Agar Murid Sukses Di Masa Depan, Cerdas Secara Akademis Saja Tidak cukup, Mereka Perlu Cerdas Secara Emosional

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dalam waktu yang sangat panjang, dunia pendidikan percaya bahwa kemampuan akademik adalah kunci kesuksesan karir seseorang. Oleh karena itu, segala upaya dilakukan oleh guru di sekolah-sekolah kita untuk mengembangkan kemampuan akademik murid tersebut. 

Proses belajar mengajar lalu difokuskan pada materi yang dipersyaratkan oleh kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru sangat sering menerapkan pendekatan pembelajaran yang berbasis transfer dengan metode yang dominan seperti ceramah, diskusi, dan menghafal. 

Guru menjelaskan sejumlah konsep, materi, pengetahuan yang dipersyaratkan dalam kurikulum, memberikan contoh-contoh, mengerjakan latihan, agar para murid mengerti dan kemudian mereproduksi kembali pengertian tersebut pada saat ulangan dan ujian, untuk memperoleh nilai akademis yang bagus.

Baca Juga:

Tidak Hanya Mengurangi Stres, Musik Terbukti Meningkatkan Kecerdasan

Proses belajar di sekolah-sekolah kemudian disempurnakan dengan sistem ujian nasional yang berlaku di semua sekolah bagi murid kelas akhir. Murid dianggap berhasil jika telah menjawab sejumlah soal ujian nasional tersebut dengan benar, dan memperoleh skor maksimal. 

Namun berbagai indikator kemudian menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan akademik saja tidak cukup membuat para murid menghadapi berbagai tantangan yang real dalam hidup mereka. Bahkan proses akademis yang dijalani oleh para murid, ternyata tidak membuat mereka berhasil memperoleh skor tinggi pada tes internasional seperti PISA.

Namun lebih dari itu, sejak era tahun 1990-an banyak penelitian mulai menyimpulkan bahwa bagi seorang murid, pengembangan kecerdasan akademis saja tidak cukup membekali mereka, untuk sukses dalam karier di masa depan. Selain kemampuan akademis, kemampuan emosional inteligensi para murid perlu juga dikembangkan. 

Baca Juga:

Kecerdasan Pada Anak Diwariskan dari Gen Ayah atau Ibu?

Lebih lanjut artikel ini hendak menjelaskan tentang emosional intelegensi, mengapa pengembangan emosional intelegensi penting bagi seorang murid dan bagaimana sekolah dapat mengembangkan emosional inteligensi secara singkat. 

Konsep emosional inteligensi

Emosional intelegensi adalah kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Emosional intelegensi melibatkan kemampuan seseorang seperti kesadaran diri dalam berbagai situasi, pengaturan emosi, bagaimana memotivasi diri sendiri dan orang lain, empati, dan keterampilan sosial. 

Kemampuan ini pada awalnya merupakan potensi bawaan yang dapat dikembangkan dalam interaksi antar manusia. Dibandingkan dengan Intelegensi Quosien atau kemampuan akademik, Emosional inteligensi lebih dapat dikembangkan dalam interaksi antar manusia, termasuk dalam proses belajar mengajar. 

Baca Juga:

Pendidikan Bukan Lomba Cepat-Cepatan

Emosional Intelegensi lebih penting? 

Banyak bukti yang dikumpulkan oleh para peneliti seperti dalam buku emotional intelligence Daniel Goleman misalnya, menyimpulkan bahwa emosional intelegensi adalah prediktor yang lebih baik untuk kesuksesan karier seorang, lebih daripada nilai akademis seorang. 

Artinya seorang yang diketahui memiliki emosional intelegensi tinggi diyakini lebih berhasil dalam memimpin tim dibandingkan dengan kandidat lain yang diketahui memiliki prestasi akademis  tinggi. 

Kenapa demikian? Karena orang dengan emosional intelegensi tinggi lebih efektif dalam bekerja sama, lebih mampu mengelola stresnya sendiri, lebih mampu mengelola dan memimpin tim. 

Baca Juga:

Pendidikan Bukan Lomba Cepat-Cepatan

Selain itu, orang yang memiliki emosional intelegensi lebih tinggi juga diyakini memiliki hubungan interpersonal yang lebih baik dengan orang lain. Ia akan mampu menempatkan diri dan mampu menempatkan orang lain pada posisi yang tepat sehingga orang merasa nyaman bekerja sama dalam timnya. Ini merupakan salah satu faktor sukses yang penting. 

