Eposdigi.com – Banyak faktor menilai sebuah kepemimpinan. Ada faktor budaya dan personality. Indonesia baru punya 8 presiden maka 2 faktor di atas bisa menjadi rujukan.
Soekarno berlatar belakang budaya Islam Jawa agak ke-Hindu -an dan juga seorang ningrat. Dia masuk kelompok elit yg punya pendidikan Barat sampai perguruan tinggi yang saat itu tidak banyak orang punya.
Kuat akan literasi, seorang aktivis pergerakan sejak muda, pernah dipenjara oleh Belanda, padahal kalau dia mau dia bisa jadi pegawai tinggi Belanda. Memang Soekarno itu punya trah pemimpin dan agak Flamboyan.
Sedangkan Soeharto dari kalangan kebanyakan dengan masa kecil yg susah, tidak berpendidikan tinggi hanya sampai skakel Muhammadiyah, ya setingkat SD plus. Soeharto tidak punya literasi yg kuat.
Baca Juga:
Krisis Kepemimpinan Pendidikan sebagai Salah Satu Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan
Orangnya agak tertutup, tapi memiliki kemauan yg kuat. Karena Jepang masuk sehingga dia bisa punya kesempatan mengikuti pendidikan militer spartan ala Jepang.
Beda Soeharto dengan Ahmad Yani yg sekalipun berlatarbelakang Jawa Islam keHinduan tapi sempat sekolah sampai AMS, sehingga mahir berbahasa Belanda dan Inggris. Ahmad Yani dengan latar belakang pendidikan Jepang tapi setelah kemerdekaan bisa sekolah militer tinggi di Amerika Serikat.
Dengan latar belakang budaya Jawa lah seperti latihan kepribadian ala Jawa dg puasa mutih, percaya pada wayang dan cenderung mistik, itu lah yg mempengaruhi Soeharto bisa jadi presiden.
Lihat bagaimana dia bersama kelompok Banteng Raiders, batalyon divisi Diponegoro seperti Untung, Latif hingga Ali Moertopo dan Yoga Soegama, melakukan persiapan untuk mencapai puncak kekuasaan.
Baca Juga:
Ya itu cara Machiavelli. Seperti cerita bagaimana Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk menjadi raja Singasari. Beda dengan Hatta atau Nasution, mereka berbudaya Melayu Islam-Sumatera yg cenderung egaliter dan punya latar belakang pendidikan tinggi. Hatta malah kuliah di Belanda. Nasution masuk Akademi Militer Bandung.
Jadi Soeharto sadar bahwa dia hanya punya pengalaman, maka dia harus belajar sabar dan dengan cepat dan tepat memanfaatkan kesempatan yg datang. Sangat khas perebutan kekuasaan Jawa yg menghalalkan cara. Lihat cerita Amangkurat.
Setelah jadi presiden Soeharto sadar bahwa karena dia tidak punya kemampuan berkomunikasi yg baik karena pendidikan yg biasa saja. Soeharto baru ke Eropa tahun 1963 saat bersama Nasution diperintahkan oleh Soekarno untuk beli senjata guna persiapan Trikora dan Dwikora.
Baca Juga:
Sadar akan hal itu, maka dia pakai para teknokrat tamatan Amerika Serikat seperti Widjojo cs untuk mulai bangun Indonesia. Awalnya dipakai Sri Sultan, Adam Malik dan Soemitro Djojohadikusumo dan Frans Seda yg berkaliber internasional.
Setelah dekade 1980 an maka keliatan asli nya. Karena punya kecenderungan tertutup maka Soeharto itu dasar nya tidak mau dikritik. Cenderung diktator. Dia mulai membonsai partai dengan hanya 3 partai. Lalu pakai Golkar dg sayap militer dan birokrasi yg punya rantai komando.
Pembangunan berjalan baik atas bantuan asing. Ada swasembada beras. Tapi jadi sarang korupsi serta memperkaya kroni-kroni nya. Demokrasi tumbuh ala Jawa. Tetap terkontrol. Dia buat kaya Sudono Salim, Bob Hasan yg sudah jadi konconya sejak Soeharto jadi panglima Diponegoro tahun 1957 di Semarang.
Baca Juga:
Izin Konsesi Hutan Dari Masa Ke Masa: Jejak Panjang Penguasaan Kawasan Hutan
Akibat nya anak-anak Soeharto jadi sangat kaya raya, juga saudara nya seperti Sudwikatmono dan Probosutedjo dan kalangan militer seperti Ibnu Sutowo.
Maka tumbuh budaya KKN yg buat Indonesia nyaris bangkrut. Karena masa kecil nya yg susah membuat Soeharto tidak mau keluarga nya susah seperti dia dulu.
Dengan pendekatan yang sama kita bisa nilai Habibie yang punya latar belakang keluarga Bugis Gorontalo Jawa. Dia sangat cerdas, berpendidikan tinggi hingga PhD di Jerman, sehingga sangat terlihat teknokrat dalam memimpin dan begitu kosmopolitan.
Habibie terlihat berani mengambil resiko juga seorang demokratis yg legowo saat tidak terpilih lagi. Sayang dia terlalu singkat memimpin Indonesia.
