Warga Hadakewa; Dana Desa untuk Beternak Babi

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Adalah Qin Yinglin, seperti yang dilansir oleh cnbcindonesia.com (14/10/2019), lewat perusahaannya  Muyuan Foodstuff, berhasil menjadi salah satu orang terkaya di China. Ia menempati peringkat 69 orang terkaya tahun ini menurut Forbes. Total kekayaan Qin saat ini mencapai  Rp 194 triliun.

Bloomberg melaporkan, perusahaan ini memotong sekitar lima juta ekor babi setiap tahunnya. Padahal ketika membuka usaha peternakan babi pada 1992 silam, Qin memulainya dengan 22 ekor. Ia, saat itu hanya melayani pasar domestik.

Mungkin tidak bisa dibandingkan dengan pasar di Indonesia. Laman yang sama pada 18 September 2019, mengutip catatan BPS bahwa pada Semester I tahun 2019 ini tercatat Indonesia mengekspor 14.893,3 ton babi ternak ke Singapura. Dicatat pula oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2017 lalu, total eksor babi ternak mencapai 28 ribu ton. Angka ini senilai US$ 59,9 juta.

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari lansiran detik.com 16 Juli 2019, sudah mengekspor babi ke Timor Leste. Ada potensi yang bisa dikembangkan untuk memaksimalkan ekspor.  Hal ini yang menginspirasi  warga Desa Hadakewa di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengembangkan usaha peternakan babi dengan memanfaatkan program dana desa yang disalurkan pemerintah pusat.

“Usaha peternakan babi ini kami mulai 2019 ini melalui enam kelompok masyarakat yang sudah kami bentuk,” kata Kepala Desa Hadakewa Klemens Kwaman ketika dihubungi dari Kupang, belum lama ini.

Dia menjelaskan, pemerintah desa setempat telah mengalokasikan dana sekitar Rp17 juta kepada masing-masing kelompok untuk memulai usaha peternakan babi.

Tenak Babi warga Desa Hadakewa.

Dana tersebut, lanjutnya, digunakan untuk pembuatan kandang, pengadaan anakan babi dan penggemukan serta pengadaan pakan.

“Usaha ini sudah dimulai dan akan dipanen setiap empat bulan. Sekarang  bahkan sudah ada kelompok yang mulai memasuki massa panen dari hasil penggemuka,” kata kepala desa yang terpilih mendampingi Jokowi ke India awal September lalu itu.

Menurutnya, usaha masyarakat ini merupakan uji coba awal untuk memberdayakan warga setempat menerapkan usaha peternakan dengan cara yang lebih modern.

Dia menjelaskan, selama ini warga setempat memiliki usaha ternak namun secara pribadi di lingkungannya dengan pola lama sehingga hasilnya kurang produktif.

“Kandang babi yang diternak sendiri-sendiri itu juga dari kayu dan kurang tertata, kemudian pakan juga tidak diperhatikan bagaimana nutrisinya sehingga sampai satu atau dua tahun baru dipanen,” katanya.

Dia menambahkan, “Namun dengan pola baru di kelompok ini akan lebih produktif, kandangnya dibuat dengan baik, kualitas pakan juga diperharikan dan dapat bisa dipanen setiap empat bulan.”

Klemens mengatakan, usaha ini merupakan sebagai uji coba awal dan jika bisa membuahkan hasil yang bagus bagi perekonomian warganya maka selanjutnya kelompok usaha akan diperbanyak.

“Modal yang diberikan dari dana desa ini juga tidak dikembalikan tapi diputar kembali untuk memperkuat usaha dan keuntungan akan dibagi untuk para anggota kelompok,” katanya.

Mengingat potensi ekspor, pemerintah hendaknya belajar dari negeri jiran Malaysia. Mereka menyediakan kluster khusus untuk peternakan babi dengan pengolahan limba secara modern. Dalam konteks NTT lebih tepat jika peternakan terintegrasi dengan kebun. Dimana hasil kebun untuk kebutuhan pakan ternak sementara limbah dari ternak bisa untuk pupuk . Pola terintegrasi seperti ini, peternak dapat terbebas dari jeratan korporasi penyedia pakan. Dengan demikian biaya pakan bisa ditekan karena dihasilkan dari kebun sendiri. Jika biaya dapat ditekan maka margin keuntungan peternak dapat lebih besar. (Foto Kepala Desa Hadakewa (tengah) didampingi Gubernur NTT dengan Bupati Lembata.  Foto dari akun Facebook : Desa Hadakewa)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Warga Hadakewa; Dana Desa untuk Beternak Babi […]