Menggali Inspirasi dari Cara Finlandia Mengelola Sekolah Menengah Pertamanya

Internasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sekolah Menengah Pertama, dalam sistem pendidikan di Indonesia masuk dalam kategori pendidikan dasar 9 tahun. Seperti itu juga terjadi di Finlandia. Di sana kelas 7-9 dalam bahasa Finlandia disebut Ylakoulu (upperschool) atau Yla-aste (tingkat atas) tetapi juga masih dianggap pendidikan dasar.

Di level ini, meskipun para muridnya belum dewasa tetapi sudah mulai diberi perlakuan lebih mandiri. Oleh karena itu, berbagai kebijakan di luar urusan pengajaran, dengan sengaja dibuat oleh sekolah untuk menumbuhkan berbagai hal penting, untuk menjadi landasan pertumbuhan murid di tahap berikutnya.

Kebijakan-kebijakan tersebut sangat mempertimbangkan tahap perkembangan, kematanagan psikis dan kebutuhan pertumbuhan murid. Sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat yang kondusif untuk belajar, melainkan juga menyediakan iklim untuk bertumbuh bagi para murid.

Baca juga : 

Mengintip Orientasi dan Praktik Pendidikan di Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar Finlandia

Tulisan ini merupakan bagian dari dua tulisan sebelumnya yang mendapat respon positif dari pembaca, tentang pendidikan dasar di Finlandia. Dan nanti akan menyusul tulisan  tentang bagaimana Finlandia mengelola pendidikan di jenjang Sekolah Menegah Atas. Berikut ini uraiannya:

Murid diperlakukan sebagai orang yang mulai beranjak dewasa

Murid SMP adalah murid yang belum berada pada usia dewasa. Mereka sedang beranjak dewasa. Bagi mereka perilaku orang dewasa yang matang adalah bagian dari pembiasaan di mana orang dewasa memberi kesempatan untuk berperilaku dewasa.

Mereka memahami bahwa peran pembiasaan ke arah pendewasaan harus dilakukan oleh sekolah. Di Finlandia, pembiasaan ke arah kedewasaan dimulai dengan guru dan orang tua  harus mendengar dan menunjukkan penghargaan pada pendapat murid.

Oleh karena itu, jika ketika masih di SD, sekolah berkomunikasi dengan orang tua langsung melalui email orang tua, maka di kelas 7-9, sekolah berkomunikasi melalui kontak murid pada aplikasi Wilma melalui ponsel murid. Pada saat bersamaan, informasi yang sama juga dikirim ke kontak orang tua.

Ini adalah langkah orang tua dan guru berkomunikasi dengan murid sekaligus guru dan orang tua menunjukkan kepercayaan pada para murid.

Baca juga : 

Setelah Memperoleh Izin SD dan TK, Muhammadiyah Australia Colege Dapat Izin untuk Selenggarakan SMP

Hal lain yang dilakukan dalam rangka membuat murid bebas berpendapat juga dilakukan melalui kebiasaan di awal tahun ajaran untuk menetapkan nilai-nilai yang dianggap penting oleh sebuah kelas, untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar di kelas tersebut.

Melalui sesi menetapkan bersama nilai-nilai tersebut mereka menyepakati nilai-nilai seperti saling menghargai, bekerja sama, saling membantu, tanggung jawab, menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, keberanian  mengemukakan pendapat, saling menghormati, menjadi nilai bersama.

Nilai-nilai itu bukan diceramahkan atau dianjurkan oleh guru di awal tahun ajaran. Oleh karena itu  para murid pada umumnya bertanggung jawab untuk mencapai nilai tersebut sepanjang tahun ajaran. Kelas mereka lalu menjadi kelas yang kondusif untuk belajar sepanjang tahun.

Moving Class

Di SMP, moving class dilakukan dengan sengaja terutama karena mereka dapat memilih pelajaran sesuai dengan minat. Dengan demikian, untuk pelajaran yang berbeda para murid bisa masuk ke kelas yang berbeda-beda.

Baca juga :

Puluhan Murid SMP di Mataram Serang Murid SD Yang Sedang Belajar Hingga Ketakutan

Ini mungkin kepentingan praktis penyelengaraan pelajaran, tetapi di balik kepentingan praktis tersebut ada tujuan lain yang hendak dicapai. Dengan moving class tersebut para murid lebih terlatih mengembangkan keterampilan berinteraksi, berkolaborasi dan selalu berinisiatif.

