Andaikan Saya Pejabat Bupati Flotim, Ketika Harus Merumahkan Ribuan Tenaga Kontrak Daerah

Opini
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Saya masih ingat. waktu itu musim kampanye pilbup. Saya menguliti janji BEREUN akan menaikan porsi anggaran untuk infrastruktur jalan.

Menurut BEREUN, angkanya baru 70 miliar sehingga BEREUN berjanji akan naikan 2 kali lipat artinya kisaran 140 Miliar.

Ternyata, kepemimpinan Yosni waktu itu sudah kasih anik anggaran infrastruktur jalan itu sudah sampai angka 140an miliar. BEREUN salting.

Kritikan saya kemudian mendapat respon balik melalui inbox. Dan melalui inbox, saya mengusulkan untuk merancang program khusus menyasar kaum muda dengan membuka pengajuan proposal usaha dalam bentuk kelompok. Proposal yang lolos layak dapat bantuan modal.

Membaca pemberitaan pemda Flotim akhirnya merumahkan 2000an tenaga kontrak, saya tentu tidak kaget.

Berharap ada solusi tetapi belum nampak sebab yang nampak baru keputusan merumahkan tenaga kerja yang hanya diupah Rp.800.000 per bulan itu. Miris.

Baca Juga:

Berharap Apa dari Para Pendamping Lokal Desa di Flores Timur dan Lembata?

Lalu apa? APBD 2023 sudah disahkan dan sudah barang tentu, belanja pegawai khusus tenaga kontrak tentu sudah dianggarkan. Lalu apa?

Andaikan saya penjabat bupati maka apa yang saya lakukan:

  1. Saya akan alihkan anggaran untuk belanja pegawai khusus tenaga kontrak ke anggaran bantuan sosial (pemberdayaan).
  2. Saya akan buka kesempatan pengajuan proposal usaha khusus untuk tenaga kontrak yang dirumahkan sesuai dengan perencanaan strategis daerah khusus sektor-sektor usaha yang mesti harus digenjot.
  3. Proposal-proposal yang lolos akan diberikan pendampingan khusus mulai dari kesempatan mendapatkan pelatihan seputar analisis kelayakan usaha/bisnis (memperkuat proposal usaha yang sudah diajukan), strategi pemasaran, manajemen usaha, tata kelola keuangan usaha (pembukuan), dll.
  4. Tidak hanya itu, ada juga pendampingan berupa asistensi keuangan usaha untuk mengukur kinerja usaha berdasarkan laporan keuangan. Apakah promosi perlu digenjot, modal perlu ditambah atau hal lain sesuai kinerja keuangan.
  5. Disediakan fasilitas untuk belajar, promosi produk, dll sekaligus sebagai rumah bersama.
  6. Program ini dilakukan secara bertahap. Ada tahap I, II dan III. Tahap pertama bisa lanjut tahap kedua jika masih ada tenaga kontrak yang mau mendapatkan kesempatan yang sama. Mendapatkan bantuan modal dan pendampingan usaha dari pemda.
  7. Saya yakin masih ada ruang dibutuhkan tenaga honor tetapi dengan sistem kontrak 3 bulan. Ruang ini diusahakan untuk bisa dibuka. Dengan demikian, masih ada kesempatan sekian orang masih bisa dipekerjakan dengan sistem kontrak tiga bulanan.
  8. Lain-lain bisa ditambahkan.

Kenapa saya kemudian berpikir seperti ini? Pendasaran saya ada pada data.

Data BPS menyebut, sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah sektor pertanian tetapi didominasi oleh tenaga kerja dengan  tingkat pendidikan tidak sekolah dan hanya tamat SD.

Baca Juga:

Mendorong BUMDes di Flores Timur Berproduksi

Sektor pertanian masih memiliki porsi yang mendominasi struktur PDRB yang walaupun kian tahun terus menurun dari angka 30% turun hingga 27%. Sementara sektor lain masih asik bersajojo. Maju tidak, mundur pun tidak. Tahun lalu naik, tahun ini justru turun.

Artinya, kualitas tenaga kerja disektor pertanian mesti ditingkatkan dengan mendorong makin banyak tenaga kerja terdidik bekerja disektor pertanian (pertanian mencakup sektor perikanan, peternakan, dll).

Data BPS ini juga memberi kita gambaran bahwa ternyata sektor usaha di Flores Timur belum ramah dengan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus seperti sarjana. Artinya, untuk bisa menjadi tenaga kerja di Flotim, tak perlu sekolah atau cukup tamat SD. Ruang garapan ada di sektor pertanian.

Kenapa? Sektor jasa dan industri pengolahan belum begitu berkembang. Data ini terbukti dengan dari persentase angka pengangguran dimana persentase tertinggi justru dengan ijazah D3-S1. Sementara tenaga produktif yang bekerja dengan status tidak dibayar (bantu ekonomi keluarga) masih terlalu tinggi.

Data ini bukan kemudian menjadi tantangan membuat kita terpuruk hingga menghembuskan slogan aneh “selamatkan kaum muda” tetapi harus diubah menjadi peluang. Caranya?

Baca Juga:

Tentang Mitigasi Bencana Setelah 30 Tahun Gempa Flores 12 Desember 1992

Kembali ke poin yang sudah diuraikan di atas dengan memanfaatkan aturan pusat yang tidak lagi memberi ruang pemda pekerjakan tenaga kontrak tanpa melalui penerimaan P3K.

Terakhir, tenaga kontrak yang rata-rata memiliki keahlian khusus dengan tingkat pendidikan minimal SMA itu mesti harus menjadi garda terdepan mendorong transformasi perekonomian Flores Timur dari terlampau mengandalkan sektor pertanian ke makin diimbangi dengan sektor jasa dan pengolahan hasil pertanian.

Begitu kira-kira. Jangan pura-pura!

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of