Baca Juga:
Inersia dan Viskositas Birokrasi: Dua Musuh Sunyi dalam Sistem Birokrasi
Gus Dur sekalipun punya latar belakang keluarga ningrat Kiai Besar di Jombang, tapi sejak SMP dan SMA sudah mondok di Magelang Yogya dan Jakarta. Bergaul secara egaliter dengan semua kalangan.
Lanjut kuliah ke Baghdad dan Kairo mampir ke Belanda, Perancis dan Kanada. Jadi terlihat Gus Dur itu cerdas, kosmopolitan, sangatlah plural dan demokratis. Dan dalam memimpin cenderung bergaya LSM, terkesan semau dia.
Megawati lahir sebagai anak Presiden di Istana Negara di Yogyakarta. Sejak kecil sudah mengenal, berkomunikasi dan bergaul dengan semua pemimpin Indonesia dan dunia.
Sekalipun agak sentimentil, karena warisan ibu nya dari Bengkulu dan Bapak nya yang punya darah seni dari nenek nya orang Bali namun suasana kebatinan saat mengalami kejatuhan Bapak nya secara tidak normal itu membuat Mega menjadi begitu maskulin namun cenderung berhati-hati.
Baca Juga:
Manifesto Pendidikan dari Guru Besar ITB dan Momentum Perubahan di Bidang Pendidikan
Secara formal dia tidak selesai kuliah karena dihambat Orde Baru, tapi dia fasih berbahasa Inggris dan Perancis. Berani melawan Soeharto karena ada darah perjuangan dari Soekarno.
SBY dengan latarbelakang satria Jawa, sekalipun orang tua nya dari tentara biasa tapi karena cerdas dia bisa masuk Akademi Militer. SBY cenderung hati-hati, agak perfeksionis, punya darah seni.
Dia gunakan pakem Jawa yang kadang tidak pernah berterus terang dalam mengambil keputusan sehingga tahu waktu yang pas untuk naik jadi Presiden. Tapi karena pernah kuliah di Amerika Serikat maka dia selalu pakai pendekatan sistematis dan demokratis.
Sekarang Jokowi yang dari kecil hidup susah di Solo. Bukan dari kalangan tinggi, malah kita tidak tahu persis latar belakang keluarga nya. Yang jelas dia besar di Solo, kota yang semua latar belakang berkumpul di situ.
Baca Juga:
Ada yang priyayi, ada abangan, ada juga santri, ada seniman tapi juga ada bromocorah, malah banyak golongan kiri, karena dulu Boyolali yg dekat dengan Solo adalah salah satu basis PKI.
Latar belakang sekolahnya Jokowi pun tidak terekspos.Tapi dia punya latar belakang bisnis kayu. Ya semacam saudagar. Tidak terekam bahwa Jokowi muda adalah seorang aktivis kampus.
Dia baru muncul setelah Reformasi yg membuat euforia bahwa semua orang bisa jadi walikota. Masuk lewat PDI-P, padahal bukan kader. Sehingga kita tidak bisa tahu secara pasti Jokowi ini berideologi apa.
Agak samar, cenderung gado-gado. Sangat kesan gaya Jawa nya ngono ya ngono tapi ojo ngono. Keliatan Machiavelli. Hampir mirip Soeharto. Pembangunan infrastruktur kencang, tapi hutang pun melonjak. Apalagi KKN, semakin menjadi-jadi.
Baca Juga:
Retorika Sang Jenderal dan Bayangan Koruptor – Sebuah Pertanyaan untuk Republik
Prabowo punya semua kemewahan sejak kecil. Berdarah Jawa dan Minahasa. Berpendidikan Eropa. Keturunan ningrat, pintar, kaya raya, elit militer, mantu Soeharto lagi. Hidup nya tidak pernah susah.
Tapi karena terlalu cepat naik pangkat di militer hingga letnan jenderal dan langsung diberhentikan saat di puncak karirnya, membuat Prabowo menjadi begitu sabar, cenderung hati-hati, juga kompromi saat come back dan butuh 20 tahun untuk jadi Presiden.
Dia sadar bahwa dia naik jadi Presiden karena begitu banyak kompromi sehingga tidak nampak ketegasan dalam mengambil keputusan. Bisa jadi sekarang dia terlalu tua. Tentu berbeda saat dia waktu muda di puncak karir militernya.
Poin penting nya kita mesti tahu latar belakang para pemimpin kita. Jadi personality yg dipengaruhi latar belakang pendidikan, masa kecil, latar belakang budaya serta pengalaman hidup sangat berpengaruh saat seorang jadi Presiden.
Baca Juga:
Arogansi Kebijakan Pejabat yang Mengabaikan Suara Rakyat, Sebuah Rasa Kemanusiaan yang Terabaikan
Selalu ada plus-minus nya. Tidak ada orang yang sempurna. Kita tentu tidak memilih malaikat, tapi kita berusaha agar jangan sampai orang jahat menjadi pemimpin.
Karena sudah 80 tahun kita merdeka, mengapa negara lain sudah maju, kita malah belum kelihatan maju.
Namun kita berusaha optimis dan seperti nya masih percaya dengan jalan demokrasi, kita bisa dapatkan pemimpin yang lebih baik sehingga kita bisa keluar dari kubangan dan kutukan ini.
Ilustrasi dari shepherdsadvantageinc.com
Leave a Reply