Eposdigi.com – Bimbingan Konseling (BK) menurut Prayitno dan Erman Amti Menurut Prayitno dan Erman Amti, bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal.
Bimbingan Konseling terutama pada anak Sekolah Dasar dapat diberikan dalam berbagai bidang, antara lain bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Jika dibedah secara komprehensif, pemikiran kedua tokoh ini mengandung beberapa kata kunci filosofis yang mendasari seluruh aktivitas bimbingan Menurut Romia Hari Susanti, anak usia sekolah dasar termasuk berada dalam fase kesadaran karir.
Baca Juga:
Mendesak Diperlukan Unit Kerja Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Usia dimana anak mengembangkan berbagai potensi, pandangan khas, sikap, minat dan kebutuhan-kebutuhan yang dipadukan dalam konsep diri (self-concept structure)
Oleh karena itu pendidikan karir perlu diberikan sejak awal perkembangan individu dengan menggunakan berbagai jenis media bisa diaplikasikan dalam proses pemberian layanan ataupun pembelajaran kepada siswa.
Pelayanan Bantuan (Assistance Process) Kata “bantuan” di sini bukan berarti memanjakan atau mengambil alih tanggung jawab peserta didik. Bantuan yang dimaksud adalah stimulus psikologis dan edukatif agar peserta didik mampu mengenali potensi batinnya.
Konselor atau guru bertindak sebagai fasilitator, bukan penentu keputusan hidup siswa. Secara Perorangan maupun kelompok ini menunjukkan fleksibilitas pendekatan BK.
Baca Juga:
Layanan tidak melulu bersifat privat di ruang tertutup (individual counseling), melainkan bisa berbentuk dinamika kelompok (group guidance) yang memanfaatkan interaksi sosial antar-peserta didik untuk saling menguatkan.
Kemandirian yang optimal pemikiran Prayitno dan Erman Amti memandang peserta didik sebagai makhluk yang memiliki daya hidup (self-direction). Muara dari pelayanan BK adalah melatih kedewasaan berpikir, emosi, dan tindakan siswa.
Indikator kemandirian ini mencakup kemampuan mengenal diri sendiri, menerima lingkungan secara objektif, mengambil keputusan logis, serta mengaktualisasikan diri secara positif tanpa terus-menerus bergantung pada otoritas orang dewasa.
Keterikatan pada Norma proses bimbingan tidak bebas nilai. Segala bentuk pengembangan potensi harus berpijak pada norma agama, hukum, adat istiadat, dan nilai ilmiah yang berlaku di Indonesia
Baca Juga:
Banyak Anak SD Mengalami Depresi Namun Belum Ada Kebijakan untuk Mencegah
Oleh karena itu, konsepsi ini secara radikal menolak stereotip kuno yang memandang BK sebagai “polisi sekolah” atau ruang eksekusi bagi anak-anak yang bermasalah secara disiplin. Karena itu benar adanya bahwa Bimbingan Konseling adalah wadah penyemaian potensi, bukan ruang penghukuman.
Bidang Bimbingan Konseling (BK) Pada Anak Usia Sekolah Dasar
Pertama : Bimbingan pribadi (pengembangan karakter dan Self-Awareness)
Bimbingan pribadi adalah suatu layanan bantuan interaktif yang berfokus pada upaya membantu siswa sekolah dasar agar mampu memahami, menerima, mengarahkan, serta mengembangkan potensi, bakat, dan karakteristik unik yang ada pada diri mereka sendiri di tingkat sekolah dasar.
Karena itu bimbingan pribadi memegang peranan krusial sebagai fondasi pembentukan kepribadian anak (personality building).
Baca Juga:
Optimalisasi Peran Konselor Sekolah Atasi Darurat Kekerasan Seksual di Sekolah
Secara operasional, bimbingan ini membantu anak yang berada pada fase transisi emosional untuk mengenali kelebihan (keunggulan diri) dan kekurangan (keterbatasan diri) secara objektif.
Melalui pemahaman ini, siswa dibimbing untuk membangun rasa percaya diri (self-confidence) yang sehat, menumbuhkan konsep diri yang positif (positive self-concept), serta belajar mengelola emosi secara adaptif.
Anak usia SD sering kali mengalami letupan emosi seperti marah, kecewa, atau takut yang belum stabil.
Bimbingan pribadi mengajarkan mereka teknik-teknik regulasi emosi dasar, yaitu: Melatih kemandirian dalam merawat diri, melatih proses mengambil keputusan sederhana. Dan menanamkan nilai-nilai moralitas dan karakter mulia (seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Bersambung…
Tulisan ini terinspirasi dari makalah untuk Mata Kuliah : Bimbingan Konseling di Prodi PGSD – FKIP – Universitas Pamulang – Tangerang Selatan. Makalah merupakan Tugas Kelompok dengan Anggota : Alis Piyah, Agnesia Ruma Wara, Siti Hamidah dan Siti Najatul Salsabila. Diformat Ulang Oleh Penulis menjadi opini secara berseri di media ini. / Foto ilustrasi dibuat dengan bantuan AI
Leave a Reply