Waibaloen – Lewolery : Langkah Terakhir Menuju Postoh – Bagian Terakhir

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dari pantai yang sunyi, menuju kampung yang mulai dipenuhi doa. Rombongan Pastoor J. Hoeberechts kembali melanjutkan perjalanan. Bekal mereka sudah habis. Tubuh sudah lelah. Tetapi ada satu hal yang membuat perjalanan terasa lebih ringan: mereka berjalan menuruni gunung dari Wailolon menuju Pantai Okka.

“Met leege trommels wordt nu de terugreis aanvaard.” “Dengan kotak-kotak bekal yang sudah kosong, perjalanan pulang pun dimulai.”

Matahari memang sudah tinggi. Rumput tumbuh tinggi dan rapat sampai Hoeberechts sendiri harus berjalan paling depan untuk membuka jalan.

“Wij gaan bergaf, dat is het voornaamste.” “Kami berjalan menuruni gunung, dan itulah yang terpenting.” 

Tak lama kemudian mereka kembali bertemu dengan dua ekor kuda yang sebelumnya ditinggalkan untuk dibawa kembali.

Hoeberechts dan dua pembawa barangnya kembali naik kuda. Perjalanan menuju Waibaloen pun dimulai. Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di Waibaloen. Nama kampung ini menarik perhatian Hoeberechts.

Baca Juga:

Wailolon – Leloba : Dari Kampung Yang Ditakuti Hingga painati Okka (Bagian ke Tiga)

“Waibaloen (stroomend rivierwater ofschoon er geen uren in den omtrek iets te vinden is, dat op een rivier gelijkt).” “Waibaloen berarti air sungai yang mengalir, meskipun tidak ada sesuatu pun dalam jarak berjam-jam perjalanan di sekitarnya yang menyerupai sungai.”

Waibaloen bukan kampung kecil. Hoeberechts mencatat ada lebih dari 600 jiwa. Dan di sana sudah ada seorang katekis yang secara teratur mengajar sekitar 60–80 anak dan orang dewasa. Yang lebih menarik lagi: Sudah ada gereja kecil.

“Hier hebben wij een klein kerkje, waarin onderricht gegeven, ’s avonds het rozenhoedje gebeden, en nu en dan door mij de H. Mis opgedragen wordt.” “Di sini kami mempunyai sebuah gereja kecil. Di sana diberikan pengajaran, malam hari didoakan Rosario, dan sesekali saya mempersembahkan Misa Kudus.”

Sebuah gereja kecil di kampung yang jauh di lereng Ilimandiri. Tidak megah. Tidak besar Tetapi bagi Hoeberechts, tempat sederhana itu menjadi tanda bahwa sesuatu telah berubah.

Perjalanan belum selesai. Rombongan kemudian melewati Lewolery, sebuah kampung yang letaknya lebih rendah. Di sana pun terdapat rumah ibadah yang serupa. Hoeberechts berusaha merayakan Misa secara bergantian:

Baca Juga:

Moeda Kapotoe – Riang Kemie : Gadis Yang Melarikan Diri (Bagian Kedua)

“Als ik kan, lees ik eens in de maand te Lewolery … en eens in de maand te Waibaloen de H. Mis.” “Kalau memungkinkan, saya merayakan Misa sekali sebulan di Lewolery dan sekali sebulan di Waibaloen.”

Berangkat pagi-pagi dari Postoh dengan menunggang kuda. Sesampainya di kampung, ia mendengarkan pengakuan dosa.

Sekitar 40 orang. Kemudian Misa dengan khotbah. Sekitar 40 orang menerima Komuni Kudus. Setelah itu ia membaptis anak-anak.

“Na afloop hiervan doop ik de kinderen en trek weer naar huis.” “Setelah itu saya membaptis anak-anak dan kembali pulang.”

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Perjalanan demi perjalanan.

Begitulah pekerjaan seorang pastor di pedalaman  Ilimandiri. Tetapi ketika melewati tempat-tempat itu, Hoeberechts tiba-tiba teringat kembali pada tahun 1904. Lima tahun sebelumnya. Ia datang untuk mengajar anak-anak. Namun yang terjadi?

“Bij mijn eerste aankomst vluchtten allen weg.” “Ketika pertama kali saya datang, semua orang melarikan diri.”

Tetapi ia tidak menyerah. Ia duduk di atas sebuah batu. Di tengah kampung. Di bawah matahari.

Baca Juga:

Mei 1909: Dari Larantoeka Menuju Lewoneda (Bagian Pertama)

Ia mulai berbicara dengan beberapa pemuda berusia sekitar 18–20 tahun tentang agama. Kemudian anak-anak mulai mendekat. Hoeberechts mengambil kacang dari sakunya.Membagikannya.Dan perlahan…ketakutan mulai hilang.

“Ik haalde wat nootjes uit mijn zak, deelde ze uit aan de kinderen, en … de eerste schrik was er uit.” “Saya mengambil beberapa kacang dari saku, membagikannya kepada anak-anak, dan… ketakutan pertama itu pun hilang.”

