Penyuluh Pertanian : Ketika Peran Penyuluh Besar, tetapi Pengakuan Sosial Kecil

Ketahanan Pangan
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Ketahanan pangan nasional tidak lahir dari kebijakan semata, melainkan dari kerja kolektif jutaan petani. Di balik proses itu, ada penyuluh pertanian yang mendampingi, mengedukasi, dan menguatkan. 

Sayangnya, peran strategis tersebut belum sebanding dengan penghargaan yang mereka terima di ruang publik.

Pembangunan modern menempatkan manusia sebagai pusat. Todaro dan Smith (2015) menegaskan bahwa pembangunan seharusnya memperluas kemampuan manusia untuk mengelola hidupnya. 

Penyuluh pertanian bekerja langsung di jantung proses tersebut, karena mereka membantu petani meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri.

Baca Juga:

Penyuluh Pertanian: Dekat dengan Kelompok Tani tetapi Diremehkan di Ruang Publik

Hubungan penyuluh dengan kelompok tani sering bersifat personal dan jangka panjang. Namun, di luar komunitas petani, profesi ini kerap dipersepsikan sebagai pelengkap birokrasi. Pandangan semacam ini mencerminkan bias struktural terhadap pekerjaan lapangan.

Amartya Sen (1999) memandang kesejahteraan sebagai kebebasan untuk menjalani hidup yang bernilai. Tanpa pangan yang cukup dan berkelanjutan, kebebasan tersebut menjadi semu. 

Penyuluh, melalui pendampingannya, berkontribusi langsung pada pemenuhan kebebasan dasar itu.

FAO (2017) menekankan bahwa sistem penyuluhan yang kuat merupakan prasyarat bagi transformasi pertanian berkelanjutan. Artinya, melemahkan posisi penyuluh sama dengan melemahkan masa depan pertanian itu sendiri.

Baca Juga:

Status Boleh ke Pusat, Penyuluh Pertanian Tetap Berakar di Daerah

Persoalan penghargaan sosial bukan sekadar soal gengsi, tetapi menyangkut keberlanjutan profesi. Jika penyuluh terus dipandang rendah, minat generasi muda untuk menekuni bidang ini akan semakin menyusut.

Hannah Arendt (1958) mengingatkan bahwa kerja yang menopang kehidupan sehari-hari adalah fondasi keberlangsungan masyarakat. Penyuluh pertanian berada tepat pada ranah kerja tersebut.

Suluh peradaban tidak identik dengan sorotan kamera. Ia hadir dalam ketekunan, kesabaran, dan kehadiran yang konsisten. Menghargai penyuluh berarti mengakui bahwa peradaban dibangun dari bawah, bukan hanya dari atas.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of