Indonesia Kembali Jadi Lower-Middle Income Country, Perlukah Cemas?

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Baru setahun menyandang predikat sebagai negara upper-middle income, Indonesia kembali turun kelas menjadi negara lower-middle income. Hal ini menyusul klasifikasi negara-negara menurut Bank Dunia yang dirilis pekan lalu.

Menurut klasifikasi yang diperbaharui tiap 1 Juli ini, standar untuk negara-negara yang masuk dalam kategori upper-middle income pada tahun 2020 adalah memiliki Gross National Income (GNI) per kapita dengan kisaran US$4.096-US$12.695. Indonesia sendiri mencatatkan GNI per kapita sebesar US$3.870, turun dari perolehan tahun 2019 yang sebesar US$4.050.

Sebagai catatan, standar GNI per kapita yang berlaku untuk negara-negara dalam kategori upper-middle income pada tahun 2019 adalah US$4.046-US$12.535. Pada tahun tersebut, Indonesia berhasil naik kelas setelah mencatatkan peningkatan dari GNI per kapita tahun 2018 yang sebesar US$3.840.

Baca juga: Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sistem Pendidikan Di Indonesia

Pertanyaan pun timbul terkait dampak dari kembali turunnya status Indonesia menjadi negara lower-middle income. Apakah klasifikasi ini layak untuk dijadikan sebagai tolak ukur kematangan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain dan apakah penurunan kelas mengindikasikan kemunduran ekonomi Indonesia secara keseluruhan?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Bank Dunia menggolongkan negara-negara ke dalam empat kategori berdasarkan perolehan GNI per kapita tahunan masing-masing, yaitu low income, lower-middle income, upper-middle income, dan high income.

Perolehan GNI per kapita sendiri dinyatakan dalam Dollar Amerika Serikat, dihitung menggunakan kurs rata-rata tiga tahun yang berlaku di masing-masing negara, dan disesuaikan dengan tingkat inflasi tahunan.

Sejak dirumuskan tahun 1978, klasifikasi Bank Dunia telah digunakan secara luas sebagai panduan analisis, acuan dalam pengambilan kebijakan, khususnya pemberian bantuan oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, serta dalam menentukan target-target pembangunan di berbagai negara.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa klasifikasi ini memang tidak dimaksudkan sebagai parameter tunggal dalam mengevaluasi kondisi ekonomi suatu negara.

Baca juga: Peluang Bagi Dunia Pendidikan Di Balik Krisis Covid-19

Terkait akses menuju pinjaman dan pembiayaan, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menekankan pentingnya sovereign credit rating Indonesia ketimbang klasifikasi Bank Dunia.

Dalam keterangannya untuk Kontan, Rabu (7/7), Josua berpesan kepada pemerintah untuk sebisa mungkin mencegah terjadinya penurunan rating tersebut oleh lembaga pemeringkat agar tidak terjadi kenaikan pada bunga dari hutang-hutang luar negeri Indonesia. Untuk itu, Ia juga menekankan pentingnya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Sehubungan dengan turunnya status Indonesia menjadi negara lower-middle income sendiri, Josua lagi-lagi mengaitkan turunnya GNI per kapita Indonesia dengan dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 sepanjang tahun 2020.

Menurutnya, hal yang sama juga dialami oleh negara-negara lain, bahkan dengan penurunan yang lebih dalam dari Indonesia.

Baca juga: Uang Kertas Turut Diduga Jadi Perantara Corona

Dari segi pertumbuhan ekonomi saja, kontraksi 2,1% yang dialami Indonesia masih lebih baik dari negara-negara tetangga seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia yang masing-masing terkontraksi 9,5%, 6,1%, dan 5,6%.

Alih-alih sebagai hasil akhir yang mengecewakan, akan lebih bijak untuk memaknai turunnya status Indonesia menjadi negara lower-middle income sebagai peringatan lanjutan akan luasnya dampak dari pandemi Covid-19 di Indonesia dan terlebih akan tingginya urgensi untuk memulihkan Indonesia dari dampak tersebut.

Sebuah target yang tidak mungkin dicapai dengan mengandalkan upaya pemerintah semata, namun menuntut segenap elemen masyarakat untuk turut ambil bagian.

Sumber foto: economy.okezone.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of