Eposdigi.com – Visi tentang Keesaan Gereja Kristus bergema kencang sejak Konsili Vatikan II (1963-1965) tidak saja dari ruang-ruang pergumulan Gereja Katolik tetapi juga dalam doa penuh kerinduan Gereja-Gereja Protestan sedunia. Upaya menuju Keesaan Gereja tidak berjalan mulus, terutama karena resistensi internal masing-masing Gereja.
Kelompok-kelompok konservatif dalam Gereja Katolik, misalnya, menolak tegas semua produk Konsili Vatikan II. Uskup Marcel Lefebvre dari Perancis sama seperti Paus Benediktus XVI (Kardinal Joseph Ratzinger dengan dokumen Dominus Iesus) adalah dua tokoh garis keras yang tidak mengakui keabsahan Gereja lain di luar Gereja Katolik.
Ketika Kardinal Karol Wojtyla, Uskup Krakow, Polandia terpilih menjadi Paus pada tanggal 16 Oktober 1978, ia memilih nama Johannes Paulus II. Nama „Johannes Paulus“ di belakang nama lengkap Johannes Paulus II yang diambil dari nama Paus Yohanes Paulus, pendahulunya yang hanya menjabat selama 33 hari, sebagai penanda bahwa ia akan meneruskan kebijakan pendahulunya sejak Paus Paulus VI yang mengawal Konsili Vatikan II (1963-1965).
Baca Juga:
The Good Samaritan Code Dan Manajemen Pelayanan RSUD Larantuka
Konsili Vatikan II menandai perubahan mendasar arah dasar perutusan Gereja Katolik sedunia memasuki abad 20 dan seterusnya.
Salah satu angin segar dalam keputusan Konsili Vatikan II yang dikenal dengan istilah „aggiornamento“ menunjukkan bahwa Gereja Katolik mulai sadar membaharui diri, dan, antara lain, membuka diri untuk mengakui dan menghargai kebenaran yang dianut oleh agama-agama lain (menghapus doktrin extra ecclesiam nulla salus = di luar Gereja tak ada keselamatan), dan membuka jalan bagi dialog ekumenis untuk menyatukan kembali Gereja-Gereja Kristus yang terpecah belah dan tercerai-berai.
Paus Yohanes Paulus II dari Polandia ini muncul dengan misi besar: membangun jembatan konstruktif untuk saling mendekati secara lebih intens dan saling memahami perbedaan-perbedaan historis-teologis terutama antara Gereja Protestan-Lutheran di satu sisi dengan Gereja Katolik Roma di sisi lain.
Misi ini dipersiapkan khusus menyambut peringatan 500 tahun Martin Luther di Jerman pada tahun 2017. Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther memasang Sembilan Puluh Lima Tesis-nya pada pintu gereja Wittenberg, Jerman – sebuah tanggal yang diperingati sebagai hari lahirnya Protestanisme.
Baca Juga:
Paus Fransiskus Wafat di Usia 88; Mengenang Pesan Inspiratifnya Tentang Pendidikan
Surat ekskomunikasi (bulla) terhadap Martin Luther dikeluarkan oleh Paus Leo X pada tanggal 15 Juni 1520. Luther diberi waktu 60 hari untuk menarik kembali ajarannya. Namun pada tanggal 10 Desember 1520 Martin Luther memilih membakar dan mencampakkan surat ekskomunikasi dari Paus Leo X di luar gerbang Elster di Wittember.
Perpecahan Gereja Katolik dan Gereja Protestan merupakan perpecahan terbesar kedua setelah perpecahan pertama tahun 1054 antara Gereja Katolik Roma di Barat dengan Gereja Katolik Bizantium di Timur yang berkedudukan di Konstantinopel (saat ini bernama Istanbul). Perpecahan kedua Gereja ini dikenal dengan sebutan The Great Schism (Skisma Besar).
Paus Fransiskus yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio, sepertinya memiliki misi khusus untuk menjalin dialog dengan saudara-saudara Muslim di seluruh dunia. Pilihan nama Fransiskus dan misi menjalin komunikasi dengan dunia Islam tidak terlepas dari konteks sejarah.
Baca Juga:
Menag Siapkan ‘Kurikulum Cinta’ Melalui Pelajaran Agama di Sekolah
Adalah Santo Fransiskus dari Asisi (2282-1226) yang berani menerobos ketegangan Perang Salib dengan pergi sendiri menemui pimpinan tentara Muslim di medan perang untuk membangun jembatan dialog bagi perdamaian dan mengakhiri Perang Salib yang menelan banyak korban jiwa dan harta itu.
Paus Fransiskus aktif mendorong dialog Muslim kristen antara lain dengan penandatanganan Deklarasi Abudhabi pada tanggal 4 Februari 2019 oleh paus Fransiskus dan Sheik Ahmed el-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar
Bagaimana dengan Paus Leo XIV?
