Membangun Lembata Dengan Memperkuat Budayanya: Refleksi Budaya pada HUT ke 27 Kabupaten Lembata, Tanah Lama Lean

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Jangan Biarkan Generasi Muda Kehilangan Akar Budayanya

Eposdigi.com – Tanggal 12 Oktober 2026, Kabupaten Lembata genap berusia 27 tahun. Usia yang cukup untuk melakukan refleksi tentang perjalanan pembangunan, sekaligus bertanya tentang masa depan yang sedang kita siapkan bagi generasi berikutnya.

Selama 27 tahun, kita berbicara tentang kemajuan Lembata dalam berbagai bidang. Kita membangun infrastruktur, meningkatkan pelayanan publik, mengembangkan pendidikan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, di tengah berbagai upaya pembangunan itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama:

Apakah pembangunan Lembata juga telah memperkuat identitas budaya masyarakatnya?

Pertanyaan ini penting karena sebuah daerah tidak hanya hidup dari jalan yang dibangun, gedung yang didirikan, atau angka pertumbuhan ekonomi yang dicapai. 

Sebuah daerah juga hidup dari bahasa, nilai, pengetahuan, tradisi, dan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Lembata bukan sekadar wilayah administratif. Lembata adalah ruang kehidupan masyarakat dengan sejarah, bahasa, adat istiadat, cerita rakyat, ritual, kesenian, pengetahuan tentang alam, serta beragam tradisi yang membentuk identitas masyarakatnya.

Jika pembangunan fisik membuat sebuah daerah semakin maju secara material, maka kebudayaan seharusnya membuat masyarakatnya semakin mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang harus dibawanya menuju masa depan.

Baca Juga:

Menghidupkan Perpustakaan Sekolah: Menyelamatkan Masa Depan Lembata

Ketika Generasi Muda Mulai Menjauh Dari Bu

dayanyaKita perlu berani melihat kenyataan sosial yang terjadi di sekitar kita.

Ada generasi muda yang merasa malu berbicara menggunakan bahasa daerah. Ada yang menganggap mengenakan kewatek dan nowin tidak sesuai dengan perkembangan zaman. 

Ada pula yang lebih bangga mengonsumsi makanan cepat saji dari luar daripada mengenal dan menikmati makanan tradisional seperti jagung titi.

Tentu, kita tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua generasi muda Lembata memiliki sikap demikian. Masih ada anak-anak muda yang mencintai dan mengembangkan kebudayaan daerahnya.

Namun, gejala ketika budaya sendiri dianggap kuno, sedangkan budaya dari luar dianggap modern, merupakan persoalan yang patut kita perhatikan.

Mengapa seseorang bisa merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa asing daripada bahasa ibunya sendiri?

Mengapa pakaian tradisional dianggap hanya pantas dikenakan dalam upacara adat, sementara pakaian dari luar dapat digunakan dalam berbagai kesempatan?

Mengapa makanan tradisional yang diwariskan oleh leluhur kurang mendapat tempat dalam kebanggaan sebagian anak muda, sementara makanan modern dengan mudah menjadi simbol gaya hidup?

Baca Juga:

Koda Sebagai Identitas Budaya dan Simbol Kehormatan

Persoalannya bukan karena makanan dari luar itu buruk, pakaian modern itu salah, atau generasi muda tidak boleh mengikuti perkembangan zaman.

Persoalannya muncul ketika keterbukaan terhadap budaya luar berjalan bersama dengan hilangnya penghargaan terhadap budaya sendiri.

Kita boleh menikmati fried chicken, tetapi jangan sampai melupakan jagung titi. Kita boleh mengenakan pakaian modern, tetapi jangan sampai merasa rendah diri ketika mengenakan kewatek dan nowin. 

Kita boleh menguasai bahasa asing, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan dan kebanggaan menggunakan bahasa daerah.

Modernitas tidak seharusnya menuntut seseorang meninggalkan identitas budayanya.

Sebaliknya, manusia yang berakar pada kebudayaannya memiliki modal untuk berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Baca Juga:

Membaca Gender Dari Dalam Budaya Lamaholot

Dimana Letak Kesalahan Kita?

Jika generasi muda mulai menjauh dari budaya Lembata, apakah sepenuhnya kesalahan mereka?

Saya berpendapat, kita perlu memeriksa kembali cara kita mewariskan kebudayaan.

Pertama, generasi tua belum mewariskan budaya secara optimal kepada generasi muda.

Kita sering mengeluh bahwa anak-anak sekarang tidak memahami adat, tidak mampu berbicara bahasa daerah, tidak mengenal cerita rakyat, dan tidak tertarik mengikuti kegiatan budaya.

Namun, mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Seberapa sering kita menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan anak-anak di rumah?

Seberapa sering kita menceritakan asal-usul kampung, sejarah leluhur, makna ritual, dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kita?

Seberapa sering kita mengajak anak-anak menyiapkan jagung titi, mengenakan pakaian adat, mendengarkan cerita rakyat, atau terlibat dalam kegiatan budaya di kampung?

Baca Juga:

Etika Koda Dalam Budaya Adonara: Telaah Aksiologis terhadap Ungkapan “Moripet di Noon Koda, Matanet di Noon Koda”

Jangan-jangan, ketika anak-anak tumbuh tanpa mengenal budayanya, kita baru menyadari pentingnya pewarisan budaya setelah kesempatan itu semakin sulit ditemukan.

Kebudayaan tidak diwariskan hanya melalui nasihat. Kebudayaan diwariskan melalui bahasa yang digunakan setiap hari, teladan yang dilihat anak-anak, kebiasaan yang dilakukan bersama, dan pengalaman hidup yang mereka rasakan sendiri.

Jika orang tua tidak lagi menggunakan bahasa daerah di rumah, sekolah tidak memberikan ruang yang memadai bagi kebudayaan lokal, dan lingkungan sosial lebih menghargai segala sesuatu yang datang dari luar, maka jangan heran apabila anak-anak tumbuh dengan orientasi budaya yang berbeda.

Kita tidak bisa menuntut generasi muda mencintai sesuatu yang tidak pernah kita hadirkan secara menarik dalam kehidupan mereka.

Kedua, kita belum melakukan revitalisasi budaya secara sungguh-sungguh.

Selama ini, kegiatan kebudayaan sering kali hadir dalam bentuk festival, pentas seni, upacara adat, perlombaan, atau perayaan hari besar.

Semua itu penting. Namun, kebudayaan jauh lebih luas daripada pertunjukan dan perayaan.

Kebudayaan adalah sistem nilai, pengetahuan, keterampilan, dan praktik kehidupan yang membantu masyarakat memahami dirinya, berhubungan dengan sesama, serta berinteraksi dengan alam.

Di dalam cerita rakyat terdapat pengetahuan tentang kehidupan. Di dalam bahasa daerah tersimpan cara masyarakat memahami dunia. Di dalam ritual adat terdapat aturan, ingatan kolektif, dan hubungan antargenerasi. 

Baca Juga:

Belajar Dari Lembata untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan di Flores Timur

Di dalam makanan tradisional terdapat pengetahuan tentang bahan pangan, lingkungan, pengolahan, dan kebiasaan hidup masyarakat.

Karena itu, revitalisasi budaya tidak cukup dilakukan dengan mengadakan festival tahunan.

Kita perlu menghidupkan kembali nilai-nilai budaya agar hadir dalam pendidikan, keluarga, ruang publik, kegiatan ekonomi, perkembangan teknologi, dan kehidupan generasi muda.

Budaya tidak boleh hanya menjadi tontonan pada saat perayaan. Budaya harus kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bersambung…

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of