Polah Asuh Strawberry Parents dan Tantangan Generasi Masa Depan

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Setiap orang tua pasti menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya. Keinginan para orang tua ini bisa diamati dari bagaimana pola asuh atau cara mendidik anak-anak mereka. Menentukan bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak adalah persoalan yang sangat penting dan fundamental bagi para orang tua.

Mengasuh anak ternyata merupakan sebuah petualangan yang menarik sekaligus penuh tantangan. Membutuhkan komitmen dan energi yang luar biasa untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, suasana yang ideal.

Cara mendidik dan mengasuh orang tua kepada anak-anaknya, secara tradisional biasanya diwariskan dari para orang tua sebelumnya; dari kakek nenek mereka. Namun ini tidak serta merta berlaku umum. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa cara mendidik anak-anak kita, sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita dididik oleh orang tua kita.

Baca Juga:

Pola Asuh Toxic Ini Harus Dihindari Orang Tua Agar Tumbuh Rasa Percaya Diri pada Anak

Para orang tua, cenderung memiliki gaya dan pola pengasuhan yang khas. Kekhasan ini sangat tergantung pada budaya dan nilai-nilai yang dihidupi oleh para orang tua.

Dalam suatu kesempatan belajar bersama para orang, saya mengajukan pertanyaan berikut “apa yang kita, para orang tua inginkan dari anak-anak kita?” Jawaban atas pertanyaan ini ternyata sangat banyak. Para orang tua sangat antusias menyampaikan list yang panjang apa yang mereka inginkan dari anak.

Mereka begitu bersemangat dan memulai sharing dengan kalimat “saya ingin anak-anak saya…” “Saya ingin…” Kalimat ini jelas menunjukan bahwa bagaimana anak berkembang, akan menjadi apa anak-anak kita, sangat tergantung pada apa yang kita inginkan.

Polah Asuh Strawberry merupakan sebuah istilah yang pertama kali muncul di Taiwan. Sebuah polah asuh yang menunjukan kelembutan dan perhatian yang berlebihan, sebuah kondisi yang diciptakan lingkungan yang sebegitu-nyamannya sehingga anak-anak tidak memiliki tantangan hidup.

Baca Juga:

Toxic Femininity Juga Bisa “Membunuh”

Hasil dari Polah Asuh Strawberry adalah Generasi Strawberry. Sebuah gambaran bagi generasi yang begitu rentang terluka dan rapuh, seperti halnya Strawberry.

Generasi Strawberry ditandai dengan karakter anak mudah menyerah, rapuh, enggan bekerja keras, gampang sakit hati, kecenderungan untuk tidak mendengarkan orang lain, juga sulit bekerjasama dengan orang lain.

Karakter-karakter ini lahir dari pola asuh Strawberry yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Pertama: Selalu mengikuti keinginan anak. Dengan alasan menunjukan kasih sayang, para orang tua cenderung melampaui batasan kasih sayang dengan memanjakan anak secara berlebihan. Apapun keinginan anak selalu dipenuhi.

Polah asuh ini membuat anak cenderung bersifat otoriter, tidak mau mendengarkan orang lain, merasa bahwa apapun yang akan dia inginkan harus dipenuhi oleh siapapun. Anak kehilangan daya juan karena apapun yang diinginkannya selalu disediakan.

Baca Juga:

Pola Asuh Overprotektif dan Dampaknya pada Tumbuh Kembang Anak

Kedua: Mentoleransi Kesalahan dan Tidak memberi konsekuensi atas tindakan anak yang salah. Orang tua yang membenarkan semua tindakan anak, tidak memberikan batasan yang tegas atas apa yang boleh dan tidak boleh, dan tidak menerapkan konsekuensi atas batas-batas yang dilanggar membuat anak kehilangan pedoman dan ukuran dalam bertindak.

Cara mengasuh yang demikian ini membuat anak menganggap bahwa apapun yang dilakukannya adalah benar. Bahkan atas kesalahan yang fatal sekalipun anak cenderung kehilangan kepekaan dan rasa tanggung jawab. Anak membenarkan semua tindakan nya.

Tiga: Mengganti waktu berkualitas dengan uang. Orang tua menganggap bahwa uang, hadiah dan pemberian lainnya sudah cukup untuk menunjukan rasa kasih sayang kepada anak-anak.

Pada tingkatan tertentu ini bisa saja merupakan sesuatu yang baik. Menjadi negatif ketika uang dan atau hadiah menjadi pengganti atas kebutuhan anak berupa kedekatan secara fisik dan emosional dengan orang tuanya.

Baca Juga:

Menciptakan Lingkungan Yang Baik Bagi Ketahanan Mental

Anak juga membutuhkan waktu berkualitas bersama dan di antara orang tuanya. Kedekatan fisik dan emosional menciptakan kesaling-ketergantungan, kepercayaan, simpati, empati, dan rasa saling membutuhkan satu sama lain.

Pola Pendidikan yang demikian ini, membuat anak bersifat materialistis. Menganggap bahwa uang dapat menyelesaikan apapun masalah yang dihadapi. Ini akan menjadi masalah ketika uang tidak diperoleh dengan mudah. Bisa saja anak akan menghalalkan apapun untuk mendapatkan uang.

Memaham dengan pasti apa yang dibutuhkan oleh anak bukan perkara mudah.  Dalam kegiatan yang saya sampaikan diatas, ketika mengajukan pertanyaan “Apa yang anak-anak butuhkan?” Atas pertanyaan ini, ada jeda yang cukup lama sebelum para orang tua menjawab pertanyaan tersebut.

Ternyata, para orang tua mengidentifikasi dan menemukan apa yang dibutuhkan anak bukan persoalan yang gampang. Sebab bagaimanapun konteks waktu antara tumbuh kembang anak saat ini, tentu berbeda dalam konteks waktu ketika orang tua tumbuh.

Satu-satunya cara untuk benar-benar memahami apa yang dibutuhkan anak adalah sedekat mungkin dengan anak, secara fisik dan emosional sehingga bisa menangkap dengan jelas setiap kebutuhan bahkan ketika itu tidak disampaikan dalam bahasa verbal.

Baca Juga:

5 Dampak Buruk Sering Membentak dan Meneriaki Anak

Kedekatan ini membuat orang tua mengikuti setiap perkembangan tumbuh kembang anak, sehingga mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak. Ini tentu tidak mudah. Butuh usaha keras dan kerelaan yang luar biasa dari orang tua, ayah maupun ibu, untuk memberi waktunya kepada anak.

Alasan-alasan permisif semisal orang tua bekerja kadang menjadi penyebab yang paling dirasionalisasi oleh orang tua untuk menemukan alasan kenapa orang tua tidak memiliki cukup waktu untuk anak-anaknya.

Strawberry parent tentu tidak sesuai dengan konteks waktu hari ini karena perubahan yang sedemikian cepat dan arah perubahan dan dampak dari perubahan yang tidak bisa diprediksi secara tepat, membutuhkan penyesuaian diri yang cepat, ketahanan mental yang tangguh dan sikap pantang menyerah untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut.

Foto ilustrasi dari kompas.com 

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of