Eposdigi.com – Baru beberapa hari kemarin (28/10) kita memperingati Sumpah Pemuda yang ke 97. Sumpah ini dirumuskan dan diikrarkan dalam Kongres Pemuda II yang menjadi tonggak penting persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Selain sumpah pemuda, isu penting lain yang dibicarakan dalam Kongres Pemuda ke II dalam rangka menyiapkan Negara Bangsa adalah isu pendidikan.
Tulisan ini hendak mengingatkan kita bahwa sejak zaman pergerakan, para aktivis sudah melihat pembangunan pendidikan tidak hanya menjadi salah satu jalan meraih kemerdekaan, tetapi juga menjadi syarat penting pertumbuhan berkelanjutan Indonesia sebagai negara bangsa, setelah Indonesia merdeka.
Kini setelah 80 tahun Indonesia merdeka, pembangunan pendidikan masih berada di pinggiran arus utama derap pembangunan bangsa. Pemerintah sebagai pewaris estafet perjuangan dari para Aktivis Pejuang kemerdekaan, harus melunasi utang sejarah ini. Pendidikan harus menjadi arus utama pembangunan seperti yang mereka cita-citakan.
Baca Juga:
Selanjutnya tulisan ini hendak menghadirkan Tokoh-tokoh Pemuda dalam Kongres Pemuda ke II yang mendorong isu pendidikan sebagai isu penting. Bahwa selain persatuan, pendidikan harus menjadi perhatian para Aktivis Pergerakan kemerdekaan dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan dan perjuangan setelah kemerdekaan.
Bahwa para Aktivis Pejuang kemerdekaan mempunyai kewajiban untuk memperjuangkan hak warga pribumi di tempat mereka masing-masing untuk mengenyam pendidikan, sebagai salah satu syarat penting untuk menuju Indonesia merdeka.
Membaca pemikiran mereka melalui tulisan ini, saya berharap, kita semua memiliki spirit untuk bersama-sama mendorong pengarusutamaan pembangunan pendidikan, sehingga pembangunan kita memiliki landasan yang kuat, untuk pembangunan berkelanjutan. Berikut uraiannya.
Baca Juga:
Tokoh Kongres Pemuda II yang menyoroti pentingnya pendidikan
Dalam pencarian, saya menemukan empat tokoh dalam rapat Kongres Pemuda II pada hari kedua (28/10/1928) berpidato mengenai pentingnya pendidikan dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Mereka adalah Sarmidi Mangoensarkoro, Poernomowoelan, Emma Poeradiredja dan Siti Sundari. Berikut masing-masing pemikiran mereka.
- Sarmidi Mangoensarkoro
Dalam pidatonya pada hari kedua, Mangoensarkoro menekankan pentingnya pendidikan kebangsaan, yang berlandaskan kebudayaan bangsa sendiri sebagai fondasi utama dalam mendidik generasi muda Indonesia. Menurutnya pendidikan kebangsaan adalah pupuk istimewa untuk menyuburkan pengetahuan anak-anak.
Baca Juga:
Siapa Sebenarnya Pencetus Nama Indonesia Untuk Pertama Kali?
Ia menekankan pendidikan kebangsaan harus bertujuan menanamkan rasa cinta tanah air, nasionalisme, dan karakter yang kuat, agar generasi muda dapat membawa bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan kemakmuran. Ia bahkan menganjurkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah, padahal baru diikrarkan sebagai bahasa persatuan.
Ia juga menggarisbawahi perlunya kesimbangan antara pendidikan yang diterima di sekolah, dan di rumah. Ia menekankan selain pendidikan di sekolah orang tua harus menjadi pendidikan yang utama dan pertama. Ia menekankan perlunya pendidikan yang demokratis oleh guru di sekolah dan orang tua di rumah, agar potensi anak dapat berkembang.
Selain sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan, ketika itu, ia adalah perumus kurikulum di perguruan Taman Siswa. Setelah Indonesia merdeka ia pernah menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dari tahun 1949-1950.
- Poernomowoelan
Ketika mendapat giliran untuk pidato, Poernomowoelan ikut menekankan perlunya pergerakan kemerdekaan memberi perhatian pada isu pendidikan. Ia seperti Sarmidi Mangoensarkoro menekankan pentingnya pendidikan kebangsaan bagi anak-anak pribumi untuk menanamkan nasionalisme dan rasa cinta tanah air pada anak-anak.
