Surat dari Adonara – Januari 2020 ” “Setelah Penghijauan Serentak; Lantas Apa?

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Apresiasi yang tinggi patut diberikan kepada Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Flores Timur, yang bekerjasama dengan banyak pihak meyelenggarakan penghijauan. Kegiatan yang secara serentak dilaksanakan , pada 22 Januari 2020 lalu, di mata air – mata air di Kabupaten Flores Timur ini, boleh dikatakan sukses.

Partisipasi anggota Pramuka terlihat jelas dari foto-foto yang diunggah netizen yang terlibat. Keterlibatan banyak orang sedikit banyak memberi gambaran, bahwa di Flores Timur sendiri ada begitu banyak orang yang peduli terhadap kelestarian mata air.

Agus Boli, Ketua Kwarrtir Cabang Gerakan Pramuka, yang juga Wakil Bupati Kabupaten Flores Timur mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Pramuka Flores Timur terhadap bahaya kekeringan (kumparan.com 23/01/2020)

Dengan menanam lebih dari 8000 bibit berbagai jenis pohon, diharapkan mampu memberi dampak signifikan terhadap meningkatnya debit air di Flores Timur.

Namun, terlepas dari siapa yang menginisiasi gerakan ini. Entah itu Pramuka Kwarcab Flores Timur atau pihak lain, gerakan semacam ini memiliki tantangan-tantangan kedepan yang harus diantisipasi oleh semua pihak.

Baca Juga: Bambu untuk Revitalisasi Mata Air

Menetapkan tanggal 22 Januari sebagai “Hari Tanam Serentak di Flores Timur” tentu patut diapresiasi namun juga  memiliki tantangan yang tidak ringan, antara lain:

Pertama: Hanya menjadi sekedar proyek.

Gerakkan masyarakat yang melibatkan pemerintah di daerah biasanya dipandang banyak orang sebagai proyek sesaat. Dalam gerakan tanam serentak ini bisa saja di pandang  minimal sebagai  proyek pengadaan bibit.

Jika berkaitan dengan pengadaan bibit maka media harusnya menjadi alat control yang efektif terhadap hal-hal seperti ini.

Setidaknya ada dua versi pemberitaan mengenai jumlah bibit yang ditanam pada gerakan serentak baru-baru ini. Kumparan.com, lintasnusanews.com, florespost.co, weeklyline.net; menulis bahwa jumlah bibit yang ditanam sebanyak 10 ribu-an pohon.

Sementara banyak media lain: antaranews.com, berandatimur.com,mediaindonesia,com menyebut angka 5000 lebih pohon beringin dan 3000 lebih pohon bambu.

Mengapa jumlah yang ditanam menjadi sesuatu yang sensitive dalam sebuah proyek pengadaan bibit? Sebab harga bibit biasanya dihitung per pohon.

Dan jika benar kegiatan yang diinisiasi oleh Gerakan Pramuka Kwarcab Flotim ini, pengadaan bibitnya melibatkan APBD maka tentu masyarakat banyak berhak tahu besaran anggarannya.

Tanpa mengurangi apreasiasi kepada semua pihak yang sudah berjeri lelah menyukseskan kegiatan ini, kita tentu berharap bahwa kegiatan-kegiatan semisal ini jangan sampai hanya menjadi kesempatan segelintir orang untuk meraup keuntungan atas nama kepedulian terhadap lingkungan mata air.

Kedua: Mendorong kemandirian dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar mata air.

Harusnya kegiatan semacam ini adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar mata air, dengan mendorong kemandirian mereka.

Alih-alih bibit didatangkan dari luar desa, alangkah baiknya jika masyarakat desa di sekitar mata air melakukan pembibitan secara mandiri. Jikalau ada proyek pengadaan bibit pun setidaknya masyarakat sekitar mata air bisa memperoleh tambahan penghasilan dari harga bibit yang mereka siapkan.

Selain dari pembibitan, pilihan tanaman yang ditanam disekitar mata air juga harus diseleksi sedemikan rupa. Pilihan tanaman harus memperhitungkan manfaat ekologis dalam rangka menjaga debit air baku, namun juga harus dapat  mendatangkan manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga: Memagari Bambu Untuk Konservasi Mata Air dengan Perda

Insentif melalui pengadaan bibit dan manfaat ekonomi dari tanaman di sekitar mata air seperti ini tentu akan mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kelestarian ekosistem hutan di sekitar mata air.

Ketiga : Kepastian hukum tanah ulayat sekitar mata air.

Bagaimanapun air baku adalah kebutuhan masyarakat banyak. Karena menyangkut kebutuhan masyarakat banyak maka sumber-sumber mata air harus dipastikan jauh dari konflik kepentingan pihak-pihak tertentu.

Negara seyogyanya hadir menjembatani kepentingan masyarakat luas dengan tetap memandang dengan porsi yang pas hak-hak ulayat pemilik tanah tempat mata air ada.

Jangan sampai mata air dipolitisasi oleh oknum-oknum tertentu yang pada gilirannya mendatangkan  “air mata” bukan hanya masyarakat luas namun juga pemilik hak ulayat tanah di mata air.

Semoga mata air-mata air di Flores Timur tetap lestari, karena kepedulian semua pihak, bukan untuk kepentingan proyek ekonomi maupun politik satu dua orang. (Foto dari akun Facebook:  Jollizhe Koksan Liliweri di group Cinta Flotim)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Surat dari Adonara – Januari 2020  “Setelah Penghijauan Serentak; Lantas Apa? […]