Tena Tika Nawot Bage: Filsafat Perpisahan Dalam Budaya Lamaholot

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Ada sebuah ungkapan dalam budaya Lamaholot yang bagi saya sangat dalam maknanya: Tena Tika Nawot Bage

Ungkapan ini menggambarkan berakhirnya sebuah kebersamaan ketika seseorang berpamitan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. 

Tidak ada ritual khusus; cukup melalui kata-kata sederhana antara orang yang pergi dan yang ditinggalkan. Namun, di baliknya tersimpan nilai-nilai kehidupan yang patut direnungkan.

Orang yang akan pergi menyampaikan terlebih dahulu: “Nati kame tenaro ki, hogo bauk ge herun balik.”

Kami jalan dulu, suatu hari nanti kita bertemu lagi.

Ungkapan ini menandai keberangkatan sekaligus menyimpan harapan bahwa perpisahan tidak mengakhiri hubungan kekeluargaan. Suatu saat nanti, mereka dapat kembali bertemu, duduk bersama, berbagi cerita, dan menikmati kehangatan persaudaraan.

Baca Juga:

Apakah Koda Bisa Ditulis Dalam Bentuk Buku?

Orang yang ditinggalkan kemudian menjawab: “Maan yonem mela-mela, pana maan sare-sare ti ake ne todok waleto si raran lolon.”

Dengan hati yang penuh bahagia, jalan baik-baik supaya tidak ada halangan di jalan.

Jawaban ini bukan sekadar ucapan selamat jalan, melainkan pelepasan yang ikhlas, disertai doa agar orang yang pergi tiba dengan selamat dan menjalani perjalanan dengan baik.

 Tidak ada keinginan untuk menahan kepergian; yang ada adalah kasih sayang yang memberi ruang, kepedulian, dan harapan akan kebahagiaan sesama.

Ungkapan lain yang tidak kalah dalam maknanya berbunyi: “Pita uma lango menuka, hogo bauk ge herun balik.”

Pintu rumah terbuka, kapan-kapan kita bertemu lagi.

Ungkapan ini menegaskan bahwa orang yang pergi bebas melanjutkan hidupnya, tetapi tetap memiliki tempat untuk kembali. Jarak dan waktu boleh memisahkan, namun hubungan kekeluargaan tidak harus terputus.

Baca Juga:

Bala di Bala, KODA di Bala: Ketika Kata Menjadi Gading

Apa yang dapat kita pelajari dari ungkapan ini? Saya melihat beberapa nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Pertama, menghormati kebersamaan.

Seseorang berpamitan kepada mereka yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan memiliki nilai dan patut dihormati.

Kedua, melepas dengan kasih sayang.

Kasih sayang tidak selalu berarti menahan seseorang agar tetap tinggal. Terkadang, kasih sayang justru berarti mengikhlaskan seseorang melanjutkan perjalanannya, sambil mendoakan keselamatannya.

Ketiga, menjaga hubungan tanpa harus selalu bersama.

Persaudaraan tidak semata-mata ditentukan oleh kedekatan fisik. Hubungan tetap dapat dirawat melalui ingatan, perhatian, doa, dan harapan baik.

Baca Juga:

Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital

Keempat, memelihara harapan akan pertemuan kembali.

Pintu rumah yang terbuka menjadi lambang penerimaan dan keyakinan bahwa perpisahan hari ini tidak menutup kemungkinan bagi kebersamaan pada hari esok.

Tena Tika Nawot Bage  sebagai pengetahuan hidup Lamaholot

Dalam perspektif KODA sebagai sistem pengetahuan lokal Lamaholot, ungkapan ini menarik untuk kita dalami.

KODA tidak hanya ditemukan dalam ritual adat, petuah para tetua, atau forum musyawarah, tetapi juga hidup dalam percakapan sehari-hari: ketika kita menyapa, meminta maaf, berterima kasih, berpamitan, dan menjaga hubungan dengan sesama.

Melalui ungkapan perpisahan ini, kita belajar bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Kebudayaan adalah pengetahuan yang menuntun manusia menjalani kehidupan, memperlakukan sesama, dan memelihara hubungan sosial.

Baca Juga:

Krisis Moderen : Ketika Runtuhnya Pagar Koda

Sebuah peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga martabat, kasih sayang, dan keteraturan hubungan antar manusia.

Barangkali, salah satu kekayaan budaya Lamaholot justru terletak pada kata-kata sederhana yang kita ucapkan setiap hari, tetapi belum sepenuhnya kita gali kedalaman maknanya.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of