PR Besar Menanti Setelah Tawuran Usai

Warga Peduli
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Stereotip seperti yang digambarkan Simon Lamanepa dalam tulisannya kemarin benar adanya. Peristiwa Babarsari baru-baru ini seolah menegaskan pengalaman masyarakat Yogyakarta sejak puluhan tahun lalu melahirkan dan melanggengkan stereotip itu.

Tentu stereotip itu bukan hanya prasangka yang datang kemarin sore. Akumulasi pengalaman bertahun-tahun, angkatan demi angkatan kuliah, suka atau tidak suka harus kita terima.

Walaupun diyakini pasti bahwa tidak semua “Orang Timur” masuk dalam kategori stereotip tersebut. Tetap saja “Orang Timur” itu…bla..bla..bla…

Pasca peristiwa Klebengan beberapa tahun silam, dalam beberapa obrolan santai dengan beberapa mereka yang masih kuliah di Yogyakarta saat itu, untuk mencari jalan keluar, yang secara sistematis, terencana dengan baik, untuk menggeser stereotip itu.

Baca Juga:

Menilik Dampak Kerusuhan Antara “Ambon” dan “NTT” di Yogyakarta

Bahwa tidak semua “Orang Timur” itu: suka bikin onar, mabuk-mabukan, tidak bayar kos, suka ngutang di warung, suka berkelahi, kuliah tidak benar, dan semua kesan negatif lainnya.  

Pengalaman masyarakat Yogyakarta yang menghasilkan penilaian akan “Orang Timur” yang demikian ini harus ditandingi dengan pengalaman lain yang memberi kesan positif, kesan yang berlawanan dengan stereotip itu.

Kepada beberapa teman yang kuliah di Yogyakarta, dalam obrolan santai, saya menawarkan kepada mereka kegiatan-kegiatan positif yang bisa dilakukan, sebagai mahasiswa, yang bisa menghadirkan kesan positif.

Saya menawarkan kepada mereka kegiatan-kegiatan positif ditempat-tempat umum agar masyarakat Yogyakarta tahu bahwa mahasiswa dari “Timur” juga memberi sumbangsih positif pada masyarakat Yogyakarta.

Baca Juga:

Harvard University, Tolak Calon Mahasiswa karena Komentar Rasis di Media Sosial

Coba sesekali pungut sampah di Borobudur, kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar Candi Prambanan, atau di Malioboro,” kataku menawarkan kepada mereka. Ini mungkin terdengar sederhana namun jika dilakukan secara rutin, minimal memberi kesan positif bahwa ada “Orang Timur” yang tidak tawuran.

Tidak  hanya itu, mendekatkan diri ke masyarakat  di sekitaran kost dengan melapor diri ke RT setempat. Minimal pengurus RT tahu ada “Orang Timur” yang memiliki adab sebagai tamu yang baik, datang melapor diri.

Jika ribuan “Orang Timur” datang melapor diri ke RT maka ada ribuan kesan baik juga yang ditinggalkan untuk masyarakat Yogyakarta. Kemudian setelah itu, terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan di tempat ia tinggal, melibatkan diri saat kerja bakti di lingkungan tempat ia tinggal.

Melapor diri itu bukan semata mengantar fotocopy KTP ke rumah pengurus RT, ada proses menjadi duta daerah pada saat bersamaan, membawa cinderamata khas daerahnya sebagai buah tangan, sambil memperkenalkan diri bercerita satu dua hal sekedar basa basi tentang daerah asalnya.

Baca Juga:

Mahasiswa, apa Prioritasmu?

Tentu kita tidak mengharapkan kesan baik itu akan meruntuhkan stereotip yang telah terbangun dalam sekejap. Asal kita konsisten, paling 10 atau 20 tahun lagi kesan baik itu sudah mendominasi dibanding stereotipe.

Namun ini pun harus melibatkan komitmen dari banyak pihak. Sekolah-sekolah tingkat SMA harus benar-benar menyiapkan lulusannya, memberi mereka gambaran mengenai kuliah dan tinggal bersama masyarakat Yogyakarta.

Para orang tua benar-benar mendampingi anak-anaknya agar berangkat ke Yogyakarta menjadi mahasiswa. Tidak ada ruang menjadi preman, tidak ada kesempatan untuk mabuk-mabukan, tidak ada waktu untuk malas-malasan.

Kampus semoga bisa ‘mendidik’ lewat komitmen akademis agar para mahasiswanya tidak memiliki ruang dan waktu untuk menciptakan kesan negatif bagi dirinya.

Baca Juga:

Mendorong Perubahan di Masyarakat Melalui Pendidikan Tinggi

Namun kemudian akhirnya masing-masing mahasiswa, menjadi ujung tombak, untuk menciptakan kesan baik, setiap saat. Mengejar prestasi lintas negeri, mengharumkan tidak hanya nama daerah asalnya nun jauh di Timur sana, juga mengharumkan nama Yogyakarta, minimal kampus tempatnya menimba ilmu.

Perilaku-perilaku yang mendatangkan kesan negatif, mempertegas stereotip seharusnya tidak lagi menjadi pilihan, mulai saat ini, sekarang juga, agar kesan-kesan baik itu mendapat tempat dan menjadi bagian dari masyarakat Yogyakarta.

Apakah PR besar ini bisa diwujudkan?  Siapa yang harus dan kapan memulainya? Atau adakah alternatif lain yang lebih mendidik, lebih merepresentasi status MAHAsiswa?

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of