Keterampilan berinteraksi, berkolaborasi dan berinisiatif sangat relevan dan sangat perlu dikuasai sebagai bagian dari tuntutan perkembangan. Ketika menekuni karir profesional nanti, kemampuan-kemampuan ini sangat diperlukan.

Kurikulumnya sangat berkesinambungan dan terencana

Jika dipelajari secara detail kurikulum dan program SMP Finlandia, sangat nyata terlihat bahwa semua proses yang dilakukan di SD menunjang dan berkesinambungan dengan proses di SMP, dan proses di SMP berkesinambungan dengan proses di SMA dan seterusnya di Perguruan Tinggi.

Kesinambungan antar jenjang tersebut pada akhirnya diperlukan karena yang ingin diwujudkan bukan hanya sukses di jenjang pendidikan saja, memperoleh nilai akademis yang tinggi saja, melainkan sukses dan bahagia dalam hidup.

Oleh karena itu kurikulumnya dibuat sangat berkesinambungan antar jenjang pendidikan, diikuti turunan program yang sangat detail dan terencana.  Misalnya di jenjang sekolah menegah ada SMA, ada SMK, dan bisa memilih langsung bekerja setelah lulus SMP.

Baca juga :

Mengkonsumsi 9 Jenis Makanan Ini Bisa Tingkatkan Kecerdasan Otak Anak

Oleh karena itu, di SMP desain kurikulumnya membuat murid disiapkan untuk mengambil keputusan yang tepat antara tiga kemungkinan tadi, apakah melanjutkan ke SMA, melanjutkan ke SMK, ataupun langsung bekerja.

Agar para murid disiapkan dengan baik, maka program turunannya di SMP sangat terencana. Misalnya untuk menyiapkan landasan memilih dengan baik, apakah memilih SMA atau SMK, di kelas 7 ada program bimbingan untuk menyiapkan murid memilih mata pelajaran di kelas 8 dan kelas 9.

Proses ini dilakukan di kelas 7 awal bukan di awal kelas 8 atau kelas 9. Ini dimaksudkan agar para murid lebih fokus, karena sejak awal mengetahui tujuannya. Dengan demikian proses belajar mengajar selama di SMP lebih efektif dan efisien.

Ada Program orientasi di dunia kerja

Pada umumnya dunia kerja akan dimasuki setelah orang lulus kuliah.  Butuh waktu paling cepat 7 tahun setelah lulus SMP, baru seorang murid memasuki dunia kerja. Meskipun dunia kerja masih jauh, namun orientasi dunia kerja menjadi salah satu program penting di SMP baik di kelas 7, kelas 8 maupun kelas 9. Tidak hanya itu, di kelas 8 dan 9 bahkan  ada program magang.

Di kelas 7, program ini berlangsung 1 hari, biasanya di tempat kerja orang tua. Sedangkan di kelas 8 dan kelas 9, kerja magang berlangsung selama 1 minggu, di tempat kerja yang diminati.

Baca juga : 

Chip Otak Neuralink Milik Elon Musk Dapat Ijin Implan Pada Manusia. Apa Dampaknya?

Selain sebagai orientasi dunia kerja, program ini juga untuk melihat perilaku murid dalam interaksi dengan orang dewasa, dalam menunaikan tanggungjawab, menggunakan komputer, menggunakan bahasa, dan mengatur waktu bekerja.

Melalui program ini masalah murid dikenali, kemudian didampingi, sehingga mereka terus bertumbuh. Remaja juga mengetahui bagaimana hidup orang dewasa dijalani, mengetahui dunia kerja yang diminati, dan tahu memilih mata pelajaran yang diminati di jenjang berikutnya.

Itulah empat hal yang menarik tentang bagaimana Finlandia mengelola jenjang pendidikan SMP-nya. Masih ada aspek lain yang menarik dari cara Finlandia mengelola pendidikannya. Mudah-mudahan bisa muncul melalui tulisan  berikutnya. Mudah mudahan menginspirasi. 

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com / Foto: liputan6.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of