Eposdigi.com – Papua adalah provinsi terluas Indonesia. Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini. Provinsi Papua sebelumnya bernama Irian Jaya yang mencakup seluruh wilayah Papua Bagian barat. Sejak tahun 2003, dibagi menjadi dua provinsi dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya dinamai Papua Barat.
Papua memiliki luas 808.105 km persegi dan merupakan pulau terbesar kedua di dunia dan terbesar di Indonesia. Provinsi Papua memiliki luas sekitar 421.981 km persegi. Pulau Papua berada di ujung timur dari wilayah Indonesia, dengan potensi sumber daya alam yang bernilai ekonomis dan strategis, dan telah mendorong bangsa-bangsa asing untuk menguasai pulau Papua.
Sebenarnya konflik di Papua sudah kerap terjadi. Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kerap melakukan berbagai kontak senjata dengan aparat. Korbanpun berjatuhan. Dan sayangnya masyarakat yang terjebak di antaranya kadang tidak tertangani dengan baik.
Papua membara lagi dua pekan terakhir kemarin. Gelombang aksi massa melanda Manokwari, Sorong, Fakfak, Nduga, Timika, Deiyai, Paniai, hingga Jayapura. Unjuk rasa yang sebagian besar berakhir ricuh itu menentang persekusi dan ujaran rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya jelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu. Insiden yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, yang melibatkan segelintir orang ini harus dibayar mahal. Selain kerugian materi atas rusaknya sejumlah fasilitas umum di berbagai wilayah di Papua, insiden tersebut juga telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.
Tidak bisa dipungkiri bahwa di setiap daerah, pasti akan menemukan konflik, hanya saja tingkatannya berbeda. Itu semua tergantung daerah masing-masing dalam mencegah, menghadapi dan menyelesaikan konflik itu sendiri. Di Kabupaten Kebumen misalnya. Selasa, 10 September 2019 lalu, terjadi bentrok anatara anggota TNI dengan warga. Pemicunya sengketa lahan.
Konflik adalah hal yang sangat dekat dalam interaksi setiap orang. Terutama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditengah keberagaman bangsa kita, konflik sosial pasti kerap terjadi. Termasuk konflik terkait Papua. Dan setiap konflik terutama yang terjadi di dalam masyarakat harus segera diatasi. Negara harus secepatnya hadir dan memberikan penanganan yang lebih tepat.
Dialog harus segera dibangun. Dan komunikasi dua arah ini harus menempatkan para pihak dalam posisi yang sama dan saling menghargai satu sama lain. Dalam konteks konflik Papua, pemerintah melakukan komunikasi intens kepada masyarakat Papua. Komunikasi secara intens bukan semata-mata saat terjadi konflik namun lebih sebagai kesempatan untuk saling mendengar dan memahami. Keinginan masyarakat Papua harus didengar. Dan setelah diutarakan harus ada komitmen bersama untuk membangun kebaikan bersama.
Perlu membangun komunikasi kelompok. Dalam keberagaman, semakin banyak dan beragam kelompok yang bersama-sama membangun komunikasi, makin sering timbul saling pengertian di antara mereka. Makin kokoh persatuan terbentuk.
Dalam konteks Papua, kelompok yang dilibatkan dalam komunikasi harus mewakili semua komponen di Papua. Masyarakat adat, kaum perempuan, mahasiswa, bahkan mereka yang dicap sparatispun harus dilibatkan dalam komunikasi ini. Komunikasi semua elemen ini untuk saling memahami, dan mendefinisikan tujuan bersama, saling mengenal satu sama lainnya, dan saling menerima sebagai sama saudara.
Cara terbaik mencegah konflik kedepan, termasuk di Papua adalah menerima dan menghargai perbedaan. Sebab secara kodrat Indonesia dianugerahi begitu ragam perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini adalah kekayaan batin Bangsa Indonesia. Bukan untuk dipertentangkan satu dengan yang lain. Namun diterima dalam harmoni Bhineka Tunggal Ika.
Yang terpenting adalah dalam interaksi sosial di masyarakat harus ada kesediaan untuk saling mendengar. Tanpa mencela apalagi menghakimi. Saling menghargai dalam perbedaan pendapat. Sebab sebagai anak-anak Ibu Pertiwi, kita dipanggil untuk sama-sama berbakti kepadanya. Mengusahakan kedamaian dan kesejahteraan bersama. Setidaknya jika ada seseorang yang berbeda pendapat , maka hargai pendapatnya. Begitu juga sebaliknya. Jika ini dilakukan kedamaian akan hadir dimana-mana. (Foto : koranprogresif.co.id)
[…] Ayo Baca Juga: Mencegah Konflik di Daerah dengan Dialog […]