Selain hubungan interpersonal, orang dengan emosional intelegensi tinggi juga diyakini memiliki kesehatan mental yang lebih prima. Kenapa? Karena mereka dapat mengelola stres, depresi mereka sehingga lebih sehat secara mental. Orang dengan mental yang sehat akan lebih mampu menjalin kerjasama dengan orang lain. 

Orang dengan emosional intelegensi tinggi juga diyakini lebih sukses karena memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada tuntutan lingkungannya. Pemilikan kemampuan adaptasi membantu mereka menghadapi perubahan secara lebih efektif. 

Baca Juga:

Perlu Pengembangan Pengajaran dengan Pendekatan Ini, Agar Lulusan Sekolah Memiliki Soft Skills

Bagaimana Sekolah Mengembangkan Emosional Intelegensi

Jika sekolah ditempatkan sebagai lembaga untuk menyiapkan murid hidup di masyarakat, maka tidak ada pilihan lain, selain mengembangkan kemampuan akademis, sekolah juga harus mengembangkan emosional intelegensi para murid. 

Hal tersebut dapat dilakukan dengan memasukkan emosional intelegensi ke dalam kurikulum sekolah. Tentu saja secara terintegrasi dengan kurikulum resmi yang berlaku dan menjadi real kurikulum yang dibangun oleh sekolah sendiri. Ini adalah satu model kurikulum plus.

Salah satu komponen penting pengembangan emosional intelegensi yang dapat di kembangkan adalah pengebangan empati. Di sini yang pertama adalah guru harus mempraktikkan empati dalam interaksi dengan murid. 

Baca Juga:

Kebiasaan Baik ini Bikin Masa Depan Anak Cemerlang

Oleh karena itu, para pengelola sekolah harus memastikan guru-guru memiliki kadar empati yang hidup, di mana guru harus menunjukkan empati pada perasaan murid ketika berinteraksi dengan mereka, karena sangat efektif bila anak belajar dari apa yang mereka lihat. 

Untuk membentuk kemampuan empati pada murid, sekolah perlu mendesain pelatihan empati yang berisi kegiatan diskusi tentang perasaan, bermain peran sebagai sarana membantu murid untuk memahami perasaan orang lain. 

Ajak para murid mengidentifikasi perasaan orang lain dalam interaksi yang mereka alami dalam pelatihan tersebut. Selanjutnya, latih para murid untuk mendengarkan aktif dan memahami perasaan orang lain. 

Baca Juga:

Kemendikti Saintek Perlu Adil dalam Regulasi Jumlah Kuota Mahasiswa Baru bagi PTN Maupun PTS

Selanjutnya, agar para murid mempraktikkan apa yang mereka pelajari tentang empati, mereka harus sesering mungkin dikondisi untuk bekerja dalam tim. Di mana mereka wajib menunjukkan empati pada perasaan murid yang lain dan guru wajib memberi perhatian pada proses ini. 

Selain empati,  komponen penting lain dari pembelajaran emosional intelegensi adalah pembelajaran emosi. Ini dapat dilatih bersama-sama dengan pelatihan tentang empati. Para murid dilatih mengenali perasaan mereka, dan melatih mereka mengelola emosi, mengelola stres yang mereka alami. 

Selain pembelajaran empati, belajar mengelola emosi, hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah mengkondisi para murid untuk bekerja dalam kelompok. Melalui kegiatan dalam kelompok,  para murid dikondisi untuk mengembangkan emosional intelegensi yang di dalamnya memuat berbagai keterampilan sosial yang sangat mereka butuhkan dalam hidup. 

Baca Juga:

Stunting dan Masa Depan Generasi Sebuah Bangsa Bernama NTT

Itulah sedikit pemikiran dan gagasan tentang emosional intelegensi. Mudah-mudahan membuat Digiers sadar bahwa sekolah adalah tahap persiapan hidup di masyarakat. Oleh karena itu kemampuan akademis saja tidak cukup. 

Para murid perlu mengembangkan emosional inteligensi karena akan membuat mereka lebih mampu menghadapi berbagai tantangan dan perubahan yang terjadi dalam hidup mereka. Selamat berjuang.

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com , kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto: digenerate oleh AI

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of