Penyuluh Pertanian: Dekat dengan Kelompok Tani tetapi Diremehkan di Ruang Publik

Ketahanan Pangan
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Di banyak pelosok Indonesia, ada sosok yang bekerja dalam senyap: menyusuri sawah, berdialog di gubuk kebun, dan duduk berlama-lama di balai kelompok tani. Mereka adalah penyuluh pertanian. 

Bagi petani, kehadiran mereka sering menjadi sandaran pengetahuan dan harapan. Namun di mata masyarakat luas, profesi ini justru kerap dipandang sebelah mata.

Paradoks ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kontribusi riil dan pengakuan sosial. Dalam kajian sosiologi, Pierre Bourdieu (1986) menjelaskan bahwa penghargaan sosial tidak selalu diberikan berdasarkan manfaat nyata, melainkan oleh konstruksi simbolik yang berkembang di masyarakat. 

Baca Juga: 

Status Boleh ke Pusat, Penyuluh Pertanian Tetap Berakar di Daerah

Akibatnya, profesi yang bekerja di ruang sunyi sering kalah pamor dibanding pekerjaan yang dekat dengan pusat kekuasaan.

Padahal, penyuluh pertanian menjalankan fungsi strategis sebagai perantara pengetahuan. Everett Rogers (2003) menyebut peran ini sebagai agen perubahan—yakni aktor yang membantu masyarakat mengadopsi gagasan dan teknologi baru. 

Dalam praktiknya, penyuluh tidak sekadar membawa inovasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan kapasitas petani.

Baca Juga: 

Kaum Muda dan Masa Depan Pertanian Nasional

Sejarah peradaban manusia memperlihatkan bahwa kekuatan bangsa selalu bertumpu pada kemampuan mengelola pangan. Jared Diamond (1997) menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat kompleks berawal dari keberhasilan manusia mengembangkan pertanian. 

Dengan demikian, siapa pun yang bekerja menjaga keberlanjutan pertanian sejatinya ikut menjaga fondasi peradaban.

Di Indonesia, mandat tersebut ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 yang memposisikan penyuluhan sebagai sistem pendidikan nonformal untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian pelaku utama. Artinya, penyuluh adalah pendidik di ruang produksi pangan.

Baca Juga: 

Mulus Jalan Swasembada Beras RI?

Namun, dalam praktik kebijakan, mereka sering berada di posisi rentan. Beban wilayah kerja yang luas, keterbatasan sarana, serta tuntutan administrasi menjadi realitas sehari-hari. 

Ironisnya, keberhasilan program jarang dikaitkan dengan peran mereka, sementara kegagalan kerap dialamatkan ke pundak mereka.

Paulo Freire (1970) menekankan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan, bukan sekadar mentransfer informasi. 

Dalam konteks ini, penyuluh pertanian menjalankan pendidikan pembebasan: membantu petani memahami situasi mereka, mengenali potensi, dan menentukan pilihan secara sadar.

Baca Juga: 

Keamanan Pangan dan Sejarah Perang Sparta vs Athena: Logistik Pangan Mengalahkan Kecanggihan Alutsista

Rendahnya penghargaan publik terhadap penyuluh mencerminkan krisis cara pandang kita terhadap kerja-kerja dasar kehidupan. Kita terlalu sering mengagungkan simbol jabatan, tetapi melupakan makna pengabdian.

Suluh peradaban memang tidak selalu menyala terang. Ia kecil, sederhana, dan kerap tersembunyi. Namun tanpa nyala kecil itu, gelap akan jauh lebih pekat. Bersambung…

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of