Sepak Bola dan Para Juara Sejati

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Hari ini ada peristiwa ‘besar’ di dunia sepak bola tanah air Witihama. Final Pamri Riangduli Open. POP Puhu juara 1. SIPO Oringbele juara 2.  Pertandingan finalnya rame luar biasa. Ada banyak ragam tingkah pengagung sepakbola yang teramati sebagai tanggapan atas peristiwa ‘besar’ itu.

Saya mengamati dari jauh, lewat Facebook. Bahwa adu kulit bundar ini ternyata mempunyai sisi lain. Sisi jenaka.

Kay Zidane dalam postingannya membagi gambar sisi lapangan yang dipenuhi oleh keramaian penonton. Narasinya menggelitik. “Menawane alape raan ekan peno gohuk kae ni”.. 

Bagi mereka yang mengerti arti bahasa Lamaholot ini, tentu memahami makna jenaka dalam kalimat tersebut. Apalagi ketika Kay Zidane menambahkan “Mio se langhone ulika Ake Beto mu..pia keteke gohuk kae”..

Baca Juga:

Selain Rusuh, Apa Prestasi Sepakbola Kita?

Kay Zidane menarasikan dalam kalimatnya yang sederhana nan jenaka bahwa Final Pamri Riangduli Open mengundang begitu besar animo penggemar sepakbola Adonara. Begitu banyak penonton memadati lapangan sepakbola di Desa Riangduli Kecamatan Witihama Pulau Adonara ini.

Narasi Kay Zidane terkonfirmasi dari banyak postingan tangkapan kamera. Penonton tidak hanya naik ke atas pohon untuk mendapatkan pandangan terbaik lapangan sepakbola. Penonton bahkan hingga naik ke atap masjid demi menikmati olah kulit bundar partai Final POP vs SIPO.

Hasil akhir 2:0, menutup Final Pamri Riangduli Cup dimana POP Puhu keluar sebagai juara 1. SIPO Oringbele juara 2. Penggemar SIPO banyak yang kecewa. Laskar Mirek; tim kesayangan mereka kalah.

Ada satu postingan lain, ungkapan kekecewaan pendukung SIPO yang menarik bagi saya. Sungguh jenaka narasinya.

Baca Juga:

Bima Sakti: Akhlak Pemain Sepak Bola Sangat Penting, Setelah itu Baru Ilmu Bermain Sepak Bola

Adalah Elwuran Deo Gratias. Menanggapi kekalahan SIPO, ia menulis di laman facebooknya “Perseftim dan Persebata kalah tu sa rasa Masih Bae. SIPO kalah ni sa rasa macam biji sebelah hilang o.”

Saya tertawa saat membaca postingan teman saya ini tadi sore. Dan masih tertawa ngakak membacanya lagi saat menulis ini.

Banyak terinspirasi dari tulisan Rate Riantoby di media ini dua hari lalu, saya ingin merekam jejak digital betapa jenakanya sepakbola di kampung halaman kami, dalam narasi yang lain.

Juara dalam kontestasi olahraga bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Saya melihat POP dan SIPO yang keluar sebagai juara pada PAMRI Rianduli Open sebagai sebuah kebanggaan. Begitu juga dengan banyak tim lain yang bertanding, entah menang, entah kalah.

Baca Juga:

Mengapa Pemain Bagus di Tim Sepak Bola Junior Tidak Bagus Ketika Bermain di Tim Senior?

Namun saya ingin mengambil sudut lain untuk memberi sedikit penekanan dalam memaknai juara sejati dalam konteks adu ketangkasan di dunia olahraga, terutama cabang olahraga sepopuler sepakbola.

Juara Sejati adalah atraksi yang indah mengolah bola, yang ketika ditonton orang mendatangkan decak kagum, hati senang dan terhibur.

Juara Sejati adalah mereka yang menjunjung tinggi sportifitas, bahkan ketika terjadi benturan keras dalam pertandingan masih bisa menunjukan keramahan dan keteguhan, kesabaran dan pengendalian diri, menerima konsekuensi sebuah pertandingan olahraga seperti sepak bola.

Juara sejati adalah mereka yang menanggalkan kesombongan ketika menang, dan sekaligus tidak jatuh depresi pada kekalahan. Mereka mengapresiasi semangat juang, entah kawan ataupun tim lawan, semangat olahragawan sejati.

Baca Juga:

Pelatih Sepak Bola Dipecat Karena Timnya Menang Terlalu Banyak

Juara sejati menunjukan sisi kemanusiaan yang murni dan tulus di atas lapangan. Menampilkan sikap-sikap elegan berupa pengendalian diri, keramahan, sikap memaafkan, sportifitas, dan perayaan pada hal-hal baik.

Dalam konteks kerinduan Rate Riantoby, juara sejati adalah suporter, penggemar sepak bola yang datang mendukung timnya untuk menikmati permainan sepakbola, bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan kemudian menjadi ‘beringas’ ketika ekspektasi jauh dari kenyataan.

Sepakbola harus menjadi cara bagi kita semua untuk menikmati hidup. Melepas lelah seperti gambaran nan jenaka Kay Zidane: “Menawane alape raan ekan peno gohuk kae ni” – memberi tempat bagi mereka yang rela meninggalkan kebun untuk menikmati hari-nya.

Baca Juga:

Di Indonesia: Pertandingan Bola Bukan Seni Mengolah Dan Mengontrol Emosi!

Olahraga adalah perayaan. Juara 1 atau 2 hanyalah angka. Pemenang sejati adalah mereka, entah penonton, entah pemain, yang tetap merayakan dan menikmati pertandingan bahkan jika bukan tim mereka yang menjadi pemenang.

Saya senang melihat supporter SIPO yang terus menari riang di lapangan. Barangkali banyak orang menganggap mereka sekedar menghibur diri karena kekalahan timnya. Lebih dari itu, saya melihat, sebuah perayaan yang melampaui angka-angka kemenangan.

Alih-alih rusuh, bukankah pesta seperti ini lebih baik? Semoga sepakbola kita adalah sebuah ajang wisata. Festival perayaan kehidupan, kemanusiaan, bagi setiap para penggemar olahraga. 

Foto postingan Ata Kiwan Pictures di faceebook, diubah dengan AI oleh Rate Riantoby

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of