Eposdigi.com – Dalam pandangan hidup orang Lamaholot, alam bukan sekadar tempat berpijak. Alam bukan sekadar sumber ekonomi. Alam juga bukan sekadar warisan leluhur. “Alam adalah bagian dari KODA.”
Gunung dan hutan, laut, mata air, pepohonan, rumput, bahkan benda mati, batu, kerikil, apapun yang berada di lingkungan sekitar kita memiliki medan energi ‘ruh’ yang saling mempengaruhi, termasuk mempengaruhi manusia.
Karena itu, ketika leluhur mengajarkan untuk menjaga hutan, menghormati laut, memelihara mata air, tidak sembarangan terhadap batu atau kerikil dan mengolah tanah dengan bijaksana, sesungguhnya mereka sedang mengajarkan cara menghormati Rera Wulan Tana Ekan, Sang Penguasa Alam Semesta.
Baca Juga:
Manusia – Ata Diken – bukan penguasa segala sesuatu yang diciptakan, baik benda mati maupun makhluk hidup, melainkan hidup harmonis dengan semua hal yang berada di sekitarnya.
Rera Wulan Tana Ekan menghadirkan KODA sebagai tatanan kehidupan. KODA kemudian mengajarkan manusia bagaimana hidup selaras dengan dirinya, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Penguasa Alam Semesta sendiri.
Ungkapan “Nepa Nolan jadi Tube Mange, Tube Mange Jadi Koda” menegaskan makna bahwa semua yang ada di sekeliling manusia memiliki kekuatan yang menghidupkan. “Nepa Nolan” tidak hanya tentang hasil panen. Lebih dari itu, Nepa Nolan adalah semua kebaikan yang ditawarkan oleh alam.
Baca Juga:
Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital
Ketika dimanfaatkan, masuk menyatu dalam tubuh Ata Diken, Nepa Nolan Kemudian bertransformasi menjadi Tube Mange. Tube Mange adalah nama lain dari jiwa yang memberi hidup – yang menghidupkan.
Maka pada masyarakat Lamaholot mengamini KODA dalam tatanan kehidupannya, menyadari persis bahwa Tube Mange adalah KODA. Tube Mange adalah bagian dari KODA.
Maka, ketika manusia melanggar harmonisasi dengan segala sesuatu di sekelilingnya, ketika manusia merusak alam, mencemari lingkungan, bahkan ketika merusak sehelai daun pun, itu bukan hanya kesalahan terhadap lingkungan. Merusak alam adalah melanggar KODA.
Baca Juga:
Dan melanggar KODA berarti merusak keteraturan yang berasal dari Rera Wulan Tana Ekan, Pemilik Alam Semesta.
Sebaliknya, menanam pohon, menjaga mata air, merawat laut, tidak mengambil hasil alam secara serakah, serta menggunakan sumber daya secukupnya bukan hanya tindakan ekologis. Semua itu adalah tindakan spiritual.
Dalam Filsafat KODA, relasi manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari relasi manusia dengan Rera Wulan Tana Ekan. Sebab manusia bukan pemilik alam. Manusia hanyalah penjaga yang menerima titipan.
Baca Juga:
Karena alam adalah titipan anak cucu kita, maka merawat alam adalah merawat keberlangsungan hidup generasi yang akan datang. Generasi yang menitipkan semesta, yang ketika tiba saatnya semesta memanggil setiap kita untuk pulang, titipan itu harus dikembalikan kepada anak cucu kita – generasi selanjutnya.
Leluhur Lamaholot telah mengajarkan jauh sebelum dunia mengenal istilah ekologi atau pembangunan berkelanjutan: alam harus diwariskan kepada anak cucu dalam keadaan tetap memberi kehidupan.
Karena itu, spiritualitas orang Lamaholot tidak hanya tampak dalam doa dan ritual adat, tetapi juga dalam cara memperlakukan tanah yang diinjak, air yang diminum, hutan yang dinaungi, dan laut yang memberi kehidupan atau bahkan hanya sekedar batu atau kerikil yang ditemuinya di pinggiran jalan.
Baca Juga:
Menjaga alam berarti menjaga KODA. Menjaga KODA berarti menghormati Rera Wulan Tana Ekan. Dan ketika manusia hidup selaras dengan KODA, alam tetap lestari, kehidupan tetap berlanjut, dan manusia dapat mencapai akhir hidup yang sempurna: Karo Kepo, Wai Mara.
“Moripet di toon KODA, matanet di toon KODA.” Hidup berada dalam KODA, dan kematian pun berada dalam KODA.
Leave a Reply