Paus Leo XIV memiliki dua beban sejarah yang harus ditransformasikan menjadi misi spesifik perutusan masa kepausannya.
Paus Leo XIV dengan nama asli Robert Francis Prevost adalah seorang imam dari Ordo Agustinian, ordo yang sama yang membesarkan seorang Imam Katolik bernama Martin Luther sebelum ia memisahkan diri dan membentuk Gereja Protestan.
Baca Juga:
Gereja Protestan didirikan oleh seorang mantan imam Agustinian. Seorang Paus dari ordo Agustinian pula yang diharapkan membuka dan memperlebar jalan dialog menuju „keesaan Gereja“ bersama Gereja-Gereja Protestan. Seperti apa wujud Gereja yang Esa itu? Hanya Tuhan yang tahu.
Nama „Leo“ yang dipilih oleh Uskup Robert Prevort ketika dinobatkan menjadi Paus Paus Leo XIV juga memiliki beban sejarah lain yang lebih berat, seberat beban oikumene di pundak sang Paus: Leo yang mengekskomunikasi kan Luther, dan leo yang mengekskomunikasi kan Patriarch Michael Cerularius dari Gereja Timur di Konstantinopel.
Pada tanggal 16 Juli 1054 Paus Leo dari Roma mengirim sebuah delegasi ke Konstantinopel (kini bernama Istanbul). Delegasi itu masuk ke dalam Katedral Hagia Sophia (kini menjadi Masjid Raya Hagia Sophia) dan membentangkan maklumat Paus Leo di atas altar katedral Hagia Sophia.
Maklumat Paus Leo yang dalam istilah gereja disebut „bulla“ itu berisi deklarasi ekskomunikasi (pemecatan dan pemutusan hubungan) antara Gereja Katolik Roma (Barat) dengan Patriarc Michael Cerularius bersama semua pengikutnya dari Gereja Katolik Timur.
Baca Juga:
Paus Fransiskus Minta Maaf Atas Kekerasan Di Sekolah Katolik Pada Masa Lalu Di Kanada
Empat hari kemudian Patriarch Michael Caerulatus balas mengekskomunikasi Paus Leo dengan semua pengikutnya. Sejak itu muncul Gereja Bizantium yang kemudian berkembang menjadi banyak Gereja Ortodoks Ritus Timur hingga saat ini.
Perselisihan antara kedua pihak, jika dilihat dari kacamata saat ini, mungkin hanya terkait hal-hal yang tidak mendasar. Tetapi pada masa itu poin-poin perselisihan itu menyangkut hal fundamental dalam ajaran dan praksis Kekristenan.
Mereka berbeda pandangan pada saat itu, misalnya tentang tata cara puasa, tentang jenis roti yang digunakan dalam perayaan Ekaristi (perjamuan kudus).
Mereka juga berdebat tentang bahasa yang dipergunakan dalam liturgi: apakah memakai bahasa Latin atau bahasa Yunani. Mereka juga tidak sepakat tentang penggunaan berbagai icon (lambang-lambang suci dalam liturgi).
Baca Juga:
Perbedaan perselisihan teologis yang paling utama adalah soal Roh Kudus: apakah Roh Kudus itu „turun dari Bapak“ atau „turun dari Bapak dan dari Anak“. Para pihak masing-masing mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar dan menganggap yang lain sesat atau bid’ah.
Di atas semua ini sesungguhnya terdapat perselisihan tentang otoritas Gereja: apakah Paus di Roma memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Patriarch di Konstantinopel dan karena itu berkuasa atas semua Gereja, atau sebaliknya; Patriarch Konstantinopel lah yang lebih tinggi dari Paus di Roma.
Baca Juga:
Menimba Inspirasi Dari Paus Fransiskus Untuk Mendidik Lebih Baik
Ringkasan:
Pemilihan Nama Leo memiliki akar sejarah pada:
- Paus Leo dari Roma yang mengekskomunikasi Patriark Michael Cerularius dan umatnya sebagai penanda skisma pertama: perpecahan Gereja Katolik Timur dan Barat.
- Paus Leo X yang mengeluarkan surat ekskomunikasi kepada Martin Luther
- Paus Leo XIV dan Martin Luther sama-sama merupakan anggota Ordo Agustinian (OSA).
- Ada tren tiga Paus terakhir memiliki misi khusus untuk memulihkan keutuhan jubah Kristus yang sobek karena berbagai konflik dalam Gereja dan merintis jalan menuju Keesaan Gereja.
Paus Yohanes Paulus II membangun jembatan dengan Gereja Protestan-Lutheran. Paus Fransiskus membangun jembatan dialog dengan dunia Islam. Paus Leo XIV harus menyelesaikan pekerjaan rumah dialog dengan Gereja Protestan-Lutheran dan dengan Gereja Ortodoks di Timur – dan sudah dimulai penuh semangat persaudaraan.
Foto ilustrasi dari ucanews.com
Leave a Reply