Lewotobi Sesungguhnya Memberi Flores Timur Sebuah Laboratorium Alam

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

(Lanjutan dari Artikel Yang Tayang Kemarin)

Eposdigi.com – Kita memiliki kesempatan untuk mempelajari bagaimana material vulkanik baru berinteraksi dengan tanah tropis, bagaimana unsur hara dilepaskan, bagaimana mikroorganisme tanah kembali berkembang, bagaimana akar tanaman menembus lapisan baru, dan bagaimana fungsi tanah pulih dari waktu ke waktu.

Sayangnya, peluang ilmiah semacam ini sering hilang karena respons pascabencana terlalu berorientasi pada tindakan jangka pendek.

Padahal, penelitian terhadap abu vulkanik menunjukkan paradoks yang menarik, dimana material yang menghancurkan tanaman dalam jangka pendek dapat berkontribusi pada pembentukan tanah yang lebih subur dalam jangka panjang setelah mengalami pelapukan dan berinteraksi dengan bahan organik. 

Bahkan, kajian tentang pemanfaatan abu vulkanik sebagai bahan pembentuk tanah menunjukkan potensi kontribusinya terhadap penyediaan mineral dan penyimpanan karbon melalui proses pelapukan.

Paradoks inilah yang perlu dibaca secara ilmiah.

Erupsi menghancurkan ekosistem pertanian, tetapi material erupsi juga dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kembali ekosistem tersebut.

Namun, proses itu tidak otomatis terjadi. Proses pembentukan membutuhkan waktu, air, bahan organik, vegetasi, mikroorganisme dan pengelolaan manusia.

Saatnya membuat “peta kesehatan tanah” Lewotobi

Karena itu, Flores Timur membutuhkan lebih dari sekadar peta wilayah terdampak.

Kita membutuhkan Peta Fungsi Tanah Pascaserupsi Lewotobi.

Peta tersebut idealnya memuat ketebalan material, pH, C-organik, N, P, K, Ca, Mg, kapasitas tukar kation, tekstur, infiltrasi, erodibilitas, serta indikator biologis tanah.

Data tersebut kemudian dapat diintegrasikan dengan data produktivitas pertanian.

Dengan demikian, pemerintah dan petani tidak hanya mengetahui di mana abu berada, tetapi juga di mana tanah dapat segera dipulihkan, di mana membutuhkan ameliorasi, dan di mana membutuhkan rehabilitasi lebih lama.

Pendekatan semacam ini juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan menggunakan penginderaan jauh dan machine learning untuk memodelkan ketebalan deposit dan memprediksi kemampuan pemulihan lahan.

Ini penting karena luas wilayah terdampak terlalu besar untuk seluruhnya ditangani melalui pengamatan manual.

Jangan buru-buru mengembalikan tanah menjadi “normal”

Ada pelajaran penting dari Lewotobi, bahwa alam tidak bekerja dengan kalender proyek.

Tanah yang kehilangan fungsi hari ini mungkin membutuhkan beberapa musim untuk pulih. Karena itu, indikator keberhasilan rehabilitasi jangan hanya “berapa hektare sudah ditanami”.

Ukuran keberhasilan harus lebih dalam, yakni: apakah pH membaik? Apakah bahan organik meningkat? Apakah infiltrasi membaik? Apakah agregat tanah kembali stabil? Apakah akar mampu berkembang? Apakah aktivitas biologis tanah meningkat? Apakah produktivitas tanaman pulih tanpa ketergantungan input yang semakin besar?

Dengan kata lain, rehabilitasi lahan pascaerupsi harus berpindah dari pendekatan berbasis luas menuju pendekatan berbasis fungsi tanah.

Gunung Lewotobi telah mengubah lanskap pertanian Flores Timur. Tantangannya sekarang adalah bagaimana manusia membaca perubahan tersebut.

Kita tidak boleh hanya melihat abu sebagai sesuatu yang harus disingkirkan.Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa menyebutnya sebagai pupuk.

Abu adalah material geologis. Nilai agronomisnya baru dapat diketahui setelah kita memahami komposisi, ketebalan, interaksi dengan tanah awal, proses pelapukan dan respons tanaman.

Di antara dua pandangan itulah ilmu pengetahuan bekerja.

Masa depan pertanian di sekitar Lewotobi tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat petani kembali menanam, tetapi oleh seberapa baik kita memahami tanah yang menjadi tempat mereka menanam.

Jika tanah dipulihkan, pertanian mempunyai masa depan.

Jika tanah hanya dipaksa berproduksi, kita mungkin sekadar memindahkan persoalan dari satu musim ke musim berikutnya.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of