Baca Juga:
79 Tahun Indonesia Merdeka, Nasionalisme Pejabat Timbul Tenggelam
Ia juga menekankan keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah, dan dilakukan secara demokratis. Oleh karena itu ia menekankan guru dan orang tua harus memiliki sikap demokratis. Ini diperlukan agar tumbuh karakter yang kuat pada anak-anak. Menurutnya anak pribumi perlu memiliki identitas bangsa yang kuat.
Selain itu ia juga menekankan perlunya anak-anak dididik untuk membiasakan sikap tertib dan disiplin sejak dari rumah dan di sekolah. Menurutnya sikap disiplin adalah jalan bagi anak untuk memiliki daya tahan menghadapi tantangan perjuangan.
Poernomowoelan adalah seorang peserta perempuan Kongres Pemuda II, mewakili Pergerakan Taman Siswa dan seorang guru muda pada Perguruan Taman Siswa. Nampaknya inilah yang membuat ada kesamaan pemikiran tentang pendidikan dengan Sarmidi Mangoensarkoro seniornya.
Baca Juga:
- Emma Poeradiredja
Pejuang perempuan dari Kuningan Jawa Barat ini adalah peserta Kongres Pemuda II yang dalam pidatonya ikut menekankan pentingnya perhatian pada isu pendidikan dalam pergerakan kemerdekaan. Dalam pidatonya ia menekankan perlunya para aktivis gerakan kemerdekaan memberi perhatian pada pendidikan perempuan pribumi.
Dalam pidatonya ia juga mendorong kesetaraan perempuan dalam berbagai hal, terutama dalam pendidikan. Karena menurutnya perempuan adalah orang yang paling pertama dalam mendidik dan mengasuh anak. Jika perempuan dididik dengan baik generasi berikutnya akan terdidik dengan baik.
Selain itu, dalam pidatonya ia juga menekankan kepada kaum perempuan agar tidak hanya berbicara tetapi bertindak dan berbuat nyata, terutama dalam pendidikan dan pergerakan. Kelak ia menjadi perempuan pribumi pertama sebagai anggota Dewan Kota Bandung pada tahun 1938-1942.
Baca Juga:
- Siti Sundari
Siti Sundari, hadir di Kongres Pemuda ke II mewakili organisasi Putri Budi Sejati. Perempuan kelahiran Semarang ini dalam pidatonya menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan agar dapat berpartisipasi aktif dalam perjuangan bangsa meraih kemerdekaan.
Ia menekankan perlu pendidikan kaum perempuan lebih dini melalui pengajaran, melalui kepanduan, untuk membangun semangat nasionalisme. Ia juga mendorong agar perempuan tidak ragu-ragu mengambil kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Menurutnya pendidikan tinggi membuka kesempatan bagi perempuan untuk ikut menbangun bangsa.
Kata-katanya ini kemudian ia buktikan sendiri ketika mengambil peluang untuk belajar ilmu hukum di negeri Belanda. Kelak ia tercatat sebagai perempuan pribumi kedua yang meraih gelar sarjana hukum di Universitas Leiden Belanda.
Baca Juga:
Siapa Sebenarnya Tokoh Pengusul Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Persatuan?
Itulah pendidikan, pada zaman pergerakan kemerdekaan pendidikan menjadi alat menumbuhkan nasionalisme yang diperlukan dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sedangkan setelah merdeka, pendidikan diperlukan warga negara harusnya untuk melakukan mobilitas sosial.
Namun setelah 80 tahun Indonesia merdeka, masyarakat relatif lebih bebas mengenyam pendidikan dan menghasilkan puluhan ribu lulusan pertahun, urusan mobilitas sosial tidak selalu mudah dilakukan juga. Entah karena lembaga pendidikan tidak bermutu, atau karena secara keseluruhan negara ini memang belum diurus secara profesional oleh pemerintah.
Itulah utang sejarah yang harus dibayar oleh pemerintah, pada para pejuang kemerdekaan. Semoga semangat Sumpah Pemuda menginspirasi kita untuk mengurus lembaga pendidikan kita lebih profesional.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari redaksi / Foto dari detik.com
Leave a Reply