suasana duka. Empat orang terkemuka tampil membawa usungan Kristus.
Heynen menjelaskan: “wegens die eervolle taak worden zij Nicodemussen genoemd.” “karena tugas terhormat itu mereka disebut Nikodemus.”
Mereka membawa tubuh Kristus yang telah diturunkan dari salib. Di belakangnya dibawa mahkota duri, tombak, spons, tangga, paku, palu, penjepit dan cambuk—semua lambang Sengsara Kristus.
Baca Juga:
Waibaloen – Lewolery : Langkah Terakhir Menuju Postoh – Bagian Terakhir
Lalu tampil tiga anak di bawah kain ungu. Mereka melambangkan putri-putri Sion. Heynen menulis: “Eheu, eheu Domine! Eheu, Salvator noster!” “Aduh, ya Tuhan! Aduh, Juruselamat kami!”
Kemudian seorang anak berusia dua belas tahun tampil sebagai Veronica. Kenang Heynen, suara anak itu begitu menyentuh:
“O vos omnes, qui transitis per viam attendite et videte” “Hai kamu semua yang berjalan di jalan ini, pandanglah dan lihatlah.”
Lalu ia melanjutkan: “si est dolor sicut dolor meus.” “Adakah penderitaan seperti penderitaanku?”
Sedikit demi sedikit gulungan kain dibuka sampai akhirnya terlihat wajah Ecce Homo, wajah Kristus sebagaimana digambarkan pada kain Veronica.
Heynen sendiri begitu tersentuh oleh adegan itu. Ia menulis: “aan menig oog een heilzamen traan ontlokt.” “Meneteskan air mata yang membawa kebaikan pada banyak mata.” Adegan itu bahkan diulangi di beberapa ermida sepanjang perjalanan.
Minggu Paskah
Kemudian datanglah Minggu Paskah. Pagi hari, San Domingo telah penuh sesak. Heynen menulis: “de groote kerk, de San Domingo, eivol.” “gereja besar San Domingo penuh sesak.”
Menjelang malam, semuanya kembali bersiap. Heynen mengenang: “tallooze waskaarsen verspreidden weer haar vriendelijk licht” “tak terhitung lilin kembali menyebarkan cahaya yang ramah.”
Lalu lonceng dibunyikan, tembakan terdengar, dan Raja bersama rombongannya hadir. Pater Heynen menulis: “Snaphaanschoten lieten zich hooren, de radja met zijn gevolg verscheen” “Terdengar tembakan-tembakan, Raja bersama rombongannya muncul.”
Baca Juga:
Di bawah cahaya bulan, prosesi pun bergerak keluar. Di tengah-tengahnya terdapat patung Bunda Maria dari Capella Maria.
Heynen menulis: “Het middelpunt van dezen optocht was het Moeder-Godsbeeld der Capella Maria.” “Pusat prosesi ini adalah patung Bunda Allah dari Capella Maria.”
Umat berjalan sambil berdoa Rosario. Heynen mencatat: “de menigte bad godvruchtig den rozenkrans” “orang banyak berdoa Rosario dengan penuh kesalehan.”
Para penyanyi sepanjang perjalanan menyanyikan Regina Coeli, dan setelah setiap bait terdengar: “Alleluja” Yang diulang tiga kali dengan kuat. Prosesi kemudian melewati jalan terjal Panté-besar.
Jalan itu begitu sempit hingga hanya cukup untuk satu orang. Heynen bahkan menulis dengan penuh keheranan: “nog immer is het mij een raadsel” “hingga sekarang tetap menjadi teka-teki bagi saya”
Bagaimana seluruh prosesi dengan segala hiasannya dapat melewati jalan sesempit itu tanpa kecelakaan. Tetapi pemandangan yang kemudian ia lihat jauh lebih mengesankan.
Kenang Heynen: “de honderden, ja duizenden van lichten” “ratusan, bahkan ribuan cahaya.”
Cahaya itu menghiasi jalan, pagar, pepohonan dan ermida. Di bawah bulan, di antara laut dan gunung, ribuan orang bergerak dalam suasana doa.
Baca Juga:
Moeda Kapotoe – Riang Kemie : Gadis Yang Melarikan Diri (Bagian Kedua)
Heynen akhirnya menulis: “een benijdenswaardig voorrecht achtte zulk een viering van het Paaschfeest te mogen bijwonen.” “saya menganggap suatu kehormatan yang sangat berharga dapat menyaksikan perayaan Paskah seperti itu.”
Di setiap ermida mereka berhenti, menyalakan dupa dan berdoa. Heynen mencatat: “wierook ontstoken en gebeden” “dupa dinyalakan dan doa-doa dipanjatkan.”
Setelah ermida terakhir dikunjungi, prosesi kembali melalui jalan yang sama menuju San Domingo. Lebih dari 150 tahun kemudian, catatan itu terasa seperti suara yang datang dari masa lalu.
Kita dapat membayangkan Larantoeka waktu itu, ketika malam tiba: lonceng berbunyi, tembakan terdengar, Raja hadir, Confraria berjalan, Nikodemus mengusung Kristus, anak-anak menyanyikan “Eheu”, Veronica membuka wajah Ecce Homo, dan ribuan cahaya membawa doa dari satu ermida ke ermida berikutnya.
Dan mungkin inilah yang paling indah dari catatan Heynen. Ia tidak hanya mencatat sebuah prosesi. Ia sedang menyimpan kenangan tentang iman.
Sebuah iman yang hidup bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga di jalan-jalan, di bawah cahaya bulan, di antara laut dan gunung, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Larantuka boleh berubah. Wajah-wajah boleh berganti. Tetapi doa yang diwariskan oleh para leluhur tidak mudah hilang.
Sumber:
- C. Heynen, “Schetsen uit de Nederlandsch-Indische missie: De kerkelijke statiën op Flores”, Hoofdstuk VIII, “De Lijdens- en Alleluja-processiën”, ’s-Hertogenbosch: Bogaerts, 1876.
Leave a Reply