Ia kemudian menulis tentang apa yang dibutuhkan:

“Een groote mate van geduld, een flinke zak nootjes, kraaltjes en andere snuisterijen waren nu noodig om voort te bouwen.” “Dibutuhkan kesabaran yang besar, sekantong penuh kacang, manik-manik dan benda-benda kecil lainnya untuk terus membangun hubungan itu.”

Dan Hoeberechts mengingat: baru setelah sekitar satu tahun ia berhasil mendekati beberapa gadis.

Kemudian ia menulis sebuah kalimat yang terasa seperti melihat kembali perjalanan hidupnya sendiri:

“Aldus in 1904! En thans in 1909?” “Begitulah keadaannya pada 1904! Dan sekarang pada 1909?”

Jawabannya ada di depan matanya. Sudah berdiri sebuah rumah ibadah yang cukup besar.

Di dalamnya terdapat tiga patung besar: Maria dari Lourdes, Santo Fransiskus dari Assisi, dan Santo Antonius dari Padua.

Baca Juga:

Bagian II: Rumpun Hurint – Simpul Kehidupan yang Menyatukan Banyak Lango Belen

Setiap hari diberikan katekismus. Setiap malam Rosario didoakan di gereja.

“In de kampongs Waibaloen en Lewolery zijn nu ongeveer 120 kinderen, die hun eerste H. Communie hebben gedaan.” “Di kampung-kampung Waibaloen dan Lewolery sekarang ada sekitar 120 anak yang telah menerima Komuni Pertama.”

Bahkan Hoeberechts berharap tahun itu masih dapat membawa 40–50 anak lagi menuju Komuni Pertama.

Lima tahun. Hanya lima tahun. Dari orang-orang yang dulu berlari ketakutan…menjadi anak-anak yang datang ke gereja. Dari seorang pastor yang dahulu asing…menjadi “toewan” yang dikenal dan ditunggu.

Dari sebuah kampung yang dahulu sulit dimasuki… menjadi tempat di mana doa, katekismus, Misa dan Komuni berlangsung. Perjalanan semakin mendekati akhir.

Di sepanjang jalan, “Bij mijn doortocht kwamen de catechisten mij even groeten.” “Ketika saya melewati tempat itu, para katekis datang sebentar untuk menyapa saya.”

Ia hanya turun dari kuda apabila ada orang sakit yang harus dilayani atau pekerjaan lain yang tidak bisa ditunda. Selebihnya…terus menuju Postoh.

Dan akhirnya rombongan itu kembali. Setelah dua hari melewati pegunungan. Setelah panas. Setelah jalan berbatu. Setelah kampung demi kampung.

Baca Juga:

Membaca “Kode Rahasia” Peta Perkawinan Adat 13 Lango Belen di Desa Wailolong, Ile Mandiri

Setelah berbicara dengan orang-orang. Setelah membaptis anak-anak. Setelah merayakan Misa. Setelah makan bersama anak-anak. Setelah tidur di bawah atap sederhana. Setelah turun sampai ke pantai…

mereka kembali ke Postoh.Dan Hoeberechts menutup catatannya bukan dengan kebanggaan atas dirinya sendiri. Tetapi dengan rasa syukur kepada Tuhan.

“Met een dankbaar hart jegens den goeden God.”“Dengan hati yang penuh syukur kepada Tuhan yang baik.” 

Ia merasa Tuhan telah menggunakan tenaga manusia yang lemah untuk menyampaikan nama-Nya kepada orang-orang yang dahulu disebutnya sebagai:

 “arme verlaten heidenen”  “orang-orang miskin yang terlantar.”*

Kemudian ia menyampaikan permohonan:

“De oogst is rijp; wie zal met ons de hitte van den dag deelen om den oogst binnen te halen?” “Panen sudah matang; siapakah yang mau bersama kami menanggung panasnya hari untuk membawa pulang hasil panen itu?” 

Dan di situlah kisah perjalanan dua hari mengelilingi Ilimandiri berakhir. Namun sebenarnya…kisah yang lebih besar baru saja dimulai.Karena yang dicatat Hoeberechts bukan sekadar perjalanan seorang pastor dari satu kampung ke kampung lain.

Ia mencatat perubahan manusia.Dari ketakutan menjadi kepercayaan. Dari menjauh menjadi mendekat.Dari anak-anak yang melarikan diri…menjadi anak-anak yang datang menerima pelajaran, baptisan dan Komuni.

Baca Juga:

Wua Malu: Ketika Sirih Pinang Menjadi Bahasa yang Lebih Tua dari Kata-kata

Dan semua itu berlangsung di kampung-kampung kecil di lereng Ilimandiri, pada tahun 1904–1909.

Sebuah perjalanan telah selesai. Tetapi jejaknya masih tertinggal dalam catatan lama itu.

SUMBER:

  1. Hoeberechts, “Een tweedaagsche tocht om den Ilimandiri,” dalam Berichten uit Nederlandsch Oost-Indië voor de leden van den Sint-Claverbond, 1909, bagian I (Niet in den handel), ’s-Gravenhage: T. C. B. ten Hagen, hlm. 252–253.
Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of